Tampilkan postingan dengan label Ozy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ozy. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 Mei 2011

Cardan Part 12

Hari ini, acha bangun pukul tujuh, mandi dan mencuci rambut, lalu dengan cepat mengeringkannya. Hitam kemerah-merahan, mungkin karena sinar matahari, pikirnya ketika menatap warna rambutnya melalui cermin dan menatanya.
          Ia ingat perkataan joe kepada ibunya ketika ia bertugas menjadi seorang penari di sandiwara istana pada perayaan akhir tahun. “acha punya sifat keras kepala dan rasa ingin tahu yang sangat besar, itu merupakan kelebihannya. Setidaknya, ia tidak akan menjadi putri yang seumur hidupnya selalu duduk dibelakang meja rias.”
          Sarapan pagi sudah tersedia dimejanya. Telur angsa orak-arik dan segelas susu sepertii biasa. Ia langsung tahu bahwa telur ini bukan buatan shilla ketika mencicipinya. Tapi itu tidak menghentikannya melahap habis sarapannya. Kemudian ia membuka lemari pakaian, memilih selendang tebal dan gaun sederhana coklat tua. Selendang ini akan menghangatkanku dipenjara nanti, pikirnya. Ia sudah memutuskan untuk kembali mengunjungi ony. Tapi pagi ini ia harus segera menemui winda.
          Acha menggunakan ilmu terbangnya untuk sampai keruang kerja winda. Ia melewati banyak tangga dan koridor, membuat para pegawai istana menghentikan sebentar kegiatannya untuk melihat acha. Acha memang jauh lebih ramah dar ozy, senyum kecil tak pernah pudar dari wajahnya ketika bertemu siapa saja.
          Saat memasuki bangunan belakang istana, ia heran mengapa meja penjaga keamanan kosong. Keamanan disini tak terjamin, pikirnya, sambil berjalan menaiki tangga menuju lantai tiga. Bangunan ini baru didirikan, dan ia bertanya-tanya apakah ayahnya belum menugaskan beberapa penjaga disini. Sudah saatnya ayah menugaskan seseorang untuk mengelola tempat ini. “keterlaluan” gumamnya pelan, sampai di lantai teratas yang remang, ia mencari obor yang bisa terdapat disudut koridor. 
          Bahkan obor yang dinyalakannya pun tidak cukup menerangi koridor. Ini harus segera dibenahi, pikirnya kesal. Ia bertekad akan berbicara dengan ayahnya.
“matikan obornya!” bentak seseorang dari ruangan kerja ozy yang letaknya bersebrangan dengan ruangan winda.
          Acha langsung tahu itu suara kakaknya, kemudian ia menuruti perintah kakaknya dan kembali mematikan obor di koridor tersebut. Ia mengetuk pintu ruangan winda, tapi tidak ada jawaban. Ia mengulanginya lagi, tapi sama sekali tidak ada jawaban. Aku akan kembali lagi nanti,  pikirnya. Lalu ia berjalan menuju ruangan kakaknya, pintu ruangan itu sudah setengah terbuka. Ia mengetuk pelan dan masuk kedalam. Tampak ozy sedang sibuk membaca beberapa lembaran kertas tua, hanya diterangi lilin besar dimejanya.
          Wajahnya kusam, matanya merah, ditambah rambutnya yang acak-acakan menunjukkan bahwa ozy sudah lama memusatkan pikirannya kelembaran kertas-kertas tua tersebut. Enam buah cangkir kopi yang kosong meyakinkan acha bahwa kakaknya belum tidur, bahkad kedatangan dan sapaannya sama sekali tidak mendapat perhatian dari ozy.
          Acha berharap bisa menunggu winda disini, ia berusaha untuk tidak menganggu kakaknya. Ia bersandar dan menyilangkan kaki, lalu melirik selembar kertas disisinya dan membacanya. Ia sama sekali tidak mengerti isinya. Tapi setelah membaca ulang, ia baru menyadari tulisan tersebut ditulis tiga tahun lalu, yaitu pada tahun 498, dan bagian bawah kertas itu ditanda tangani oleh seseorang yang sedang ia selidiki, ony.
          Hal-hal mengenai garinka. Apakah orang ini adalah seorang penulis? Apa yang sedang dipelajari ozy tentang orang ini? acha bertanya-tanya.
          Pangeran ini menoleh dan tersenyum ketus. “cahaya remang-remang membuat pikiranku lebih mudah berkonsentrasi. Cahaya terang hanya membuatku mengantuk”
“mengapa kau tidak menghentikan kegiatanmu tadi malam dan tidur? Toh, kau bisa melanjutkannya pagi-pagi”
“urus saja dirimu sendiri!” jawab ozy tidak ramah.
          Acha tidak terganggu dengan sifat kakaknya, malah ia tersenyum kecil ketika mendengar jawaban tidak ramah dari kakaknya. Perhatiannya lebih tertuju pada lembaran kertas yang dipegang ozy. Acha meraba permukaan kertas, memeriksa bahwa ini benar-benar tulisan tangan. Ia berkali-kali menggerakkan jarinya sesuai alur tanda tangan ony.
“ia adalah kaum abadi,” gumamnya pelan.
“bukan, ia bukan kaum abadi. Bahkan tidak ada kaum abadi,” sela ozy yang sekarang merebahkan kepala dan menutup matanya.
“ibu mengatakan kepadaku bahwa ia abadi. Bahkan duta juga berpendapat begitu.”
“rina dan ony abadi. Romi telah mati. Dibunuh oleh kedua anaknya tersebut. Menyedihkan mengetahui seorang ilmuwan hebat dibunuh kedua anaknya yang marah karena dijadikan abadi oleh orang tuanya. Ya, ilmuwan yang ingin kedua anaknya terhindar dari kematian, malah dibunuh. Anak-anaknya menolak dan marah telah dijadikan abadi.”
          Acha mengangkat sebelah alisnya. Bagaimana anak bisa begitu tega membunuh orangtuanya sendiri? Pikirnya.
          Ozy memijjit kepalanya sendiri kemudian kembali melanjutkan. “romi adalah satu-satunya ilmuwan yang menemukan ramuan untuk hidup abadi. Selain itu, ia adalah seorang peramal hebat. Beberapa ramalannya sudah terjadi. Semalaman aku membaca semua tulisannya dan menemukan sesuatu yang mengejutkan. Ramalan yang akan terjadi dalam waktu dekat. Dituliskan bahwa saat perayaan besar yang bertepatan dengan hilangnya tiga bintang dilangit, sebuah kota suci  akan berada ditangan seekor ular berkepala tiga”
          Acha mendengarkan. Ia kagum oleh ozy yang rela tidak mengistirahatkan tubuhnya karena mempelajari semua lembaran tulisan ini. jumlahnya mungkin ratusan lembar.
“aku belum paham. Sebenarnya ia meramalkan apa? Kota apa? Ular berkepala tiga sungguh tidak mungkin ada didunia ini”
          Acha menarik napas panjang, lalu kembali membaca selembar kertas yang ditemukannya tadi. Sebenarnya, ia masih menunggu jawaban kakaknya, namun tidak sepatah kata pun terdengar. Ketika selesai membaca kertas itu, acha menoleh kearah kakaknya. Ozy sudah tertidur lelap. Acha mengelus kening kakaknya, sesuatu yang belum pernah dilakukannya. Kemudian ia mengambil selimut dari lemari dan menyelimutinya. Ia sadar bahwa selama ini ia salah menilai ozy. Selama ini ia menilai ozy hanya mementingkan dirinya sendiri dan tidak peduli pada rakyatnya. Ia sadar ternyata kakaknya  mungkin lebih menyayangi rakyat daripada acha. Ozy rela menghabiskan waktunya untuk mempelajari semua yang berhubungan dengan stars. Dan semua ilmunya  itu pasti akan menambah kemampuannya saat ia menjadi seorang raja. Kakakku akan menjadi seorang raja besar dalam buku sejarah garinka dan aku mungkin hanya disebut sedikit, pikirnya sambil duduk dan kembali membaca lembaran kertas yang berserakan dimeja kerja kakaknya.

          Cahay obor koridor menyala, pasti seseorang telah menyalakannya. Acha merapikan meja kerja ozy dan menyusun rapi lembaran-lembaran kertas tua yang tadi berserakan dimana-mana. Itu pasti tante winda, pikirnya sambil berjalan keluar. Acha menutup pintu ruangan perlahan supaya kakaknya tidak terbangun. Ia mengetuk pintu ruangan winda dan menunggu sebentar. Beberapa detik kemudian, winda membuka pintu.
“selamat pagi, manis!” sapa winda sambil melipat selembar kertas selebaran kerajaan yang sepertinya sedang dibacanya barusan. Selebaran yang bisa dipajang dipapan-papan pengumuman kota oleh para pencari berita. Anggota kerajaan seperti winda pasti diistimewakan dan mendapat selebaran itu langsung secara pribadi. Wanita itu kemudian duduk dibelakang meja kerjanya yang luas dan elegan. Tidak seperti meja kerja ozy yang kecil dan selalu berantakan.
          Ruangannya tampak sangat kuno, mungkin seleranya demikian. Di dinding-dindingnya terpajang banyak sekali penghargaan kehormatan dari stars, bahkan dari beberapa kerajaan garinka mungkin winda adalah penerima penghargaan kerajaan terbanyak dalam sejarah garinka. Acha duduk di sebuah kursi didepan meja kerja, berhadapan langsung dengan winda.
“ada apa kau datang kemari, putri?”
          Acha menggigit bibirnya, takut diomeli bibinya. “aku meminta maaf karena kemarin tidak datang dikelas pertemuan kita tanpa kabar” ia diam sejenak memerhatikan wajah bibinya. “aku merasa tidak enak badan kemarin dan tertidur dikamarku” kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutnya. Entah apa yang dipikirkannya, kali ini ia telah membohongi bibi yang sekaligus gurunya.
“aku dapat mengerti dan menerima alasanmu,” jawab winda.
          Hati acha seakan-akan meloncat girang ketika mendengar jawaban winda. Ia tidak akan kena omel karena bibinya memercayai alasannya. Kemudian dengan semangat ia bertanya. “sebenarnya apa saja ramalan yang ditulis diselebaran tentang kejadian itu, bibi?” acha mengalihkan oembicaraan.
          Winda mengerutkan alisnya dan membolak-balik beberapa lembar selebaran itu. “aku belum membacanya, aku baru akan membacanya ketika kau mengetuk pintu”
          Kalau aku disini, ia tidak akan membaca selebaran itu, pikir acha, kemudian ia berdiri. “aku pamit pergi, bibi, aku tidak ingin menggangumu. Sekarang kau bisa membaca selebaran itu sampai tuntas”
“baiklah, terima kasih atas kedatanganmu,” kata winda yang kemudian berdiri dan mengantarkan acha menuju pintu. “oh ya, karena kemarin kau tertidur selama berjam-jam dan tidak ikut makan malam bersama, kau harus memeriksakan tubuhmu. Dan kau minta maaf karena mulai hari ini aku tidak dapat mengajarimu lagi. Ayahmu memintaku untuk selalu menemaninya, kau dapat belajar ke duta.”
          Saat itu juga acha menyadarinya bibinya mengetahui kebohongannya.
          Membohonginya?  Acha berkata dalam hati, lalu berbalik menatap bibinya, “maafkan aku, bibi!”
“bila kau tidak mau mengatakan alasanmu, tidak apa, aku pasti akan mengerti. Tapi kau seharusnya tidak berbohong,” kata winda dengan intonasi rendah. “kebohongan adalah hal kecil yang tanpa disadari akan benar-benar merusakmu. Berbohong hanya dilakukan orang yang tidak bertanggung jawab. Kebohongan hanya akan berlanjut ke kebohongan berikutnya, acha”
          Acha tidak berani memandang wajah bibinya. Rasa sesalnya semakin besar. Sesekali ia ingin menyela perkataan bibinya, tapi tidak berani. Ia merasa berada dalam masalah yang serius. Apalagi ketika bibinya menutup pintu ruangan sebelum acha menjelaskan dan meminta maaf. Acha berjalan lesu dengan kepala tertunduk sepanjang koridor. Paman selalu tahu apa yang kulakukan, pikirnya.
***
          Pukul 12 siang. Acha sudah berada diteras lantai dua istana untuk makan siang. Namun tak ada satupun anggota keluarga yang duduk diruang makan. Hanya ada winda dan duta. Sebenarnya ia sudah menduga kakak dan ibunya tidak akan hadir, tapi ia tidak menyangka ayahnya juga tidak hadir.
          Selepas makan siang, acha bergegas menemui ayahnya. Mereka bercakap-cakap diruang kerja raja. Ditengah obrolan, tiba-tiba sang raja membicarakan rasa ingin tahu acha. “ozy bercerita kepadaku. Katanya kau akhir-akhir ini sangat ingin tahu tentang sejarah,” kata ayahnya. “seperti bukan anak perempuanku.”
          Acha tertawa. “anak perempuanmu ini sudah besar. Dan kini kau tahu, banyak sekali yang harus kupelajari.” Kemudian ia menatap ayahnya tajam. “seharusnya aku yang  bertanya kepada ayah. apa yang sedang ayah khawatirkan?” ia memasang muka tegas ketika gabriel mengangkat bahu dan menggelengkan kepalanya. “jangan bohong. Aku bukan anak kecil lagi. Aku tahu, pasti ada yang sedang ayah pikirkan.”
          Gabriel membuka kedua tangannya kemudian bergumam. “aku kehilangan acha kecilku.” Gabriel menatap putrinya. “mengkhawatirkan sesuatu, tidak juga. Memang ayah sedang berpikir. Hanya beberapa masalah kerajaan yang belum terselesaikan”
          Wajah acha melembut. Ia menatap ayahnya. “aku tahu beberapa berita dan ramalan yag beredar. Tentang cardan murni, tentang moon. Tapi ayah harus tetap kuat. Rakyat membutuhkan ayah.”
“ya, acha, mungkin cahaya merah itu hanya fenomena alam biasa dan mungkin moon sudah tidak lagi ingin menguasai garinka,” ujar gabriel santai. “aku harus tenang. Ozy dan kau sudah siap untuk memimpin negeri ini, acha.”
“ayah, jangan main-main! Ayah tahu, kan, aku belum siap untuk itu? Hanya ayah yang mampu menghadapi semua itu.” Acha mulai merajuk. Gabriel tertawa. Pembicaraan ayah dan anak itu terus mengalir.
          Setengah jam kemudian, winda dan duta datang menemui mereka. Mereka tampak habis berlari, duta memberi salam dan berujar, “baginda, seorang tahanan ditemukan mati tadi pagi.” Ia menghela napas pendek. “eksel, penghuni lantai terbawah,” lanjut winda.
          Setelah mendengar hal itu, raja langsung berdiri menghampiri winda. “sebaiknya kita bicarakan ni ditempat lain.” Kemudian mereka berdua pergi keluar ruangan.
          Berita tersebut mengejutkan acha. Begitupun duta, mereka baru saja bertemu dengan eksel kemarin. Mereka masih ingat betapa mengesalkannya orang itu. Pikiran mereka langsung tertuju ke tahanan yang kemarin mereka temui, ony.
“apa pikiranmu sama denganku?” tanya duta sambil duduk disebelah acha yang kebingungan mendengar berita tersebut. “ia diduga mati tercekik. Dilantai itu hanya ada tiga orang. Eksel, penjaga pos, dan ony.”
          Acha menggigit bibir bawahnya. “ia mengatakan bahwa eksel akan menggangguku lagi”
“kau boleh menemuinya acha,” ujar duta tegas.

Jumat, 15 April 2011

Cardan Part 6

Pagi ini Joe bersiap untuk pergi ke Little, tapi sebelumnya ia masih harus bertemu Acha. Ia menunggu Acha ditaman istana seperti biasanya. Sekarang, ia harus melakukan sebuah perjalanan yang cukup jauh, staminanya harus sempurna. Disebelahnya terdapat palu besi yang telah menjadi senjata andalannya sejak lama.
          Sebuah palu yang terbuat dari bongkahan besi besar. Memang sepintas tidak ada yang menarik, karena benda itu sama sekali tidak mengkilap seperti senjata-senjata ksatria lainnya. Hanya sebuah palu berukuran satu meter, mata palunya berdiameter sekitar 40 sentimeter dan terbuat dari besi hitam. Tapi, sampai sekarang, tidak ada yang tahu berapa berat benda itu sebenarnya karena hanya Joe yang mampu mengangkatnya. Dan semua orang tahu bahwa Joe adalah orang terkuat di Stars bahkan mungkin di daratan Garinka.
          Joe diberi mandat oleh raja Gabriel untuk melihat kondisi di Little. Selain itu, ia juga ditugaskan untuk turun membantu para jendral perang Stars yang telah berbulan-bulan memimpin  peperangan disana. Sebenarnya, dia sudah lelah berperang, namun belum ada seorang jendral  baru yang pantas untuk menggantikannya. Baginya, umurnya terlalu tua untuk berperang dan ia ingin segera pensiun dari kedudukannya.
“Joe!” teriak Acha sambil menghampirinya
          Joe merentangkan tangannya dan memeluk sang putri yang telah menjadi teman baiknya. Sang putri memeluknya erat dan tak kuasa untuk tidak meneteskan air mata. Joe pun merasakannya, ia membelai rambut Acha dengan lembut, tak lama kemudian ia melepaskan pelukannya.
“aku harus pergi.” Joe menyentuh pipi Acha yang sudah basah oleh air mata. “mereka membutuhkanku disana.”
“lalu siapa yang menjagaku disini?” tanya Acha. “siapa yang akan menjaga Hinkal bila kau pergi?”
          Joe tersenyum, kemudian ia melatakkan palunya dibahu kanan.
“Dave akan menjagamu dan Hinkal,” jawab Joe, lalu melangkahkan kakinya.
“aku tak mempercayainya!” bentak Acha sambil menghentikan langkah Joe dengan kedua tangannya.
          Joe dengan lembut menurunkan tangan Acha yang menahan dadanya. Kemudian, ia menggendong Acha dibahu kirinya. Sehingga kedua bahunya mengangkat dua beba yang berbeda. Dibahu kanannya terdapat palu besi senjatanya, sedangkan dibahu kirinya terdapat tubuh Acha yang masih tak merelakan kepergiannya. Joe melangkahkan kaki dan berjalan menuju gerbang istana. Disana raja Gabriel sudah menunggunya.
“kau telah dewasa dan aku yakin kau dapat menjaga dirimu sendiri,” ujarnya pada Acha yang dari tadi masih menangis dan sesekali memukul punggung Joe. “kini, Hinkal kuserahkan padamu,” ujar Joe sambil melepaskan Acha kembali.
          Digerbang utama istana, telah hadir para pejabat istana, permaisuri Sivia, pangeran Ozy, penasihan Winda, dan jendral Dave juga ada disana. Tampak Sivia dan Dave sedang bercakap-cakap. Gabriel dan Winda sedang memeriksa para pasukan yang akan berangkat. Sedangkan Ozy berdiri dengan kepala tegap. Raja Gabriel menyapa ramah para pasukan yang akan melaksanakan tugas darinya. Ia menjabat tangan mereka satu persatu.
          Tak lama kemudian, datang Joe yang masih menggendong putri Acha dibahu kirinya. Kedatangannya disambut hangat oleh Gabriel. Joe menurunkan Acha dari bahunya lalu menjabat tangan Gabriel.
“kalahka mereka, Joe!” ujar Gabriel.
          Joe menganggukan kepala dan tersenyum, walaupun ia tahu tugas ini berat baginya. Tugas yang membahayakan nyawanya karena ia harus turun lagi ke medan perang. Beberapa Jendral perang sudah berada digaris depan , membantu armada kerajaan Little mengusir pasukan Moon. Tapi semua itu belum cukup. Joe ditugaskan untuk membantu mereka. Gabriel tahu benar, bila Little jatu ke tangan Moon, maka kerajaannya akan berbatasan langsung dengan Moon. Setelah itu, hanya para dewa yang tahy apa yang aka terjadi.
          Kemudian Raja Gabriel berdiri tepat digerbang istana. Permaisuri Sivia, Winda, Ozy beserta para pejabat negara lainnya ikut berdiri dibelakangnya. Joe dan Dave berdiri sejajar dihadapan mereka. Acha masih saja menggenggam tangan Joe yang sebentar lagi akan berangkat. Duta yang juga menghadiri keberangkatan tersebut, menarik Acha dari sisi Joe. Gabriel dan Sivia terharu melihat kesedihan putrinya.
          Gabriel mengambil tongkat raja yang dari tadi dipegang Winda. Joe dan Dave beserta pasukan mereka berlutut. Raja Gabriel mengarahkan tongkatnya pada mereka.
“pergilah! Harumkan nama Stars! Dewi Furita akan selalu menyertai kalian!” titah Gabriel dengan tegas dan lantang.
          Ozy dan yang lainnya memandang Gabriel dengan kagum. Sungguh seorang raja dengan pesona luar biasa. Setelah Gabriel menyampaikkan pesannya, semua yang berada disana bertepuk tangan. Kini para jendral dan pasukannya siap untuk diberangkatkan. Dave sekali lagi menjabat tangan Gabriel dan yang lainnya. Joe mendekati Acha yang masih menangis disebelah Duta. Ia membelai rambut hitam Acha. Acha menudukkan kepala, tidak mau melihat kepergian Joe. Joe kemudian berjalan menuju raja.
          Dave dan pasukannya memeriksa senjata san kuda-kuda untuk terakhir kali. Regunya akan berangkat terlebih dahulu, sedangkan Joe hanya akan berangkat seorang diri. Kali ini, Ozy membusungkan dada dan ikut memeriksa pasukan. Permaisuri mendekati Dave dan membisikkan sesuatu. Setelah semuanya siap, untuk terakhir kalinya. Dave dan pasukannya membungkukkan tubuh kepada Gabriel. Gabriel menganggukkan kepala, kemudian Dave dan pasukannya berjalan keluar istana.
“Joe, sampaikan salamku untuk Dimas, Alvin, Debo, Zevana, Deva, dan Iwan,” ujar Gabriel kepada Joe. “pukul mundur musuh kita!”
“baik, yang mulia. Akan saya sampaikan, dan akan saya tunaikan tugas sebaik mungkin,” jawab Joe.
“sebaiknya begitu, Joe!” sela Ozy.
          Joe hanya tersenyum mendengar perkataan pangeran. Lalu ia menjabat tangan Gabriel dan Ozy. Dan istimewanya, Joe mendapat ciuman dipipi dari permaisuri. Wajah Ozy kikuk, wlaau Gabriel tampak biasa-biasa saja. Joe memejamkan kedua matanya dan perlahan sepasang sayap muncul dari punggungnya. Sayap yang panjangnya hampir dua meter dengan bulu-bulu merah tua yang sangat lebat. Joe telah siap untuk penerbangan panjangnya. Saul melipat kedua sayapnya lalu melompat, diketinggian hampir sepuluh meter ia kembali membentangkan sayap dan melayang di udara. Ia melayang dan terbang berputar diatas kota. Yang lain hanya memandang kagum.
          Tiba-tiba Acha ikut melompat dan terbang disebelah Joe yang masih terbang berputar. Gabriel, Sivia, Ozy, Duta, dan apalagi Winda gurunya terkejut melihatnya. Kemampuan Acha sangat berkembang pesat, hingga ia dapat menemani Joe terbang.
“Acha!!! Kau bisa terbang!!” ujar Joe bangga.
          Acha tak menjawab pertanyaannya. Air mata masih membasahi pipinya.
“sekarang, kembalilaah. Aku akan pergi sekarang. Aku menyayangimu aku akan menyelamatkan negeri kita,” lanjut Joe yang kemudian melesat dengan kecepatan yang tidak bisa dikejar sang putri. Hanya selang beberapa detik, Joe sudah tak terlihat lagi.

Cardan Part 4

“Joe, apa yang sebenarnya sedang terjadi?” tanya Acha kepada jendral besar yang juga merupakan sahabatnya itu.
“hanya ayah dan ibumu yang tahu, tuan putri.”
“tapi, bisakah kau ceritakan siapa yang datang semalam dan apa yang diceritakannya?”
          Joe lalu duduk dikursi kayu yang ada di taman istana. Mereka berdua sedang berada ditaman istana yang sangat asri, dihiasi ratusan tanaman bunga dan pancuran air. Burung-burung merak dan kijang berkeliaran bebas disini, terpelihara dengan baik. Mereka sudah jinak, tidak terganggu lagi dengan kehadiran manusia.
“namanya Duta, ia adalah veteran perang Zonega. Kebetulan kejadian kemarin terjadi di ladang anggurnya.”
“lalu apa katanya?” sela Acha ingin tahu.
“telah lahir seorang Cardan baru, dan Cardan itu mempunyai kekuatan Sanggu.”
“kau seorang Cardan, bukan?” tanya Acha
          Joe menganggukan kepalanya.
“lalu, apakah kau mengalami kejadian seperti kemarin saat kau terpilih menjaddi seorang Cardan, cahaya merah yang menjulur sampai langit?” lanjut sang putri
“tidak, karena itulah Cardan yang satu ini pasti seorang yang sangat istimewa,” jawab sahabatnya itu.
“istimewa?”
“ya....Duta mengatakan bahwa Carddan ini akan menjadi pahlawan Stars, dan ayahmu membetulkan perkataannya.”
“aku mengerti kegusaran ayah sekarang,” balas Acha, yang hari itu terlihat anggun dengan gaun panjang berselimut sweater kesayangannya, berikut syal hitam dari bulu domba. Pakaian yang sedehana bagi seorang putri mahkota. Memang begitulah dirinya, selalu nyaman memakai pakaian yang tidak mencerminkan statusnya.
“mengerti?” kali ini Joe yang bertanya.
“tentu saja, Joe! Ayah dan ibu pasti sangat gusar, karena menjadi pahlawan membutuhkan sebuah kemenangan! Dan sebuah kemenangan membutuhkan pertempuran...,” jawab Acha semangat.
“aku benci bila kau benar... bila itu terjadi, kita akan mengalami peperangan lagi...,” ujar Joe dengan kepala tertunduk..
          Acha baru menyadari akibatnya bila perkataannya itu menjadi nyata. Rakyat yang dicintainya akan sangat menderita. Gadis itu meraba keningnya,”Joe! Mari kit hentikan perang ini!”
“caranya?” tanya Joe yang masih menundukkan kepalanya.
“itu yang akan kita cari.”
          Kemudian Acha pergi berlari menuju istana, meninggalkan Joe yang masih duduk dengan kepala tertunduk. Sungguh pemandangan aneh, seorang perwira perang tertinggi menundukkan kepalanya setelah mendengar kata perang.
“aku benci jika harus berperang lagi...,” gumam Joe, kemudian mengepalkan tangannya dan memukulkannya ke tanah.
          Tanah disekitar taman tersebut bergetar, pancuran-pancuran pun berhenti menyemburkan air. Joe berdiri dan menengadahkan kepalanya, memandang langit.
“kasihi kami...”
***
          Acha sudah berada didepan pintu ruang belajar Ozy, kakak lelakinya. Dengan berat hati ia mengetuk pintu ruangan tersebut.
“siapa?” terdengar suara Ozy dari dalam.
“Acha,” jawabnya.
“masuklah!”
          Kemudian Acha membuka pintu dengan perlahab, ia memasuki ruangan belajar kakaknya. Ruangan ini terlihat seperti perpuastakaan pribadi dengan puluhan rak yang berisi buku-buku hukum, pemerintahan, dan sejarah. Ruangan yang sebenarnya cukup luas terlihat sangat sempit karena rak buku yang tingginya sampai menyentuh langit-langit ruangan. Ozy Adriansyah, dengan gayanya yang khas, sedang membaca dimeja belajarnya yang besar dan kokoh. Kepalanya menunduk, dahinya ditopang tangan kirinya yang terletak diatas meja, tangan kanannya memegang buku tua, siap membalik halaman-halamannya yang sangat tebal. Rambutnya berantakan, kacamata bacanya merosot turun dihidungnya. Sebagai anggota kerajaan yang terhormat, penampilannya menunjukkan bahwa ia siap menjadi raja.
          Mengetahui kehadiran Acha di ruangannya, Ozy hanya memicingkan matanya. Senyumnya singkat dan dingin.
“ada angin apa ini? Apa yang membuatmu sudi datang kemari?” ujar Ozy sambil menutp buku tebal yang sedang dibacanya.
          Acha duduk di sofa merah yang dilapisi kulit binatang yang terletak didekat meja kakaknya. Bulu kuduk Acha sedikit merinding saat duduk, ia membayangkan teriakan binatang ketika dikuliti untuk sofa itu.
          Ozy berkata tanpa mengarahkan pandangan padanya. Acha tahu bahwa kedatangannya akan dianggap sebagai gangguan .
“aku mempunyai sebuah pertanyaan.”
“pertanyaan? Mengapa kau bertanya padaku?” tanya Ozy yang tidak menaruh perhatian penuh kepada adiknya.
“sudahlah...ini benar-benar penting. Ini tentang masa depan kerajaan kita!” bentak Acha yang sudah mulai jengkel dengan perlakuan kakaknya.
“kau ingin bertanya tentang peristiwa kemarin?”
“ya, kukira kau dapat menjelaskan padaku.”
“tentunya aku dapat menjelaskannya. Aku telah membaca ratusan buku sejarah. Tidak sepertimu, menghabiskan waktu dengan berlatih sihir atau jalan-jalan, menyamar sebagai rakyat biasa dikota,” ujar Ozy sombong.
          Acha menghela napas panjang.
“seorang Cardan murni telah lahir kemarin. Cardan yang benar-benar dipilih oleh para Dewa dan Dewi. Konon, ia adalah titisan bintang-bintang yang ada dilangit kita. Biasanya Cardan terlahir bila ada penyatuan antara sebuah batu yang terlempar dari bintang tertentu dan jiwa seseorang yang dipilih oleh batu tersebut. Cardan kemarin itu adalah Cardan yang terlahir dari penyatuan, tidak hanya batu dan jiwa, tapi juga dilengkapi urapan bintang-bintang tadi”
          Acha memerhatikan penjelasan kakaknya. “jadi, menurutmu, apa yang akan terjadi? Apakah itu hanya peristiwa biasa?” tanya Acha datar.
“kau betul-betul bodoh! Kau kira peristiwa itu terjadi tanpa tujuan?” bentak Ozy yang sepertinya kesam mendengar pertanyaan adiknya.
          Kali ini Acha terdiam, mungkin ia baru menyadari betapa kurang pengetahuan sejarahnya. Baru kali ini ia menganggap waktu dilewatkan oleh kakaknya tidak sia-sia.
          Ozy menaikkan alisnya. “terakhir, peristiwa itu terjadi puluhan tahun lalu. Saat daratan Garina masih dalam zaman kekacauan. Saat bangsa Moon masih menjejakkan kakinya di Garinka.”
“Moon?” tanya Acha polos.
          Ozy memalingkan muka dari adiknya dan menyandarkan tubuhnya.
“Moon adalah bangsa yang berbeda dengan kita, mereka menyembah Natu, Dewa kegelapan. Ibu biasamenyebut mereka bangsa biadab,bangsa yang menyukai kekacauan.” Lanjut Ozy. “jadi, dahulu kaken-nenek kita berjuang mengusir Moon dari Garinka, karena sudah beratus-ratus tahun kedua bangsa ini tidak pernah damai. Keduanya selalu berusaha saling menyingkirkan. Dan akhirnya, tiga puluh tiga tahun lalu, mereka berhasil mengusir bangsa Moon. Bangsa Moon lalu mendiami negeri Ghaine yang konon sangat tandus dan bersuhu sangat panas. Peperangan itu dimenangkan Grinka karena Cardan murni pada saat itu berhasil membunuh Siafrik, pemimpin pasukan Moon.”
          Acha mengengguk-anggukan kepala mendengar penjelasan kakaknya.
“lalu peristiwa kemarin...menurutku, bangsa Moon akan datang lagi ke negri kita. Seperti dua puluh tahun lalu ketika perang Zonega berkecamuk, namun mungkin kali ini...”
          Tiba-tiba jam besar yang ada diruangan tersebut berdentang dua belas kali. Ini waktunya semua anggota keluarga istana bersantap siang di balkon keluarga. Seperti yang mereka lakukan setiap hari.
“waktunya makan, mungkin akan kita teruskan lain kali,” ujar Ozy, kemudian ia berjalan keluar ruangan, putri Acha masih duduk di sofa.
“kau tidak ikut?”
“nanti aku menyusul.” Jawab Acha. “kak, bolehkah aku meminjam buku yang menceritakan semua itu?”
“silakan, tapi kau harus mencarinya sendiri. Aku ingin segera makan sekarang. Perutku sudah dari tadi menahan lapar.”
***
          Kali ini Duta mendapatkan pelayanan yang sangat jarang didapatkannya. Ia duduk bersama anggota kerajaan dan orang-orang penting Stars. Piringnya penuh dengan hidangan, hampir semua makanan yang tersaji sudah ia taruh dipiringnya.
“Dave, apakah kau sudah menyiapkan pencarian Cardan?” tanya Gabriel kepada Dave.
“sudah, yang mulia! Ada lima pasukan berkuda dan tiga pasukan terbang. Dan semuanya berada dibawah komando saya.”

“lalu, bagaimana dengan rencanamu?” Gabriel kembali bertanya.
“saya akan menyisir setiap sudut Hutan Dio. Saya sangat yakin ia berada disana,” jawab Dave.
          Mendengar hal itu, Sivia menyela pembicaraan suami dan perwiranya.
“apa kau benar-benar yakin ia berada di hutan Dio? Dan bagaimana kau dapat menemukannya dihutan yang selebat dan seluas itu?”
“saya yakin, permaisuri. Hutan Dio adalah tempat persembunyian terbaik di wilayah ini, dan saya kira ia pasti bersembunyi disana. Permaisuri tak perlu memikirkan cara pasukan saya menemukannya, permaisuri dapat mengandalkan orang-orang pilihan saya,” jawab Dave tegas.
          Acha datang sembari memeluk dua buah buku yang sangat tebal. Ia menaruk kedua buku itu dimeja, membuat meja makan tersebut bergetar.
“Acha, ada apa?” tanya Gabriel yang merasa aneh melihat putrinya membawa buku-buku setebal itu.
          Acha menyeka dahinya yang berkeringat.
“ia ingin mendalami ilmu sejarah, ayah! kupinjamkan beberapa buku untuknya,” ujar Ozy.
“hahaha...benarkah itu, Acha?” tawa Gabriel sedikit tak percaya.
“ya, ayah. aku ingin belajar tentang sejarah negeri kita,” jawab acha.
          Seketika mereka yang ada diruangan itu tertawa, tak terkecuali para penjaga. Putri Acha hanya tersenyum.
“tapi aku tak ingin hanya mempelajari buku saja. Aku juga ingin mendengar cerita dari ahli sejarah Garina,” lanjut Acha.
          Mereka menghentika tawanya dan saling memandang, mencari seorang yang ahli dalam sejarah diruangan itu.
“aku terlalu sibuk untuk mengajarimu! Mungkin Joe, Dave, atau Winda dapat mengajarimu,” elak Ozy.
          Acha memandang wajah Joe, Dave, dan Winda bergantian.
“tidak, Dave sedang dalam misi menemukan Cardan yang kemarin, Joe besok akan kutugaskan pergi ke Little untuk memastikan keadaan disana, dan Winda sudah cukup kau ambil waktunya untuk mengajar sihir, selain itu ia sering mendampingiku sekarang,” ujar Gabriel kepada putrinya.
“lalu kepada siapa aku harus belajar?” tanya Acha sambil menundukkan kepalanya.
          Gabriel berpikir sejenak, lalu berbisik kepada istrinya. Permaisuri Sivia mengangguk dan tersenyum setelah mendengar bisikan dari Gabriel.
“Duta, maukah kau mengajari putriku sejarah Garinka?” tanya Gabriel pada Duta yang dari tadi hanya sibuk dengan makanannya dan tidak menyimak pembicaraan yang berlangsung di hadapannya. Duta terdiam dan berhenti menyuapkan hidangan ke mulutnya.
“putriku, Duta adalah seorang ahli sejarah dan pasti dapat mengajarimu dengan baik. Betul, kan, Duta?” lanjut Sivia.
“mmmm....,” gumam Duta yang masih belum tahu maksud pertanyaan raja dan permaisurinya.
          Acha terlihat bingung mendengar pilihan dari orangtuanya. Ia menggigit bibirnya dan memandangi Duta. Sosok yang sama sekali tidak dikenalnya sebelumnya.
“ibu, siapakah dia?” tanya Acha ragu.
“ia adalah guru sejarahmu, adikku sayang,” jawab Ozy sambil tersenyum simpul.
***
          Pukul lima sore, seperti hari-hari biasanya, putri Acha dan penasihat kerajaan Winda berada diruangan latihan pribadi sang putri. Ruangan terbuka yang tidak terlalu besar tetapi tampak mewah. Disini, Acha biasa menghabiskan sore hari untuk berlatih sihir dengan Winda. Sekarang, ia sedang berlatih ilmu terbangnya. Ia sedang belajar menerbangkan dirinya, setelah sebelumnya mampu melayangkan diri diudara.
          Namun, kali ini, entah mengapa, sang putri sangat sulit menangkap pelajaran dari gurunya. Jangankan terbang, untuk melayangkan diri saja ia harus berupaya keras.
“fokuskan dirimu, Acha!” perintah gurunya.
          Acha mencoba sekali lagi. Ia berhasil melayangkan diri beberapa sentimeter dari lantai, tapi beberapa detik kemudian, tubuhnya perlahan kembali turun ke permukaan lantai.
“apa yang sedang menganggu pikiranmu?” tanya Winda yang menjadi sedikit kesal pada Acha.
          Acha menggelengkan kepalanya. Ia mencoba sekali lagi. Kali ini ia dapat melayangkan tubuhnya lebih tinggi dari sebelumnya. Sama seperti sebelumnya, setelah beberapa detik, ia kembali lagi ke lantai.
“pelajaran kita selesai!” ujar Winda.
          Winda berjalan menjauhi muridnya, dan duduk menghadap ke luar istana. Dari ruangan ini terlihat pemandangan yang indah diluar kota Stars. Tak lama kemudian, putri Acha mendekatinya dan duduk disebelahnya.
“kau adalah seorang gadis yang berbakat dalam sihir, kau tidak akan berhasil dalam sihir atau dalam bidang apa pun bila kau tidak dapat memfokuskan pikiranmu,” keluh Winda yang tidak puas pada muridnya hari ini. “sebenarnya apa yang sedang mengganggu pikiranmu?” lanjutnya.
“aku penasaran dengan peristiwa kemarin,” jawab Acha sambil membasuh wajahnya yang berkeringat.
“peristiwa kemarin adalah peristiwa penting. Entah itu akan berdampak baik atau buruk  bagi kerajaan kita. Menurut sejarah, Cardan lahir dengan peristiwa seperti kemarin akan dapat menyelamatkan, tidak hanya kerajaan Stars, tapi juga daratan Garinka,” jelas Winda. “kau akan memahaminya sendiri,” lanjutnya.
“paman, bila ia ditakdirkan untuk menyelamatkan Garinka. Itu artinya Garinka akan mendapat masalah besar. Masalah yang hanya dapat dituntaskan olehnya,” jawab Acha yang mulai serius dalam pembicaraan ini.
          Winda tersenyum, ia bangga atas kecerdasan Acha dalam menyikapi peristiwa kemarin. Ia memaklumi kecemasan muridnya, karena didalam hatinya terdapat kecemasan yang sama.
“tapi, Garinka sudah pasti bisa diselamatkan, kan?” Winda berdiri dan mulai meredakan kecemasan muridnya. Kemudian ia berjalan kem]luar  ruangan. Ia tak ingin pembicaraan mereka membuat Acha semakin cemas.
“paman, menurutmu apa yang akan terjadi?” pertanyaan Acha membuat Winda berhenti berjalan.
“ingatlah, sepekat-pekatnya kegelapan pada malam hari, pagi akan selalu datang. Kita hanya harus bertahan dikegelapan malam, dan bersabar menunggu datangnya pagi,” jawab Winda. Ia kembali berjalan keluar, meninggalkan Putri Acha duduk sendirian diruangan itu.
          Putri Acha masih duduk termenung menyaksikan matahari yang mulai tenggelam.
          Akhirnya, siang akan berakhir. Sebentar lagi datang malam, beserta kegelapan yang selalu menyertainya. Mampukah aku bertahan? Ujarnya dalam hati.
          Dapatkah ayahku mempertahankan kerajaannya?
          Bebrapa saat kemudia, matahari mulai tak tampak lagi, sinarnya pun sirna. Berganti dengan kegelapan malam. Acha masih duduk termenung memikirkan nasib kerajaannya. Tanpa disadarinya, seorang lelaki duduk menemaninya.
“ada  yang ingin kau tanyakan, tuan putri?” ujarnya ramah.
          Acha terkejut melihatnya, ternyata pria tersebut adalah Duta.
“Winda menyuruhku untuk menemuimu, mungkin kini kita dapat memulai pelajaran kita,” jelas Duta. “atau sebelumnya, adakah yang ingin kau tanyakan?” lanjutnya.
          Acha menghela napas panjang. “pertama, aku ingin tahu tentang dirimu,” kata Acha kepada Duta.
“namaku Duta, umurku beberapa tahun lebih tua dari ayahmu. Dulu aku hanyalah pasukan rendahan di kerajaan ini,” jelas Duta singkat.
          Penjelasan ini belum membuat Acha puas. Ketidakpuasan tersirat jelas diwajahnya. Ia menunggu Duta melanjutkan kalimatnya, namun Duta hanya menggaruk-garukkan kepal. Acha merasa tak nyama berada disebelahnya.
“dapatkah kau menjelaskan tentang  Siafrik?” tanya Acha yang kali ini enggan menghadapkan wajah kearah Duta.
“Siafrik?” Duta masih menggaruk-garuk. “coba kuingat....,” lanjutnya.
          Acha menutup wajah dengan kedua telapak tangannya, merasa kecewa atas pilihan orang tuanya. Tadinya, ia merasa bisa berharap banyak dari veteran ini, namun setelah melihat guru barunya, walaupun baru sebentar, ia langsung merasa ragu.
“apa yang ingin kau ketahui tentang Siafrik?” Duta membalas pertanyaan Acha dengan pertanyaan lain.
“semuanya...,” rintih Acha sambil menghentakkan kedua kakinya ketanah. Kali ini, ia benar-benar kesal.
“Siafrik adalah pemimpin bangsa Moon. Ia akan selalu ada didunia ini, karena langit yang memilihnya,” jelas Duta.
          Mendengar hal itu, acha membalikkan tubuh, berhadapan dengan Duta. Ia mulai serius mendenagrkan.
“ada apa, tuan putri?” Duta merasa bingung melihat Acha sangat serius memandangi wajahnya. “ada yang salah dengan wajahku?” lanjutnya.
“tidak. Tidak. Aku hanya ingin memerhatikan penjelasanmu,” Acha kembeli membalikkan tubuhnya kedepan, tidak lagi menghadap Duta.
“benar? Tidak ada apa-apa diwajahku?” tanya Duta sekali lagi. Acha menggelengkan kepala dan mengisyaratkan Duta untuk melanjutkan penjelasannya.
“siafrik bisa berwujud apapun. Ia mempunyai ilmu yang sangat tinggi. Konon, ia dapat melawan seratus pasukan pilihan kerajaan sekaligus dan memenangkannya,” ujar Duta yang kali ini mulai menggaruk wajahnya yang sudah mulai keriput.
“untungnya, dahulu ia berhasil dihentikan oleh seorang Cardan murni. Tapi, sayangnya, sang Cardan juga ikut terbunuh dalam pertarungan melawan Sifrik,” ujar Duta.
“lanjutkan ceritamu,” sambut Acha yang kali ini mulai antusias dengan cerita Duta.
          Akhirnya mereka berdua menghabiskan waktu berjam-jam. Duta menjawab semua pertanyaan putri Acha, walaupun kadang menghentikan penjelasannya sejenak untuk menggaruk salah satu bagian tubuh atau bahkan menguap. Sekarang, Acha mulai menikmati waktu bersama guru barunya tersebut. Ia merasa pilihan kedua orangtuanya tepat. Ia baru menyadari bahwa ternyata Duta bukanlah seorang pasukan rendahan seperti yang tadi dipikirkannya, melainkan sosok penting pada masanya dan patut dihormati.
          Walaupun Acha masih merasa tidak nyaman dengan tingkah Duta, ia tetap berada disana dan benar-benar menyimak setiap kata-kata Duta. Acha mendapat banyak pengetahuan baru darinya, melengkapi pengetahuannya yang dibacanya dari buku pinjaman kakaknya.

Selasa, 12 April 2011

Cardan Part 2

         Setelah menghabiskan pagi hari berkeliling kota, putri Acha kembali ke istana untuk bersantap siang bersama keluarga kerajaan. Mereka berkumpul dibalkon istana yang luas. Lantainya berlapis batu marmer yang dihaluskan sampai mengilat, sehingga memungkinkan orang untuk bercermin. Balkon tersebut berada dilantai tiga, sehingga pemandangan kota dapat terlihat jelas dari sana. Tampak semua anggota keluarga kerajaan hadir dalam acara santap siang tersebut. Raja gabriel, permaisuri Sivia, Pangeran Ozy, Putri Acha, Winda penasihat kerajaan, Dave Dan Joe dua jendral perang kerajaan. Mereka duduk mengelilingi meja makan berbentuk persegi panjang yang cukup untuk dua belas orang.
“bagaimana harimu, Acha?” tanya Gabriel sambil menyantap makanan.
“aku tadi berkeliling Hinkal. Ayah...rakyat kita sangat membutuhkan perhatian. Tadi, dipasar aku melihat banyak penduduk kita yang kelaparan dan harus mengemis untuk hidup,” jawab Acha.
“itu karena mereka adalah pemalas yang tak berguna!” sela Ozy
“pemalas? Lalu bagaimana dengan kita? Bukankah kita yang pemalas?” bantah Acha. “kita hanya makan-tidur setiap hari. Dan kau, Ozy....,” kata Acha sambil menunjuk ke arah kakaknya. “kapan kau pernah keluar istana untuk melihat rakyatmu? Padahal, kau adalah seorang pangeran yang kelak menggantikan ayah untuk menjadi raja,” lanjut Acha, membuat suasana menjadi hening. “bagaimana kau dapat memimpin?” tanya Acha sedikit berteriak, matanya berkaca-kaca. Ia lalu pergi meninggalkan meja makan sambil meneteskan air mata. Permaisuri Sivia dan Joe langsung mengikuti Acha yang berlari ke kamarnya.
“dasar wanita....,” gumam Ozy sambil terus menghabiskan makanan di piringnya.
“menurutku itu usul yang bagus,” ujar raja Gabriel kepada Ozy, putranya. “sebaiknya kau menuruti usul adikmu tadi. Kau terlalu banyak menghabiskan waktu didalam istana.”
“tapi, ayah, aku menghabiskan banyak waktu didalam istana untuk belajar tentang kepemimpinan, sejarah, dan ilmu hukum yang kelak akan kubutuhkan saat memimpin Stars.” Ozy membantah pernyataan ayahnya.
“ya, aku tahu kau menghabiskan banyak waktu untuk belajar. Tapi semua ilmu yang kau pelajari sama sekali tak akan berguna bila kau tak tahu keadaan rakyatmu,” jelas Gabriel bijak.
“ya....ya...ya...,” ujar Ozy kesal.
***
          Sesampainya dikamar, Acha menutup dan mengunci pintu. Kamar kerajaan: mewah, elegan, dan selalu bersih. Sentuhan pribadi dari pemiliknya membuat kamar itu kehilangan kesan kakunya sehingga yang tercipta adalah kesan menawan dan selalu membuat betah siapa saja yang memasukinya. Ia meringkuk di atas ranjang sambil menangis tersedu-sedu.
“Acha......Acha....buka pintunya....,” teriak Sivia sambil mengetuk pintu kamar Acha.
“nanti saja, ibu! Nanti saja!”
“Acha, ada apa denganmu...ayolah buka pintunya,” Sivia membujuk Acha.
Acha tidak menyahut.
“mungkin sebaiknya kita tinggalkan ia sendiri, ia hanya butuh ketenangan,” usul Joe kepada Sivia.
“baiklah...,” jawab Sivia, kemudian pergi meninggalkan kamar Acha.
“aku hanya ingin keadilam bagi mereka....,” rintih Acha lirih.
          Air matanya jatuh mengalir membasahi pipinya. Rambutnya terurai acak, tangannya dilipat, kemudian ia bersujud didepan jendela kamarnya.
“tolonglah aku, tolonglah rakyatmu, wahai dewi furita, pelindung Garinka!” doa Acha kepada dewi furita.
“asalkan, kau selalu mendengarkanku.” Terdengar suara wanita berbsisik pelan.
          Acha tertegun, “Siapa itu? Siapa?!” Acha berteriak, mengira ada orang yang mengawasinya.
          Tapi sama sekali tak ada jawaban. Acha membuka jendela lalu memeriksa balkon kamarnya, ternyata tidak ada orang. Kemudian ia membuka pintu untuk melihat apakah ada orang diluar kamarnya, ternyata sama sekali tak ada. Lalu ia kembali masuk kedalam dan duduk diranjang.
          Apakah tadi benar-benar dewi furita yang menjawab doaku? Tanya Acha dalam hatinya.
          Putri Acha memimpikan kesejahteraan di Stars. Ia menginginkan persamaan antara kaum bangsawan dan rakyat biasa. Ia kecewa dengan kepemimpinan ayahnya yang selama ini terfokus pada perang di Little (kerajaan tetangga yang telah lama menjadi sahabat Stars. Kerajaan itu terletak diantara Stars dan Moon, musuh bebuyutan Stars. Moon hanya dapat menyerang Stars apabila dapat melewati Little). Ayahnya selalu mengatakan bahwa Little adalah tanggung jawab Stars.
          Joe harus tahu tentang ini! Ujar Acha dalam hati, sambil bergegas keluar dari kamarnya.
          Acha menuruni tangga, menuju lantai dasar istana untuk mencari Joe. Tak sengaja ia berpapasan dengan Shilla, seorang wanita yang telah lama menjadi pelayan istana.
“ada apa, putri?” tanya wanita tersebut ramah setelah membungkukkan tubuhnya, memberi hirmah pada sang putri. “putri tampak tergesa-gesa sekali.”
“apa kau melihat Joe, shilla?”
“Joe menemani permaisuri Sivia.”
“kau tahu mereka kemana?”
“mmmm....sepertinya kembali keruang makan. Ada yang bisa saya bantu, tuan putri?”
“shill...apa kau pernah mendengar suara dewi furita?” tanya Acha berdiri di anak tangga kayu.
“suara dewi furita?” Shilla berdiri disebelahnya
“aku tadi mendengar suara, saat aku berdoa dalam hati, apa kau pernah mendengarnya, Shilla?”
“ya, saya pernah. Dulu saya pernah berdoa kepada dewi furita untuk anak saya. Dan saya mendengar suara jawaban tetapi tidak ada wujudnya. Sama seperti putri,” jelas Shilla
“oh ya, Shilla, berapa umur anakmu?” tanya Acha sambil menuju kamarnya.
“20 tahun. Tiga tahun lebih tua dari tuan putri.”
“aku yakin ia akan menjadi seorang yang besar nanti,” ujar Acha
“terima kasih, tuan putri,” jawab Shilla sambil kembali membungkukkan tubuh.
***
          Penduduk kota terkejut. Mereka tanpa komando, mendadak menghentikan kegiatannya secara serentak. Sejenak mereka takjub dan tidak sempat bertanya apa yang sedang dilihat. Mereka hanya ternganga, melihat cahaya merah menyorot ke langit.
          Begitu pun di istana. Para penghuni istana berhamburan keluar untuk melihat cahaya merah tersebut dengan jelas. Sivia, yang saat itu sedang berada di beranda, langsung berteriak memanggil suaminya. Mendengar teriakan Sivia, Gabriel dan kedua jendral perang segerra berlari ke tempat Sivia berada.
          Gabriel Damanik terdiam melihat kejadian langka tersebut. Wajahnya berkerut penuh tanya. Sekitar lima belas menit cahaya tersebut memancar lalu kemudian menghilang. Mereka tidak dapat mengucapkan sepatah kata pun.
          Gabriel membalikkan badannya yang tinggi kurus. “pergi lihatlah apa yang terjadi disana!” perintahnya kepada Dave.
          Pria tersebut menganggukkan kepalanya dan pergi dari ruangan itu untuk menjalankan tugas dadakan dari sang raja.
***
          Melihat kejadian yang sama, putri Acha yang sedang melatih kemampuan terbangnya, tiba-tiba terjatuh dari udara.
BRUUKKK!
          Putri Acha tidak merasakan sakitnya, ia masih menatap kearah cahaya itu.
“apa itu?” tanya Acha
          Winda, guru sihirnya yang juga melihat kejadian itu menjawab pertanyaan putri Acha. “Mmmm...Garinka akan mempunyai pahlawan baru.”
“tapi kita tidak membutuhkan seorang pahlawan, negeri kita dalam keadaan aman dan tentram,” sanggah putri Acha.
“mungkin akan terjadi sesuatu yang besar nanti,” jawab Winda, parau, sambil membetulkan kacamatanya yang sedikit turun ditulang hidungnya. “aku harus menemui ayahmu sekarang, pelajaran kita selesai.” Winda bergegas pergi.
          Apa yang terjadi? Pikir Acha sambil melayangkan tubuhnya melanjutkan latihan sihir.
***
          Raja Gabriel duduk di singgasananya, ditemani Sivia dan Joe. Para anggota dewan dan mentri istana duduk dibawah singgasananya. Situasi menjadi tegang akibat kejadian yang mereka lihat.
“Gabriel, kau tahu apa yang harus kau lakukan?” tanya Sivia.
          Gabriel terdiam, entah apa yang sedang dipikirkannya. Selama dua puluh tahun Stars berada dalam kondisi aman dan tentram. Perang Zonega adalah kekacauan terakhir yang dihadapi kerajaan ini. Bahkan, rakyat sudah melupakan perang tersebut. Kejadian kali ini dapat merisaukan mereka kembali.
          Sudah beberapa jam mereka menunggu Dave yang ditugaskan untuk pergi menyelidiki kejadian cahaya merah tersebut. Namun hingga malam begini, ia dan beberapa pasukannya belum juga tiba di istana.
          Sivia beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan keluar. Tidak seorang pun menghiraukan kepergiannya. Yang lain masih menundukkan kepala, berpikir. Beberapa dari mereka bercakap-cakap dengan suara yang sangat pelan, mengira-ngira apa yang akan terjadi.
          Permaisuri berjalan menuju ruang pelayan. Ruangan itu terletak dilantai dasar. Bau asap, lemak, bercampur bumbu-bumbu makanan yang sedang dimasak memenuhi ruangan itu. Para pelayan tampak sedang membicarakan kejadian tadi. Mereka berhenti bicara ketika Sivia masuk.
“apa kabar semuanya?” sapa Sivia dengan ramah.
          Namun sama sekali tak ada yang membalas sapaannya. Mungkin mereka terkejut dengan kedatangan permaisuri kedalam ruangan yang tidak seharusnya dimasukinya.
“baik, permaisuri. Ada yang bisa saya bantu?” terdengar suara seorang wanita dari balik ruang cuci pakaian. Ternyata itu Shilla.
“Shilla...bisakah kita bicara sebentar diluar?” tanya Sivia sambil membuka pintu.
“dengan senang hati, yang mulia,” jawa Shilla sambil mengikuti Sivia berjalan keluar, yang disertai penghormatan dari para pelayan lain.
***
“akhirnya kau sampai juga!” kata Gabriel kepada Dave yang telah kembali ke istana.
“jelaskan kepadaku apa yang telah terjadi disana?”
“maafkan kami yang telah membuat baginda menunggu lama, yang mulia! Kami tak menemukan apapun disana, walaupun telah menyisir area tersebut. Aku tak dapat menjelaskan apa pun. Tapi kami telah membawa seseorang yang mungkin tahu,” jelas Dave
“hormat hamba, yang mulia!” ujar Duta sambil berlutut di hadapan rajanya.
“Duta!” Gabriel terkejut.
“benar yang mulia, bagaimana kabar baginda?” jawab Duta sambil tersenyum. Gabriel sangat mengenal Duta karena ia adalah salah satu jendral besardan merupakan pasukan garis pertama dalam perang Zonega. Bahkan ia mendapat tanda jasa terhormat dari Gabriel. Ia memutuskan berhenti dari pasukan kerajaan karena kondisi fisiknya sudah tidak memungkinkan.
“Duta...jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi?”
“mungkin, seorang Cardan baru telah terlahir di Garinka ini,” jawabnya sambil berdiri perlahan.
“kau tahu siapa itu?”
“belum, yang mulia! Namun yang jelas, sang Cardan akan menyelamatkan Garinka.”
“itulah yang sebenarnya kutakutkan...,” ujar Gabriel sambil menyandarkan kepala pada kursi kebesarannya