Sabtu, 23 April 2011

Cardan Part 7

Debo berjalan kearah Alvin dengan membawa seekor elang ditangannya.
“aku membawa sepucuk surat untukmu,” ujarnya sambil menyerahkan burung itu. “itu elang kerajaan, surat itu juga pasti dari sana”
          Alvin melepaskan segulung kertas yang terikat kuat dikaki kiri burung tersebut. Burung itu kemudian dilepaskan kembali keudara, terbang bebas menuju barat, kearah Hinkal. Elang kerajaan sungguh berbeda dengan merpati pos yang biasa dipakai orang biasa untuk berkirim pesan. Mereka dapat terbang secepat kilat.


          Dave dan pasukannya akan datang ketempatmu, ia ditugaskan Gabriel untuk mencari Cardan. Sebenarnya, ia sudah tahu tentang keberadaan pasukan kita, tapi ia tidak tahu bahwa Cardan tersebut ada ditempatmu. Kau tidak boleh memberitahukannya tentang itu.
         Dua hari lagi, aku akan mengunjungimu. Aku ingin tahu siapa sebenarnya Cardan itu.
Sivia Azizah


“Dave akan datang kesini,” ujar Alvin kepada Debo seraya menyerahkan surat yang dibacanya. “ia ditugaskan mencari Ray.”
“lalu apa yang akan kita lakukan?” tanya Debo
“seperti biasa saja, tapi kita tidak boleh memberitahukannya tentang Ray,” jelas Alvin tenang. “bilang saja, tak ada satupun dari kita melihat peristiwa kemarin.”
          Debo menganggukan kepala dan melipat surat tersebut. Ia pergi meninggalkan Alvin untuk memberitahu para pasukannya. Dari tadi, Alvin ternyata sedang mengamati Ray yang sedang berlatih dikejauhan. Ia sedang berpikir, apa yang harus diajarkannya. Pengakaran bela diri bisa diserahkan pada Debo dan Deva. Tapi, dengan seluruh pengalaman dan kematangannya, ia yakin dapat menggembleng kemampuan mental Ray yang menurutnya masih belum siap untuk menjadi seorang Cardan.
          Gita datang mendekati Ray. Ray tersenyum ramah kepadanya.
“ada apa, Gita?” tanya Ray ramah.
          Gita hanya menunjuk lutut Ray yang terluka karena pertarungannya semalam dengan Cakka.
“oh, kau mau memulihkan lututmu ini...,” ujar Ray yang kemudian duduk.
          Gita memegang lutut Ray yang terluka. Ia menggulung celana Ray perlahan dan membuka perban yang menutupi luka. Masih mengeluarkan darah, Ray merintih saat perbannya dibuka.
          Gita meletakkan tangan diatas luka tersebut dan menutup matanya. Ray merasa ada aliran hawa panas memijat lukanya. Perlahan sakitnya mulai berkurang, namun keringat mulai mengucur dari dahi Gita yang kemudian membasahi rambutnya.
          Setelah Gita merasa luka Ray pulih, ia mengangkat tangannya. Ray melihat lukanya yang sudah tidak mengeluarkan darah lagi.
“kau benar-benar hebat!” kagum Ray
          Gita menganggukan kepala dan merapikan celana Ray yang tergulung. Ray melepaskan tangan Gita dari celananya dengan lembut.
“tidak! Tidak. Biar aku saja yang merapikannya,” ujar Ray.
“terima kasih banyak atas semuanya!”
          Gita tersenyum kemudian berdiri. Setelah merapikan celana, Ray pun ikut berdiri
“sudah berapa lama kau punya kekuatan seperti itu?” tanya Ray lembut.
          Namun Gita hanya kembali menganggukan kepalanya dan pergi.
“hei! Kau belum menjawab pertanyaanku!” teriak Ray.
“ia tak dapat menjawabmu!” sela Alvin yang tiba-tiba muncul disebelah Ray.
          Alvin adalah seorang penyihir yang dapat memindahkan tubuh dalam sekejap. Sehingga ia dapat dengan tiba-tiba muncul atau menghilang.
“huh. Kau selalu mengejutkanku,” kata Ray.
“ini adalah kekuatan batinku. Aku dapat muncul dan menghilang dalam sekejap,” ujar Alvin. “kau tahu itu, dan kau sudah menemukan kekuatan batinmu kemarin.”
“itu yang ingin kutanyakan padamu, Alvin?”
“baiklah, semua makhluk mepunyai kekuatan batin yang berbeda. Seperti aku dan Cakka yang dapat melipatgandakan kekuatan dan kecepatan, Gita dapat memulihkan luka. Sedangkan kau dapat menggandakan dirimu sendiri,” jelas Alvin.
“namun tak semua bisa menggunakan dan mengendalikan kekuatan itu, kita haru menggali jiwa kita. Kini kau akan belajar mengendalikan kekuatanmu sekarang!”
          Ray langsung menyetujuinya. Alvin menyuruhnya duduk dan berkonsentrasi. Alvin mengarahkan Ray untuk masuk lebih dalam ke jiwanya. Ray menutup mata dan mencoba berkonsentrasi penuh. Kekuatan batinya kemarin dapat keluar karena amarah, kini ia harus belajar mengendalikannya.
          Sudah satu jam Ray berkonsentrasi untuk mengendalikan kekuatan. Alvin dengan sabar menemaninya. Ray telah mendapat pelajaran bela diri yang cukup dari Duta, hal itu memudahkan dirinya mengendalikan kekuatan barunya. Tak lama kemudian, timbul bayangan yang sesekali muncul dari tubuhnya. Alvin kembali menyuruhnya benar-benar berkonsentrasi. Akhirnya, kini timbul dua Ray dihadapan Alvin.
“sekarang, buka matamu perlahan,” ujar Alvin
          Ray membuka kedua matanya perlahan. Disampingnya, ada sesosok dirinya. Alvin meminta dirinya berdiri. Kemudian Ray dan sosok keduanya berdiri. Ray kembali berkonsentrasi dan kemudian sosok tersebut berjalan sesuai kemauannya. Tapi tak lama kemudian sosok tersebut menghilang dari hadapannya.
“kekuatanmu belum bertahan lama, kini beristirahatlah, lalu cobalah lagi,” ujar Alvin. Anak ini benar-benar istimewa. Ia dapat dengan begitu mudah mengendalikan kekuatannya. Sudah jelas, darahnya adalah darah ksatria. Warisan ayah dan kakeknya, bisik Alvin dalam hati.
          Ray tersenyum girang menyadari kemampuannya. Kini ia mempuyai kekuatan yang dapat dibanggakan. Ray melihat kedua telapak tangannya dan masih tak percaya pada kemampuan barunya. Dan baru kali ini ia merasa betah untuk tinggal di kamp pelatihan Alvin. Ia tahu, Alvin bisa menjadikannya seorang ksatria perang seperti yang telah lama diidam-idamkannya.
          Ray menundukkan tubuh kepada Alvin, guru barunya. Alvin menerima penghormatannya dengan balas emnundukkan tubuhnya kepada Ray. Kemudian, seperti biasa, ia menghilang dari hadapan Ray.
          Ray meloncat dan berteriak kegirangan. Debo dan Deva yang memantaunya dari jauh ikut tersenyum. Tapi bukannya beristirahat, ia kembali duduk dan berkonsentrasi untuk mengeluarkan kembali kekuatannya.
          Selang beberapa menit, lonceng penjaga kamp berbunyi, menandakan ada yang datang. Alvin yang sudah tahu akan kedatangan tersebut, siap berdiri di tengah perkemahan. Debo dan Deva menemaninya. Terlihat satu regu pasukan yang dipimpin oleh seorang pria yang kemudian berjalan menuju Alvin.
          Alvin menjabat tangan Dave, kemudian memeluknya. Debo dan Deva menyusul.
“apa kabar?” sapa Alvin pada kawan-kawannya.
“baik-baik saja. Bagaimana keadaan kalian disini?” jawab Dave yang kemudian memerintahkan pasukannya untuk beristirahat.
“luar biasa!” jawab Alvin, lalu memandu Dave menuju meja batu yang ada diujung kamp.
          Dave duduk, Alvin, Debo, dan Deva menyusulnya.
“sebenarnya, apa maksud kedatanganmu kemari?” tanya Deva.
“aku sedang mencari Cardan yang lahir kemarin.” Jawab Dave. “apa kalian mengetahuinya?”
“Cardan yang lahir kemarin?” tanya Deva lagi, berpura-pura tidak tahu apa yang ditanyakan Dave. Alvin dan Debo saling berpandangan.
“apa kalian tidak melihat peristiwa tempo hari?” lanjut Dave. “apa kalian tidak melihat cahaya merah yang menjulur ke langit?”
          Alvin, Debo, dan Deva menggelengkan kepalanya. Dave menarik napas panjang.
“huh..berarti aku benar-benar harus menyisir hutan ini untuk mencarinya.”
“sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Debo
          Kemudian Dave menjelaskan peristiwa yang terjadi dua hari lalu, juga tentang kegusaran raja Gabriel. Tapi tak lama kemudian, berhenti bercerita.
“sebenarnya apa yang kalian lakukan disini?” tanya Dave kepada ketiga kawan lamanya.
“apa Sivia belum menceritakan padamu?” tanya Alvin
“ya, sebelum aku pergi kesini. Ia sempat sedikit bercerita, tapi aku belum tahu tujuannya mempersiapkan kalian disini.”
“aku pun belum tahu tujuannya,” Alvin menjawabnya dengan tenang. “tapi aku sangat percaya kepadanya.”
“tidakkah engkau...?” tanya Alvin ragu-ragu kepada Dave.
“aku?” Dave mengerutkan keningnya. “aku percaya kepada Sivia, bahkan aku sangat yakin bahwa keputusan Sivia-lah yang membuat kita memenangkan perang Zonega.”
          Mendengar pendapat Dave; Alvin, Debo, dan Deva kebingungan. Mereka saling berpandangan, kemudian kembali mendengarkan Dave.
“ya! Saat kau berada digaris terakhir peperangan bersama Gabriel dan Sivia. Dan aku tahu bahwa Sivia merupakan tokoh utama dalam perang tersebut,” jelas Dave. “Joe dan aku yakin bahwa tokoh utama di Stars adalah Sivia, bukan Gabriel.”
          Dave, Alvin, Debo, dan Deva semakin hangat berbincang-bincang. Mereka membicarakan hampir semuanya. Alvin, Debo, dan Deva tak henti-hentinya bertanya tentang keadaan istana. Mereka bertiga belum lagi menginjakkan kaki di istana sejak dua tahun lalu. Sejak Little diserang oleh Moon, mereka bertiga diutus Gabriel pergi, membantu armada perang Little untuk mengusir Little dari sana. Dan setahun lalu, mereka mendapat titah dari permaisuri Sivia untuk meninggalkan Little dan mendirikan sebuah kamp pelatihan dihutan Dio.
          Tanpa mereka sadari, sejak tadi sesekali Dave memrhatikan Ray yang sedang melatih kekuatannya. Dari tempat mereka yang cukup tinggi, mereka dapat melihat hampir semua pasukan yang berlatih, tempat Ray berlatih memang tidak jauh dari tempat itu. Dalam waktu yang sangat singkat, Ray sudah bisa mengendalikan kekuatannya. Bayangannya sudah sapat ia kendalikan dengan baik, sesuai keinginannya.
“anak itu sangat berbakat!” ujar Dave yang kini tidak melepaskan pandangannya dari Ray.
          Debo terperanjat. Ia tidak ingin rahasia mereka diketahui oleh Dave, walaupun mereka sudah berteman sejak lama. Ia sangat menghormati titah permaisuri Sivia.
“oh dia..., anak itu salah satu dari banyak murid terbaik kami,” Alvin menyela dan mengantisipasi keadaan dengan sigap. “ia sudah berlatih disini selama lima bulan. Kini, ia dapat menggunakan ilmunya dengan mahir.”
“kalian telah mengajarnya dengan baik” Dave kagum akan didikan teman-temannya. “kalian akan melahirkan jendral-jendral baru.”
          Tak lama kemudian, Gita membawakan mereka buah-buahan dan sebotol anggur.
“ah, Dave! Kenalkan, Gita Tobing!” seru Alvin pada Dave.
          Gita meletakkan hidangannya, menjabat tangan Dave dan sedikit menundukkan bahunya.
“Dave Hendrik!” sapa jendral itu.
          Alvin kemudian berdiri merangkul Gita.
“ia adalah murid terbaik kami disini!” Alvin membanggakan Gita.
“Gita darimana asalmu?” tanya Dave hangat.
          Gita hanya terdiam dan kembali membungkukkan tubuh. Dave bertanya sekali lagi, tapi sekali lagi Gita hanya membungkukkan tubuhnya.
“ia tak dapat bicara,” jelas Alvin. “ia kutemukan direruntuhan gedubg saat Moon menyerang kota ini dengan keji. Keluarganya menghilang, maka kubawa dirinya kesini dan kulatih.”
          Dave terdiam setelah mendengar penjelasan Alvin tentang anak didiknya ini.
“terima kasih Gita, kau bisa kembali berlatih.” Kata Alvin mempersilakan Gita. Gita memberikan penghormatannya sekali lagi pada Dave dan ketiga gurunya, lalu ia pergi darisana.

Jumat, 15 April 2011

Cardan Part 6

Pagi ini Joe bersiap untuk pergi ke Little, tapi sebelumnya ia masih harus bertemu Acha. Ia menunggu Acha ditaman istana seperti biasanya. Sekarang, ia harus melakukan sebuah perjalanan yang cukup jauh, staminanya harus sempurna. Disebelahnya terdapat palu besi yang telah menjadi senjata andalannya sejak lama.
          Sebuah palu yang terbuat dari bongkahan besi besar. Memang sepintas tidak ada yang menarik, karena benda itu sama sekali tidak mengkilap seperti senjata-senjata ksatria lainnya. Hanya sebuah palu berukuran satu meter, mata palunya berdiameter sekitar 40 sentimeter dan terbuat dari besi hitam. Tapi, sampai sekarang, tidak ada yang tahu berapa berat benda itu sebenarnya karena hanya Joe yang mampu mengangkatnya. Dan semua orang tahu bahwa Joe adalah orang terkuat di Stars bahkan mungkin di daratan Garinka.
          Joe diberi mandat oleh raja Gabriel untuk melihat kondisi di Little. Selain itu, ia juga ditugaskan untuk turun membantu para jendral perang Stars yang telah berbulan-bulan memimpin  peperangan disana. Sebenarnya, dia sudah lelah berperang, namun belum ada seorang jendral  baru yang pantas untuk menggantikannya. Baginya, umurnya terlalu tua untuk berperang dan ia ingin segera pensiun dari kedudukannya.
“Joe!” teriak Acha sambil menghampirinya
          Joe merentangkan tangannya dan memeluk sang putri yang telah menjadi teman baiknya. Sang putri memeluknya erat dan tak kuasa untuk tidak meneteskan air mata. Joe pun merasakannya, ia membelai rambut Acha dengan lembut, tak lama kemudian ia melepaskan pelukannya.
“aku harus pergi.” Joe menyentuh pipi Acha yang sudah basah oleh air mata. “mereka membutuhkanku disana.”
“lalu siapa yang menjagaku disini?” tanya Acha. “siapa yang akan menjaga Hinkal bila kau pergi?”
          Joe tersenyum, kemudian ia melatakkan palunya dibahu kanan.
“Dave akan menjagamu dan Hinkal,” jawab Joe, lalu melangkahkan kakinya.
“aku tak mempercayainya!” bentak Acha sambil menghentikan langkah Joe dengan kedua tangannya.
          Joe dengan lembut menurunkan tangan Acha yang menahan dadanya. Kemudian, ia menggendong Acha dibahu kirinya. Sehingga kedua bahunya mengangkat dua beba yang berbeda. Dibahu kanannya terdapat palu besi senjatanya, sedangkan dibahu kirinya terdapat tubuh Acha yang masih tak merelakan kepergiannya. Joe melangkahkan kaki dan berjalan menuju gerbang istana. Disana raja Gabriel sudah menunggunya.
“kau telah dewasa dan aku yakin kau dapat menjaga dirimu sendiri,” ujarnya pada Acha yang dari tadi masih menangis dan sesekali memukul punggung Joe. “kini, Hinkal kuserahkan padamu,” ujar Joe sambil melepaskan Acha kembali.
          Digerbang utama istana, telah hadir para pejabat istana, permaisuri Sivia, pangeran Ozy, penasihan Winda, dan jendral Dave juga ada disana. Tampak Sivia dan Dave sedang bercakap-cakap. Gabriel dan Winda sedang memeriksa para pasukan yang akan berangkat. Sedangkan Ozy berdiri dengan kepala tegap. Raja Gabriel menyapa ramah para pasukan yang akan melaksanakan tugas darinya. Ia menjabat tangan mereka satu persatu.
          Tak lama kemudian, datang Joe yang masih menggendong putri Acha dibahu kirinya. Kedatangannya disambut hangat oleh Gabriel. Joe menurunkan Acha dari bahunya lalu menjabat tangan Gabriel.
“kalahka mereka, Joe!” ujar Gabriel.
          Joe menganggukan kepala dan tersenyum, walaupun ia tahu tugas ini berat baginya. Tugas yang membahayakan nyawanya karena ia harus turun lagi ke medan perang. Beberapa Jendral perang sudah berada digaris depan , membantu armada kerajaan Little mengusir pasukan Moon. Tapi semua itu belum cukup. Joe ditugaskan untuk membantu mereka. Gabriel tahu benar, bila Little jatu ke tangan Moon, maka kerajaannya akan berbatasan langsung dengan Moon. Setelah itu, hanya para dewa yang tahy apa yang aka terjadi.
          Kemudian Raja Gabriel berdiri tepat digerbang istana. Permaisuri Sivia, Winda, Ozy beserta para pejabat negara lainnya ikut berdiri dibelakangnya. Joe dan Dave berdiri sejajar dihadapan mereka. Acha masih saja menggenggam tangan Joe yang sebentar lagi akan berangkat. Duta yang juga menghadiri keberangkatan tersebut, menarik Acha dari sisi Joe. Gabriel dan Sivia terharu melihat kesedihan putrinya.
          Gabriel mengambil tongkat raja yang dari tadi dipegang Winda. Joe dan Dave beserta pasukan mereka berlutut. Raja Gabriel mengarahkan tongkatnya pada mereka.
“pergilah! Harumkan nama Stars! Dewi Furita akan selalu menyertai kalian!” titah Gabriel dengan tegas dan lantang.
          Ozy dan yang lainnya memandang Gabriel dengan kagum. Sungguh seorang raja dengan pesona luar biasa. Setelah Gabriel menyampaikkan pesannya, semua yang berada disana bertepuk tangan. Kini para jendral dan pasukannya siap untuk diberangkatkan. Dave sekali lagi menjabat tangan Gabriel dan yang lainnya. Joe mendekati Acha yang masih menangis disebelah Duta. Ia membelai rambut hitam Acha. Acha menudukkan kepala, tidak mau melihat kepergian Joe. Joe kemudian berjalan menuju raja.
          Dave dan pasukannya memeriksa senjata san kuda-kuda untuk terakhir kali. Regunya akan berangkat terlebih dahulu, sedangkan Joe hanya akan berangkat seorang diri. Kali ini, Ozy membusungkan dada dan ikut memeriksa pasukan. Permaisuri mendekati Dave dan membisikkan sesuatu. Setelah semuanya siap, untuk terakhir kalinya. Dave dan pasukannya membungkukkan tubuh kepada Gabriel. Gabriel menganggukkan kepala, kemudian Dave dan pasukannya berjalan keluar istana.
“Joe, sampaikan salamku untuk Dimas, Alvin, Debo, Zevana, Deva, dan Iwan,” ujar Gabriel kepada Joe. “pukul mundur musuh kita!”
“baik, yang mulia. Akan saya sampaikan, dan akan saya tunaikan tugas sebaik mungkin,” jawab Joe.
“sebaiknya begitu, Joe!” sela Ozy.
          Joe hanya tersenyum mendengar perkataan pangeran. Lalu ia menjabat tangan Gabriel dan Ozy. Dan istimewanya, Joe mendapat ciuman dipipi dari permaisuri. Wajah Ozy kikuk, wlaau Gabriel tampak biasa-biasa saja. Joe memejamkan kedua matanya dan perlahan sepasang sayap muncul dari punggungnya. Sayap yang panjangnya hampir dua meter dengan bulu-bulu merah tua yang sangat lebat. Joe telah siap untuk penerbangan panjangnya. Saul melipat kedua sayapnya lalu melompat, diketinggian hampir sepuluh meter ia kembali membentangkan sayap dan melayang di udara. Ia melayang dan terbang berputar diatas kota. Yang lain hanya memandang kagum.
          Tiba-tiba Acha ikut melompat dan terbang disebelah Joe yang masih terbang berputar. Gabriel, Sivia, Ozy, Duta, dan apalagi Winda gurunya terkejut melihatnya. Kemampuan Acha sangat berkembang pesat, hingga ia dapat menemani Joe terbang.
“Acha!!! Kau bisa terbang!!” ujar Joe bangga.
          Acha tak menjawab pertanyaannya. Air mata masih membasahi pipinya.
“sekarang, kembalilaah. Aku akan pergi sekarang. Aku menyayangimu aku akan menyelamatkan negeri kita,” lanjut Joe yang kemudian melesat dengan kecepatan yang tidak bisa dikejar sang putri. Hanya selang beberapa detik, Joe sudah tak terlihat lagi.

Cardan Part 5

Ray duduk disebongkah batu. Ia memikirkan tentang siapa sebenarnya dirinya dan sejarah keluarganya. Tadi, ia tidak sempat bertemu ibunya lagi, karena ibunya sudah kembali pulang ke Hinkal. Ray heran, mengapa ibunya tak pernah menceritakan tentang sejarah keluarganya. Ia baru tahu bahwa ia mempunyai darah Cardan dari kakeknya.
          Tanpa diketahui Ray, seseorang sedang mengamatinya dari belakang. Ia mengendap-endap, memanfaatkan gelapnya malam.
“kau sedang beruntung tadi!” ujarnya pada Ray yang sedang duduk, tepat dihadapannya.
          Ray langsung berdiri dan membalikkan tubuh. Ternyata, Cakka yang ada dibelakangnya dengan posisi tarung.
“Cakka, ada apa?” tanya Ray
“aku ingin pertandingan ulang!” geram Cakka, langsung menyerang Ray.
          Ray yang tak siap, terkena pukulan Cakka tepat diwajah. Ray tersungkur jatuh. Cakka melompat jauh diudara, lalu melesat cepat kearahnya. Ray berusaha menghindar, namun tendangan Cakka sudah mendarat ditubuhnya. Ia terpental jauh menabrak sebuah pohon sampai tumbang. Pohon itu jatuh, berdebum keras, dan membangunkan pasukan diperkemahan.
          Lagi-lagi, Cakka tak membiarkan Ray untuk bersiap. Ia sekali lagi menerjang Ray. Ray melawan, keduanya berguling, tak ada yang melepas cengkramannya. Mereka berguling menurui tanah landai, lalu mengenai sepotong kayu yang menghalangi mereka. Keduanya lalu terlepas. Mereka langsung berdiri. Kali ini Ray yang berinisiatif menyerang terlebih dahulu. Ia melancarkan pukulan dan tendangan berkali-kali. Cakka dapat menangkis dan mengelak, kemudian berganti menyerang. Ray pun berhasil menangkis dan menghindar.
          Sungguh sebuah pertarungan yang sengit dan sepadan bagi keduanya. Pertarungan kedua pemuda yang sama-sama mempunyai kecepatan diatas rata-rata manusia biasa. Merasa serangannya selalu dapat ditangkis dan dihindari Ray, Cakka melompat menjauh. Ia mengepalkan kedua tangan, kemudian seluruh badannya diselimuti asap berwarna ungu. Ray terbelalak melihatnya, lalu melangkah mundur, mencoba mengamati lawannya.
          Cakka kembali menyerang Ray yang sedang mengamatinya. Ia kembali melancarkan pukulan dan tendangan. Kali ini semuanya telak mengenai Ray. Entah apa yang terjadi, tapi sekarang kekuatan dan kecepatan Cakka berlipat ganda, sehingga sukar bagi Ray untuk dapat menangkis atau menghindarinya. Berkali-kali tubuhnya terkena serangan Cakka. Cakka terus menyerang Ray yang bersusah payah menepis serangannya. Dan akhirnya, ia menendang kepala Ray dengan lututnya, membuat Ray kembali terpental jauh.
“kekuatan apa itu?” ujar Ray dalam hati sambil memegang pelipisnya yang baru saja ditendang Cakka.
“RAY!!!! Temukan kekuatan batinmu!” teriak Deva yang ternyata telah berada diatas mereka, menyaksikan pertarungan tersebut dari tadi. Ia terbang diudara mengendarai Warcliff.
“kekuatan batin?” ujar Ray lagi dalam hati.
          Tiba-tiba, Cakka telah berada dihadapannya dan kembali memandang pelipisnya. Ray terpental lagi, ia menjadi sangat kesal. Ia berlari menuju Cakka, namun tiba-tiba Cakka menghilang. Ray bingung, kemudian melihat sekeliling mencari lawannya. Ternyata Cakka tadi melompat keatas, dan kini telah kembali ke tanah. Ia tepat ada dibelakangnya, kemudian kembali mementalkan lawannya dengan tendangan.
“SUDAH CUKUP!” teriak Ray yang kali ini sudah benar-benar kesal dengan pertarungannya.
          Ia berlari secepatnya menuju lawannya. Cakka yang merasa diatas angin tidak berusaha melompat lagi, malainkan menunggu Ray dengan kuda-kuda terbaiknya. Ia menunggu saat yang tepat untuk melancarkan pukulan terakhirnya, yang diyakinkannya dapat menaklukkan Ray.
          Pikiran jernih Ray sudah tersapu kekesalan, ia berlari ke arah Cakka dengan kecepatan yang sukar ditangkap mata manusia biasa. Cakka berpikir bahwa ia sangat diuntungkan bila emosi Ray sudah meletup. Ray akan sangat lengah.
          Cakka mendapat sebuah sela. Tanpa pikir panjang ia mengambil kesempatan untuk dapat memukul lawannya yang sedang berlari kearahnya. Ia melompat melesat kearah Ray. Hampir terjadi sebuah tabrakan yang luar biasa karena keduanya sama-sama berkecepatan luar biasa. Ketika jarak keduanya telah begitu dekat, Cakka mulai melepaskan tinjunya tepat didada Ray. Namun, kali ini, Ray menduplikasi dirinya menjadi dua, dan langsung berkelit tepat saat Cakka melepaskan serangan kedadanya, sehingga Cakka hanya meninju Angin. Deva mengangkat kedua tangannya, bersorak senang melihat hal ini.
          Cakka terkejut. Kini, ia harus menangkis serangan Ray yang berlipat ganda. Kedua Ray menyerangnya dari dua arah. Kini, pertarungan kembali seimbang. Cakka yang telah melipat gandakan kemampuannya berhadapan dengan Ray yang telah menduplikasikan dirinya.
          Kali ini Cakka kelimpungan melawan Ray. Ia harus melawan, tidak hanya dua tangan dan dua kaki lagi, melainkan empat tangan dan empat kaki. Ia sulit memfokuskan pikirannya yang kini terbagi dua. Kini, ada dua lawan yang harus diahadapinya. Karena kewalahan, Cakka berkali-kali terkena serangan Ray. Kini ia terpelanting dari kanan ke kiri, terkena tendangan dari kedua Ray yang berada dikiri dan kanannya. Asap yang menyelimutinya mulai menghilang, kekuatannya pun mulai berkurang.
          Melihat itu, Deva terjun dari Warcliff. Sesampainya ditanah, ia berteriak menghentikan pertarungan tersebut. Kemudian membentuk lingkaran api yang berdiameter cukup luas, membuat tanah yang mereka injak bergetar, hingga Ray dan Cakka terjatuh. Alhasil, Ray pun menjadi satu lagi. Walaupun demikian, Ray dan Cakka kembali berdiri berhadapan, siap bertarung lagi.
“SUDAH!!” teriak Deva
          Keduanya terdiam namun masih saling berhadapan dengan pandangan yang melukiskan kemarahan.
          Tiba-tiba, Alvin Jonathan muncul diantara mereka dan langsung  menampar kedua pemuda itu.
“apa yang kalian lakukan?” tanya Alvin geram.
          Cakka dan Ray masih saling memandang walau Alvin telah berada diantara mereka.
“kau! Apa yang kau pikirkan?” teriak Alvin kepada Cakka. “kau seharusnya memberi kesan yang baik!” lanjutnya.
          Cakka melangkah mundur, kemudian membalikkan badannya dari Alvin.
“jadi, kini kau membela anak baru ini?” tanya Cakka, yang langsung berlari menuju pepohonan dan menghilang. Deva melompat dan kembali mengendarai Warcliff yang dari tadi  belum turun ketanah, untuk mengejar Cakka.
“jangan dikejar!” perintah Alvin kepada Deva.
          Mendengar itu, Deva mengurungkan niat, lalu mengendalikan Warcliff untuk turun. Alvin memandang Ray dengan kesal. Ia kecewa degan Cakka dan Ray, karena keduanya seharusnya berteman. Mereka mungkin akan jadi rekan sepadan dalam peperangan. Selain itu, sebenarnya ia juga khawatir bila pertarungan tadi akan menimbulkan luka yang cukup parah bagi keduanya.
“dan kau...kembali ke tendamu!” ujarnya pada Ray yang masih menahan sakit disekujur tubuhnya.
          Ray menurutinya dan berjalan menuju kemahnya.
          Deva mendekati Alvin yang masih sangat kesal. “tadi itu, pertandingan terhebat yang pernah kulihat,” ujar Deva pada Alvin. “ pertarungan antar calon ksatria besar”
“lalu apa yang kau amati?” tanya Alvin
“Cakka berkembang sangat pesat, sekarang ia pantas untuk berada digaris paling depan.”
“dan Ray?” tanya Alvin lagi
“kurasa Duta telah melahirkan seorang petarung hebat lagi. Ray pun pantas untuk berada digaris depan. Dan kau tahu, tadi ia berhasil menemukan kekuatan batinnya,” jelas Deva bersemangat. Ia benar-benar menikmati petarungan tadi.
“apa bentuk kekuatan batinnya?” tanya Alvin yang kali ini benar-benar menyimak cerita dari rekannya.
“ia dapat membuat dirinya menjadi dua,” jawab Deva sambil melipat kedua tangannya. “dapatkah kau bayangkan, bila keduanya bersatu digaris depan, kita mempunyai dua ksatria hebat yang akan sulit untuk dikalahkan.”

Cardan Part 4

“Joe, apa yang sebenarnya sedang terjadi?” tanya Acha kepada jendral besar yang juga merupakan sahabatnya itu.
“hanya ayah dan ibumu yang tahu, tuan putri.”
“tapi, bisakah kau ceritakan siapa yang datang semalam dan apa yang diceritakannya?”
          Joe lalu duduk dikursi kayu yang ada di taman istana. Mereka berdua sedang berada ditaman istana yang sangat asri, dihiasi ratusan tanaman bunga dan pancuran air. Burung-burung merak dan kijang berkeliaran bebas disini, terpelihara dengan baik. Mereka sudah jinak, tidak terganggu lagi dengan kehadiran manusia.
“namanya Duta, ia adalah veteran perang Zonega. Kebetulan kejadian kemarin terjadi di ladang anggurnya.”
“lalu apa katanya?” sela Acha ingin tahu.
“telah lahir seorang Cardan baru, dan Cardan itu mempunyai kekuatan Sanggu.”
“kau seorang Cardan, bukan?” tanya Acha
          Joe menganggukan kepalanya.
“lalu, apakah kau mengalami kejadian seperti kemarin saat kau terpilih menjaddi seorang Cardan, cahaya merah yang menjulur sampai langit?” lanjut sang putri
“tidak, karena itulah Cardan yang satu ini pasti seorang yang sangat istimewa,” jawab sahabatnya itu.
“istimewa?”
“ya....Duta mengatakan bahwa Carddan ini akan menjadi pahlawan Stars, dan ayahmu membetulkan perkataannya.”
“aku mengerti kegusaran ayah sekarang,” balas Acha, yang hari itu terlihat anggun dengan gaun panjang berselimut sweater kesayangannya, berikut syal hitam dari bulu domba. Pakaian yang sedehana bagi seorang putri mahkota. Memang begitulah dirinya, selalu nyaman memakai pakaian yang tidak mencerminkan statusnya.
“mengerti?” kali ini Joe yang bertanya.
“tentu saja, Joe! Ayah dan ibu pasti sangat gusar, karena menjadi pahlawan membutuhkan sebuah kemenangan! Dan sebuah kemenangan membutuhkan pertempuran...,” jawab Acha semangat.
“aku benci bila kau benar... bila itu terjadi, kita akan mengalami peperangan lagi...,” ujar Joe dengan kepala tertunduk..
          Acha baru menyadari akibatnya bila perkataannya itu menjadi nyata. Rakyat yang dicintainya akan sangat menderita. Gadis itu meraba keningnya,”Joe! Mari kit hentikan perang ini!”
“caranya?” tanya Joe yang masih menundukkan kepalanya.
“itu yang akan kita cari.”
          Kemudian Acha pergi berlari menuju istana, meninggalkan Joe yang masih duduk dengan kepala tertunduk. Sungguh pemandangan aneh, seorang perwira perang tertinggi menundukkan kepalanya setelah mendengar kata perang.
“aku benci jika harus berperang lagi...,” gumam Joe, kemudian mengepalkan tangannya dan memukulkannya ke tanah.
          Tanah disekitar taman tersebut bergetar, pancuran-pancuran pun berhenti menyemburkan air. Joe berdiri dan menengadahkan kepalanya, memandang langit.
“kasihi kami...”
***
          Acha sudah berada didepan pintu ruang belajar Ozy, kakak lelakinya. Dengan berat hati ia mengetuk pintu ruangan tersebut.
“siapa?” terdengar suara Ozy dari dalam.
“Acha,” jawabnya.
“masuklah!”
          Kemudian Acha membuka pintu dengan perlahab, ia memasuki ruangan belajar kakaknya. Ruangan ini terlihat seperti perpuastakaan pribadi dengan puluhan rak yang berisi buku-buku hukum, pemerintahan, dan sejarah. Ruangan yang sebenarnya cukup luas terlihat sangat sempit karena rak buku yang tingginya sampai menyentuh langit-langit ruangan. Ozy Adriansyah, dengan gayanya yang khas, sedang membaca dimeja belajarnya yang besar dan kokoh. Kepalanya menunduk, dahinya ditopang tangan kirinya yang terletak diatas meja, tangan kanannya memegang buku tua, siap membalik halaman-halamannya yang sangat tebal. Rambutnya berantakan, kacamata bacanya merosot turun dihidungnya. Sebagai anggota kerajaan yang terhormat, penampilannya menunjukkan bahwa ia siap menjadi raja.
          Mengetahui kehadiran Acha di ruangannya, Ozy hanya memicingkan matanya. Senyumnya singkat dan dingin.
“ada angin apa ini? Apa yang membuatmu sudi datang kemari?” ujar Ozy sambil menutp buku tebal yang sedang dibacanya.
          Acha duduk di sofa merah yang dilapisi kulit binatang yang terletak didekat meja kakaknya. Bulu kuduk Acha sedikit merinding saat duduk, ia membayangkan teriakan binatang ketika dikuliti untuk sofa itu.
          Ozy berkata tanpa mengarahkan pandangan padanya. Acha tahu bahwa kedatangannya akan dianggap sebagai gangguan .
“aku mempunyai sebuah pertanyaan.”
“pertanyaan? Mengapa kau bertanya padaku?” tanya Ozy yang tidak menaruh perhatian penuh kepada adiknya.
“sudahlah...ini benar-benar penting. Ini tentang masa depan kerajaan kita!” bentak Acha yang sudah mulai jengkel dengan perlakuan kakaknya.
“kau ingin bertanya tentang peristiwa kemarin?”
“ya, kukira kau dapat menjelaskan padaku.”
“tentunya aku dapat menjelaskannya. Aku telah membaca ratusan buku sejarah. Tidak sepertimu, menghabiskan waktu dengan berlatih sihir atau jalan-jalan, menyamar sebagai rakyat biasa dikota,” ujar Ozy sombong.
          Acha menghela napas panjang.
“seorang Cardan murni telah lahir kemarin. Cardan yang benar-benar dipilih oleh para Dewa dan Dewi. Konon, ia adalah titisan bintang-bintang yang ada dilangit kita. Biasanya Cardan terlahir bila ada penyatuan antara sebuah batu yang terlempar dari bintang tertentu dan jiwa seseorang yang dipilih oleh batu tersebut. Cardan kemarin itu adalah Cardan yang terlahir dari penyatuan, tidak hanya batu dan jiwa, tapi juga dilengkapi urapan bintang-bintang tadi”
          Acha memerhatikan penjelasan kakaknya. “jadi, menurutmu, apa yang akan terjadi? Apakah itu hanya peristiwa biasa?” tanya Acha datar.
“kau betul-betul bodoh! Kau kira peristiwa itu terjadi tanpa tujuan?” bentak Ozy yang sepertinya kesam mendengar pertanyaan adiknya.
          Kali ini Acha terdiam, mungkin ia baru menyadari betapa kurang pengetahuan sejarahnya. Baru kali ini ia menganggap waktu dilewatkan oleh kakaknya tidak sia-sia.
          Ozy menaikkan alisnya. “terakhir, peristiwa itu terjadi puluhan tahun lalu. Saat daratan Garina masih dalam zaman kekacauan. Saat bangsa Moon masih menjejakkan kakinya di Garinka.”
“Moon?” tanya Acha polos.
          Ozy memalingkan muka dari adiknya dan menyandarkan tubuhnya.
“Moon adalah bangsa yang berbeda dengan kita, mereka menyembah Natu, Dewa kegelapan. Ibu biasamenyebut mereka bangsa biadab,bangsa yang menyukai kekacauan.” Lanjut Ozy. “jadi, dahulu kaken-nenek kita berjuang mengusir Moon dari Garinka, karena sudah beratus-ratus tahun kedua bangsa ini tidak pernah damai. Keduanya selalu berusaha saling menyingkirkan. Dan akhirnya, tiga puluh tiga tahun lalu, mereka berhasil mengusir bangsa Moon. Bangsa Moon lalu mendiami negeri Ghaine yang konon sangat tandus dan bersuhu sangat panas. Peperangan itu dimenangkan Grinka karena Cardan murni pada saat itu berhasil membunuh Siafrik, pemimpin pasukan Moon.”
          Acha mengengguk-anggukan kepala mendengar penjelasan kakaknya.
“lalu peristiwa kemarin...menurutku, bangsa Moon akan datang lagi ke negri kita. Seperti dua puluh tahun lalu ketika perang Zonega berkecamuk, namun mungkin kali ini...”
          Tiba-tiba jam besar yang ada diruangan tersebut berdentang dua belas kali. Ini waktunya semua anggota keluarga istana bersantap siang di balkon keluarga. Seperti yang mereka lakukan setiap hari.
“waktunya makan, mungkin akan kita teruskan lain kali,” ujar Ozy, kemudian ia berjalan keluar ruangan, putri Acha masih duduk di sofa.
“kau tidak ikut?”
“nanti aku menyusul.” Jawab Acha. “kak, bolehkah aku meminjam buku yang menceritakan semua itu?”
“silakan, tapi kau harus mencarinya sendiri. Aku ingin segera makan sekarang. Perutku sudah dari tadi menahan lapar.”
***
          Kali ini Duta mendapatkan pelayanan yang sangat jarang didapatkannya. Ia duduk bersama anggota kerajaan dan orang-orang penting Stars. Piringnya penuh dengan hidangan, hampir semua makanan yang tersaji sudah ia taruh dipiringnya.
“Dave, apakah kau sudah menyiapkan pencarian Cardan?” tanya Gabriel kepada Dave.
“sudah, yang mulia! Ada lima pasukan berkuda dan tiga pasukan terbang. Dan semuanya berada dibawah komando saya.”

“lalu, bagaimana dengan rencanamu?” Gabriel kembali bertanya.
“saya akan menyisir setiap sudut Hutan Dio. Saya sangat yakin ia berada disana,” jawab Dave.
          Mendengar hal itu, Sivia menyela pembicaraan suami dan perwiranya.
“apa kau benar-benar yakin ia berada di hutan Dio? Dan bagaimana kau dapat menemukannya dihutan yang selebat dan seluas itu?”
“saya yakin, permaisuri. Hutan Dio adalah tempat persembunyian terbaik di wilayah ini, dan saya kira ia pasti bersembunyi disana. Permaisuri tak perlu memikirkan cara pasukan saya menemukannya, permaisuri dapat mengandalkan orang-orang pilihan saya,” jawab Dave tegas.
          Acha datang sembari memeluk dua buah buku yang sangat tebal. Ia menaruk kedua buku itu dimeja, membuat meja makan tersebut bergetar.
“Acha, ada apa?” tanya Gabriel yang merasa aneh melihat putrinya membawa buku-buku setebal itu.
          Acha menyeka dahinya yang berkeringat.
“ia ingin mendalami ilmu sejarah, ayah! kupinjamkan beberapa buku untuknya,” ujar Ozy.
“hahaha...benarkah itu, Acha?” tawa Gabriel sedikit tak percaya.
“ya, ayah. aku ingin belajar tentang sejarah negeri kita,” jawab acha.
          Seketika mereka yang ada diruangan itu tertawa, tak terkecuali para penjaga. Putri Acha hanya tersenyum.
“tapi aku tak ingin hanya mempelajari buku saja. Aku juga ingin mendengar cerita dari ahli sejarah Garina,” lanjut Acha.
          Mereka menghentika tawanya dan saling memandang, mencari seorang yang ahli dalam sejarah diruangan itu.
“aku terlalu sibuk untuk mengajarimu! Mungkin Joe, Dave, atau Winda dapat mengajarimu,” elak Ozy.
          Acha memandang wajah Joe, Dave, dan Winda bergantian.
“tidak, Dave sedang dalam misi menemukan Cardan yang kemarin, Joe besok akan kutugaskan pergi ke Little untuk memastikan keadaan disana, dan Winda sudah cukup kau ambil waktunya untuk mengajar sihir, selain itu ia sering mendampingiku sekarang,” ujar Gabriel kepada putrinya.
“lalu kepada siapa aku harus belajar?” tanya Acha sambil menundukkan kepalanya.
          Gabriel berpikir sejenak, lalu berbisik kepada istrinya. Permaisuri Sivia mengangguk dan tersenyum setelah mendengar bisikan dari Gabriel.
“Duta, maukah kau mengajari putriku sejarah Garinka?” tanya Gabriel pada Duta yang dari tadi hanya sibuk dengan makanannya dan tidak menyimak pembicaraan yang berlangsung di hadapannya. Duta terdiam dan berhenti menyuapkan hidangan ke mulutnya.
“putriku, Duta adalah seorang ahli sejarah dan pasti dapat mengajarimu dengan baik. Betul, kan, Duta?” lanjut Sivia.
“mmmm....,” gumam Duta yang masih belum tahu maksud pertanyaan raja dan permaisurinya.
          Acha terlihat bingung mendengar pilihan dari orangtuanya. Ia menggigit bibirnya dan memandangi Duta. Sosok yang sama sekali tidak dikenalnya sebelumnya.
“ibu, siapakah dia?” tanya Acha ragu.
“ia adalah guru sejarahmu, adikku sayang,” jawab Ozy sambil tersenyum simpul.
***
          Pukul lima sore, seperti hari-hari biasanya, putri Acha dan penasihat kerajaan Winda berada diruangan latihan pribadi sang putri. Ruangan terbuka yang tidak terlalu besar tetapi tampak mewah. Disini, Acha biasa menghabiskan sore hari untuk berlatih sihir dengan Winda. Sekarang, ia sedang berlatih ilmu terbangnya. Ia sedang belajar menerbangkan dirinya, setelah sebelumnya mampu melayangkan diri diudara.
          Namun, kali ini, entah mengapa, sang putri sangat sulit menangkap pelajaran dari gurunya. Jangankan terbang, untuk melayangkan diri saja ia harus berupaya keras.
“fokuskan dirimu, Acha!” perintah gurunya.
          Acha mencoba sekali lagi. Ia berhasil melayangkan diri beberapa sentimeter dari lantai, tapi beberapa detik kemudian, tubuhnya perlahan kembali turun ke permukaan lantai.
“apa yang sedang menganggu pikiranmu?” tanya Winda yang menjadi sedikit kesal pada Acha.
          Acha menggelengkan kepalanya. Ia mencoba sekali lagi. Kali ini ia dapat melayangkan tubuhnya lebih tinggi dari sebelumnya. Sama seperti sebelumnya, setelah beberapa detik, ia kembali lagi ke lantai.
“pelajaran kita selesai!” ujar Winda.
          Winda berjalan menjauhi muridnya, dan duduk menghadap ke luar istana. Dari ruangan ini terlihat pemandangan yang indah diluar kota Stars. Tak lama kemudian, putri Acha mendekatinya dan duduk disebelahnya.
“kau adalah seorang gadis yang berbakat dalam sihir, kau tidak akan berhasil dalam sihir atau dalam bidang apa pun bila kau tidak dapat memfokuskan pikiranmu,” keluh Winda yang tidak puas pada muridnya hari ini. “sebenarnya apa yang sedang mengganggu pikiranmu?” lanjutnya.
“aku penasaran dengan peristiwa kemarin,” jawab Acha sambil membasuh wajahnya yang berkeringat.
“peristiwa kemarin adalah peristiwa penting. Entah itu akan berdampak baik atau buruk  bagi kerajaan kita. Menurut sejarah, Cardan lahir dengan peristiwa seperti kemarin akan dapat menyelamatkan, tidak hanya kerajaan Stars, tapi juga daratan Garinka,” jelas Winda. “kau akan memahaminya sendiri,” lanjutnya.
“paman, bila ia ditakdirkan untuk menyelamatkan Garinka. Itu artinya Garinka akan mendapat masalah besar. Masalah yang hanya dapat dituntaskan olehnya,” jawab Acha yang mulai serius dalam pembicaraan ini.
          Winda tersenyum, ia bangga atas kecerdasan Acha dalam menyikapi peristiwa kemarin. Ia memaklumi kecemasan muridnya, karena didalam hatinya terdapat kecemasan yang sama.
“tapi, Garinka sudah pasti bisa diselamatkan, kan?” Winda berdiri dan mulai meredakan kecemasan muridnya. Kemudian ia berjalan kem]luar  ruangan. Ia tak ingin pembicaraan mereka membuat Acha semakin cemas.
“paman, menurutmu apa yang akan terjadi?” pertanyaan Acha membuat Winda berhenti berjalan.
“ingatlah, sepekat-pekatnya kegelapan pada malam hari, pagi akan selalu datang. Kita hanya harus bertahan dikegelapan malam, dan bersabar menunggu datangnya pagi,” jawab Winda. Ia kembali berjalan keluar, meninggalkan Putri Acha duduk sendirian diruangan itu.
          Putri Acha masih duduk termenung menyaksikan matahari yang mulai tenggelam.
          Akhirnya, siang akan berakhir. Sebentar lagi datang malam, beserta kegelapan yang selalu menyertainya. Mampukah aku bertahan? Ujarnya dalam hati.
          Dapatkah ayahku mempertahankan kerajaannya?
          Bebrapa saat kemudia, matahari mulai tak tampak lagi, sinarnya pun sirna. Berganti dengan kegelapan malam. Acha masih duduk termenung memikirkan nasib kerajaannya. Tanpa disadarinya, seorang lelaki duduk menemaninya.
“ada  yang ingin kau tanyakan, tuan putri?” ujarnya ramah.
          Acha terkejut melihatnya, ternyata pria tersebut adalah Duta.
“Winda menyuruhku untuk menemuimu, mungkin kini kita dapat memulai pelajaran kita,” jelas Duta. “atau sebelumnya, adakah yang ingin kau tanyakan?” lanjutnya.
          Acha menghela napas panjang. “pertama, aku ingin tahu tentang dirimu,” kata Acha kepada Duta.
“namaku Duta, umurku beberapa tahun lebih tua dari ayahmu. Dulu aku hanyalah pasukan rendahan di kerajaan ini,” jelas Duta singkat.
          Penjelasan ini belum membuat Acha puas. Ketidakpuasan tersirat jelas diwajahnya. Ia menunggu Duta melanjutkan kalimatnya, namun Duta hanya menggaruk-garukkan kepal. Acha merasa tak nyama berada disebelahnya.
“dapatkah kau menjelaskan tentang  Siafrik?” tanya Acha yang kali ini enggan menghadapkan wajah kearah Duta.
“Siafrik?” Duta masih menggaruk-garuk. “coba kuingat....,” lanjutnya.
          Acha menutup wajah dengan kedua telapak tangannya, merasa kecewa atas pilihan orang tuanya. Tadinya, ia merasa bisa berharap banyak dari veteran ini, namun setelah melihat guru barunya, walaupun baru sebentar, ia langsung merasa ragu.
“apa yang ingin kau ketahui tentang Siafrik?” Duta membalas pertanyaan Acha dengan pertanyaan lain.
“semuanya...,” rintih Acha sambil menghentakkan kedua kakinya ketanah. Kali ini, ia benar-benar kesal.
“Siafrik adalah pemimpin bangsa Moon. Ia akan selalu ada didunia ini, karena langit yang memilihnya,” jelas Duta.
          Mendengar hal itu, acha membalikkan tubuh, berhadapan dengan Duta. Ia mulai serius mendenagrkan.
“ada apa, tuan putri?” Duta merasa bingung melihat Acha sangat serius memandangi wajahnya. “ada yang salah dengan wajahku?” lanjutnya.
“tidak. Tidak. Aku hanya ingin memerhatikan penjelasanmu,” Acha kembeli membalikkan tubuhnya kedepan, tidak lagi menghadap Duta.
“benar? Tidak ada apa-apa diwajahku?” tanya Duta sekali lagi. Acha menggelengkan kepala dan mengisyaratkan Duta untuk melanjutkan penjelasannya.
“siafrik bisa berwujud apapun. Ia mempunyai ilmu yang sangat tinggi. Konon, ia dapat melawan seratus pasukan pilihan kerajaan sekaligus dan memenangkannya,” ujar Duta yang kali ini mulai menggaruk wajahnya yang sudah mulai keriput.
“untungnya, dahulu ia berhasil dihentikan oleh seorang Cardan murni. Tapi, sayangnya, sang Cardan juga ikut terbunuh dalam pertarungan melawan Sifrik,” ujar Duta.
“lanjutkan ceritamu,” sambut Acha yang kali ini mulai antusias dengan cerita Duta.
          Akhirnya mereka berdua menghabiskan waktu berjam-jam. Duta menjawab semua pertanyaan putri Acha, walaupun kadang menghentikan penjelasannya sejenak untuk menggaruk salah satu bagian tubuh atau bahkan menguap. Sekarang, Acha mulai menikmati waktu bersama guru barunya tersebut. Ia merasa pilihan kedua orangtuanya tepat. Ia baru menyadari bahwa ternyata Duta bukanlah seorang pasukan rendahan seperti yang tadi dipikirkannya, melainkan sosok penting pada masanya dan patut dihormati.
          Walaupun Acha masih merasa tidak nyaman dengan tingkah Duta, ia tetap berada disana dan benar-benar menyimak setiap kata-kata Duta. Acha mendapat banyak pengetahuan baru darinya, melengkapi pengetahuannya yang dibacanya dari buku pinjaman kakaknya.