Tampilkan postingan dengan label Alvin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Alvin. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 Mei 2011

Cardan Part 21

Dari pukul delapan pagi tadi, debo bersama beberapa anak didiknya berusaha keras menjinakkan chiby, anjing yang kemarin berhasil deva tangkap. Keempat kakinya diikat dengan tali, empat orang berusaha mengendalikannya. Debo berjalan mendekat dan memukul wajah binatang tersebut agar tunduk padanya. Namun usaha itu malah semakin membuat binatang tersebut marah dan mencoba untuk menyerang debo, untungnya keempat orang yang mengendalikan empat kaki binatang tersebut berhasil menarik kaki yang mengekang tubuhnya.
          Debo mengusap dahinya, ia tahu bahwa binatang ini sangat berbahaya, binatang ini berhasil melukai empat orang kemarin. Ia benar-benar harus berhati-hati menghadapinya. Kemudian, ia melompat kepunggung binatang itu. Kedua tangannya mencengkram rambut chiby kuat-kuat, berusaha menenangkan chiby yang kini meraung-raung dan berusaha menjatuhkan lelaki yang ada dipunggungnya.
“sebentar lagi kau akan jatuh, debo!” teriak alvin yang berada dihadapannya.
          Mendengar itu, debo semakin mencengkram kuat binatang itu. Badannya terpontang-panting kesegala arah karena binatang itu semakin berusaha untuk melepaskan diri dari cengkramannya. Aku takkan jatuh, pikir debo sambil bertahan diatas tubuh binatang itu. Namun beberapa saat kemudian, binatang itu berhasil melepaskan diri dari cengkramannya. Debo terpental dan terjatuh tepat disebelah alvin.
“bukan begitu cara menjinakkan seekor binatang,” kata alvin sambil membantu temannya berdiri. “perhatikan ini!” lali ia berjalan menuju binatang tersebut.
          Alvin merentangkan tangan kanannya kedepan dan berjalan perlahan menuju binatang tersebut. “tenang, chiby!” ujarnya pelan. Alhasil binatang tersebut seakan tenang dan berhenti bergerak.
          Alvin tersenyum. “butuh kelembutan untuk menenangkan hewan liar,” ujarnya pada debo yang tidak menyangka alvin dapat begitu mudah menjinakkan binatang itu. Tangan kanan alvin berhasil menyentuh kepala chiby, kemudian membelainya. Tapi tiba-tiba chiby menampik tangan alvin dan kembali meraung keras. Karena kaget, alvin melangkah cepat menjauhi  binatang itu.
          Debo tertawa terbahak-bahak. “tidak, alvin, bukan hanya kelembutan yang dapat menjinakkaannya, tapi juga ketulusan. Dan kelembutanmu itu tidak tulus karen kau bukanlah orang yang lembut”
          Pria kecil itu memandang sekelilingnya. Ia menemukan gita yang juga sedang melihat binatang besar itu. “gita, kau boleh menjinakkan chiby!” ujarnya.
          Wajah gita tamapak sangat senang ketika mendengar perkataan debo. Ia kemudian mendektai binatang itu. Wanita itu bisu, tapi entah kenapa ia dapat bersenandung. Senandungnya merdu, seperti sebuah lagu. Selama beberapa menit, gita bersenandung dan akhirnya berhasil menyentuh wajah chiby dan membelainya dengan lembut. Lalu ia mengisyaratkan pada keempat orang yang mengekang chiby untuk melepaskan ikatannya. Mereka menurutinya setelah melihat anggukan alvin.
          Binatang besar tersebut sekarang benar-benar sudah jinak, gita benar-benar berhasil menundukannya. Debo berjalan mendekati alvin. “ia bukan wanita biasa,” ujarnya.
“kau benar. Dulu ketika mengambilnya, aku merasa ia mempunyai sesuatu yang istimewa,” jawab alvin.
          Kedua jendral perang itu mengamati gita dan chiby. Seekor binatang buas yang kini tertidur dipelukan seorang wanita yang sangat lembut.
***
          Hari-hari masih terasa dingin menusuk kulit putihnya dimusin hujan ini. Disatu sisi ia tidak sabar menanti musim panas, ketika bunga-bunga bermekaran, dan disisi lain ia tidak ingin semua ini berlalu karena bau tanah yang beru terguyur hujan sangat menyegarkan untuk dihirup.
          Tiga bulan sudah ia berada di kamp pelatihan ini. Ia telah berubah dari gadis yang selalu berada didepan meja riasnya menjadi seorang penyihir yang dibanggakan oleh gurunya.”kau dapat menjadi seseorang yang dapat kuandalkan dimedan pertempuran,” begitu perkataan gurunya, alvin.
          Tiga bulan lalu, ketika moon menyerang icross, ibukota little, ribuan prajurit moon menyerang dan membantai setiap orang yang ada dihadapannya. Siang itu sebenarnya begitu cerah sehingga ia ingin sekali bermain digunung seperti biasa. Namun, entah kenapa, ayahnya melarangnya untuk keluar rumah. Dan pada saat itu, tersengar suara jeritan dan bau kebakaran, ayahnya memaksa dan mengurungnya didalam sebuah kamar bawah tanah.
          Kamar itu hanya cukup untuk dua orang, jadi hanya ia dan adik laki-lakinya sang berusia enam tahun yang berada disana. Ia memeluk adiknya erat dan membungkam mulutnya ketika terdengar suara jeritan, ayah, ibu, dan seluruh pelayannnya. Ia langsung tahu bahwa ayahnya berniat menyelamatkannya dari orang-orang yang memasuki rumahnya.
          Dengan gerakan lambat, asap keluar dari pintu ruangan tersebut yang tepat berada diatas kepalanya. Ia yakin bahwa rumah yang ditinggalkannya sejak kecil telah terbakar. Ia mencoba sekuat tenaga untuk membuka pintu, tapi sepertinya ayahnya telah mengunci ruangan tersebut dari luar.
          Dalam beberapa menit, ruangan sempit tersebut sudah dipenuhi asap dan hawa panas yang masuk dari lantai diatasnya. Ia menutup tubuhnya dan tubuh adiknya dengan selimut. Hawa panas semakin terasa, ia tidak tahu samapai kapan ia akan bertahan, sesaat kemudian hanya warna hitam yang bisa ia lihat.
           Ia tidak tahu sudah berapa lama ia tak sadarkan diri, yang ia tahu hanyalah seorang pria yang kini telah menjadi gurunya, alvin, sedang membopongnya keluar dari reruntuhan rumah. Kobaran api masih menjarlar dan menjilat belok-balok kayu. Pria itu menurunkannya. Seketika dunia terasa berubah. Kepulan asap merebak dimatanya dan tercium bau hangus yang menyengat.
          Desanya kini menjadi sunyi senyap. Ia melihat beberapa orang terbaring ditanah. Rintik hujan membasahi wajah mereka yang nampak ketakutan. Mereka tak akan bangun lagi. Ia langkahi mayat-mayat itu, mencari keluarganya. Ia sama sekali tidak menemukan keluarganya. Ia berusaha meyakinkandirinya bahwa mereka telah menyelamatkan diri.
          Alvin menyentuh punggungnya. Ia sedang menggendong seorang anak kecil, adik lelakinya. Ia menepuk pelan kedua pipi anak itu dan saat itu juga ia tahu bahwa adik kecilnya telah tiada. Ia berusaha untuk menjerit dan menangis, namun lidahnya terasa kelu dan sejak saat itu ia kehilangan suaranya.
          Dikejauhan ia mendengar langkah beberapa orang. Ia masih seperti bermimpi saat beberapa orang itu mendekat. Tiga orang berpakaian prajurit dengan lambang ular melingkari setangkai bunga. Ia belum pernah melihat ketiga orang itu, tapi ibunya pernah menceritakan tentang lambang itu. Ia langsung tahu kalau itu lambang kerajaan moon.
          Alvin menyembunyikannya dibalik pohon. Dan untuk pertama kalinya ia melihat pertarungan berdarah. Orang yang bermuka lonjong, sepertinya pemimpin mereka, mencabut sebilah pedang. Dua orang lainnya menggenggam tombak. Alvin mengepalkan tangan kirinya, mengelak dari pukulan tongkat, dan tangan kanannya mencengkram kepala seseorang yang memegang tombak. Ia menghancurkan kepala orang tersebut dengan cengkramannya, darah langsung menyembur.
          Lalu secepat kilat ia mendekati si wajah lonjong dan membakar badannya dengan api yang keluar dari kedua tangannya. Orang itu menjauhi alvin dengan jerit kesakitan. Orang yang ketiga menjatuhkan tongkatnya, lalu lari sambil berteriak minta tolong.
          Alvin membersihkan tangannya, lalu ia menuju balik pohon memeluk perempuan malang itu. Sedetik kemudian mereka berdua sudah berada ditempat lain. Gita berdiri dengan keadaan gemetar. Ia menyembah, berusaha bersuara untuk mengucapkan terima kasih. Saat itu juga ia memutusakan untuk mengabdi pada alvin selama hidupnya dan saat itu pula pri aitu mengganti namanya dari gita charni menjadi gita tobing.
          Sejak peristiwa itu, walaupun kehilangan suaranya, pendengaran gita masih normal, namun terkadang ia sering dianggap sebagai seorang yang bisu dan tuli, seperti kebanyakan kaum tuna wicara. Ia tidak pernah merasa terganggu pada anggapan salah padanya, malahan ia merasa itu suatu keuntungan. Ia dapat mendengarkan pembicaraan alvin dan debo dari luar tenda mereka. Ia dapat jelas mendengar keraguan dari keduanya. Suara mereka tampak lesu ketika membicarkan pertempuaran yang akan dihadapi esok lusa. Untuk sesaat ia membuka mulut ketika alvin mengatakan bahwa peluang stars  untuk menang akan sangat tipis, bahkan kemenangan stars ada ditangan ray. Pemuda itu harus dapat mengalahkan siafrik yang diramalkan akan hadir esok lusa.
          Gita menelan ludahnya ketika mendengar bahwa dirinya akan bertugas bersama cakka untuk mendampingi ray. Pertarungan yang akan terjadi di pertarungan melindungi batu suci yang letaknya tepat berada dipusat kota dan dibawah permukaan kota.
          Ia tidak pernah menyangka bahwa dirinya akan mempertaruhkan hidup untuk sebuah kerajaan yang bukan kerajaannya. Little kini masih dalam situasi perang. Isu yang terdengar memang sedikit melegakkannya. Moon sudah mulai mundur dari little, tapi ia belum yakin tentang itu. Ia masih ingin tahu keadaan ayah ibunya disana. Walau alvin mengatakan bahwa mereka pasti telah tiada, gita tidak pernah berhenti berharap untuk keselamatan orang tuanya.

Senin, 09 Mei 2011

Cardan Part 16

Permaisuri sivia sudah bersiap pulang ke istana. Kini tinggal menunggu shilla yang pamit pada anaknya. Ia duduk disebuah kursi kayu dilengkapi busa. Alvin berdiri disisinya.
“sebenarnya, kapan menurutmu mereka akan menyerang hinkal?” tanya alvin pendek pada permaisurinya. “kami harus bersiap terlebih dahulu.”
“aku tidak tahu pastinya. Tapi aku membutuhkan kalian pada hari perayaan dewi furita.” Sivia menjawab tegas. “kau harus membuat strategi yang hebat. Kupikir, jumlah pasukan kita akan jauh lebih sedikit dari pasukan mereka.”
          Alvin menurunkan tubuhnya dan duduk ditanah. “itu dua hari lagi dari sekarang. Bila memang menurutmu kita akan kalah dalam jumlah, kita harus meminta pasukan di little kembali kesini.” Ia memandang wajah permaisurinya. “masih cukup waktu.”
“perjalanan stars-little memakan waktu dua hari. Memang cukup bagi mereka untuk kembali kesini. Tapi kita akan kalah,” jawabnya datar. “mereka pasti sangat kelelahan,” kemudian ia memandang wajah alvin dan menatap matanya. “harapanku padamu sangat besar.”
          Mendengar perkataan permaisuri, alvin terdiam sejenak dan berdiri. “aku sangat berterima kasih akan kepercayaanmu padaku. Tapi maafkan aku, permaisuri, kupikir kau salah. Kita akan menang bila mereka ditarik mundur ke stars dan membantu kita. Memang mereka akan kelelahan tapi aku yakin kita akan menang.” Alvin terdiam sejenak karena permaisuri sivia berdiri ketika mendengar penjelasannya. “bila keyakinanmu sangat besar padaku. Maka kuminta kau percaya sepenuhnya padaku.”
“baiklah, jendral besar,” jawab sivia ramah. “sesampainya di istana aku akan langsung mengirim pesan ke little.”
“jangan, permaisuri.” Alvin menyela. “aku minta kau mengirim pesan itu esok pagi saja.”
          Sivia bingung mendengar saran alvin. Bila pesan dikirimkan esok pagi, mereka akan terlambat sampai ke hinkal, tanpa persiapan. Mungkin saja, ketika mereka tiba, perang telah terjadi. Namun ketika ia melihat sorot mata yang penuh dengan keyakinan dari mata alvin, sivia menganggukan kepala dan menyetujui permintaan jendral besarnya tersebut. Alvin adalah ahli strategi tercerdas di stars. Kemenangan di zonega merupakan bukti bahwa strateginya sangat sulit diduga musuh. Waktu itu alvin belum menjadi ahli strategi utama, tapi ia memberi banyak masukan yang sangat berarti pada duta, yang saat itu menjadi ahli strategi utama.
“dan satu lagi permintaanku, permaisuri,” ujarnya sambil menyisir janggutnya. “aku minta deva, ray, nico, dan edgar dirawat di hinkal. Mereka tidak mungkin pulih dalam waktu singkat bila dirawat disini.”
“aku akan membawa mereka. Tapi kau belum sepenuhnya melatuh ray, apa kau yakin ia akan siap untuk perang nanti?” tanya sivia.
“ia harus sudah siap.” Jawabnya singkat.
          Pukul tiga sore, semuanya telah berkumpul didepan dua kereta yang akan membawa permaisuri sivia, shilla, deva, ray, nico, dan edgar ke hinkal. Sebelumnya alvin meminta mereka untuk berbicara sejenak, ia membahas strategi pasukannya yang akan bergabung bersama mereka di stars pada hari perayaan dewi furita. Saat ini kondisi mereka cukup mengkhawatirkan. Hanya ray dan edgar yang dapat berdiri dan berjalan. Deva dan nico hanya bisa duduk, itu pun dengan bantuan orang lain, sedangkan edgar berdiri tegap dengan sebelah matanya yang ditutupi perban.
“deva, hari itu kau harus sudah mempersiapkan seluruh pasukan yang berada di hinkal,” jelas alvin.”mereka harus sudah siap ketika kami datang. Aku minta seluruh menara dijaga oleh beberapa penjaga dan seluruh sudut kota harus diberi penjagaan.”
“baik, aku mengerti dan aku akan mengurusnya. Tapi ada sesuatu yang mengganjal pikiranku. Mengapa kita semua tidak pergi ke hinkal saja sekarang? Mungkin akan lebih mudah mempersiapkan bila kita semua sudah berada disana.”
“tidak, aku ingin mengejutkan mereka. Lagipula, kupikir sebagian dari mereka akan menyamar sebagai rakyat biasa dan memulai penyerangan dari dalam kota. Kemudian disusul peperangan dari luar kota. Kita akan menyamar sebagai rakyat biasa juga. Jika mereka merasa pasukan di hinkal hanya sedikit, mereka akan lengah.”
          Mereka semua mendengarkan dan memerhatikan seluruh penjelasan alvin dengan cermat ketika ahli strategi itu menjelaskan seluruh rencananya pada selembar peta ota. Permaisuri sivia sangat bangga mendengar rencana alvin. Strategi yang brilian, pikirnya dalam hati. Tapi tak lama kemudian, ia merasa alvin telah melewatkan satu hal, yaitu batu suci stars yang berada di inti kota hinkal : the hinkal core.
          Batu ini akan menjadi sasaran utama bila siafrin benar-benar masih hidup. Batu ini memiliki kekuatan yang sangat besar, sangat berbahaya bila jatuh ke tangan yang salah. Ia mencoba untuk menyela, namun alvin tidak menggubrisnya. Permaisuri sivia memandang wajah polos ray yang tampak sangat serius memerhatikan arahan alvin. Ia masih sangat muda dan ia masih belum siap, pikirnya.
          Setelah setengah jam alvin memberi arahan pada kawan dan anak buahnya, ia membisikan sesuatu pada permaisuri sivia, “siafrik kuserahkan padamu,” bisiknya.
          Sivia memandang wajah alvin lalu menganggukan kepalanya. Ia sadar bahwa alvin sudah cukup sulit memikirkan strategi untuk memukul mundur pasukan moon dari hinkal. Masalah siafrik harus ia pikirkan tanpa mengganggu alvin. Winda pasti bisa membantuku, pikirnya sambil memijakkan kakinya pada pijakan kereta kuda. Para penjaga telah membuka gerbang kamp. Kusir kerajaan memecut kuda lalu pergi, diikkuti kedua kereta kuda lainnya, beserta tiga pengawal.
“apa kau memikirkan tentang kemungkinan siafrik masih hidup?” tanya debo pada alvin yang masih mengamatai peta hinkal.
“bila benar siafrik masih hidup, aku yakin dewi furita tidak akan membiarkan kita kalah pada hari kita memujanya. Lagipula, kita sudah mempunyai cardan murni”
“tapi dia masih kecil, masih sangat kecil,” gumam debo sambil memandang gerbang kamp yang sekarang perlahan mulai menutup kembali.
          Rombongan permaisuri berjalan beriringan. Setelah kurang lebih satu jam perjalanan, kereta kuda itu berhenti. Salah satu pengawal mengetuk kereta kuda sang permaisuri. Ray yang berada disisi pintu, langsung membukanya.
“maafkan kami, permaisuri!” hormat pengawal tersebut. Bisakah salah satu dari kalian keluar” lanjutnya pada deva dan ray.
          Mereka berempat saling pandang. Mereka tahu ada sesuatu yang mencurigakan dalam perjalanan mereka. Deva menegakkan tubuh dan mencoba turun, namun ray mencegahnya.
“lukamu lebih parah dari lukaku. Biar aku saja yang turun dan menemani mereka. Kau harus segera dirawat di hinkal.”
          Ia menginjakkan sebelah kakinya keluar, lalu ibunya memegang lengannya.
“biarkan, ibu, ini sudah menjadi kewajibanku.” Ray tersenyum lalu meminjakka sebelah kakinya yang lain keluar, kemudian menutup pintu kereta.
“ada sesuatu yang mengikuti kita dari tadi,” ujar pengawal tersebut. “aku minta kau menemaniku disini untuk menghentikannya. Namaku satria, dia deva, dan wilson,” lanjut pengawal tersebut sambil memperkenalkan kedua temannya.
          Ray langsung menyukai pria yang berdiri dihadapannya. Wajahnya kokoh, klimis, sorot mata coklat tuanya yang cerdas itu bukan tipe militer kasar yang sangat tidak disukainya.
“namaku raynald prasetya. Aku mengerti, kedua kereta ini harus berangkat sekarang,” jawab ray sambil menggengam erat pedangnya. Sebenarnya dadanya dari tadi masih terasa sakit. Ia hanya memang mengalami cedera di dada. Berbeda deva yang mengalami cedera pada pinggul yang membuatnya tak dapat berdiri kokoh kemudian nico yang lengannya masih terluka parah.
“kita bertiga harus menghentikannya disini,” ujar edgar yang ternyata sudah turun dan telah menggengam cakramnya. “biar kedua temanmu itu tetap bisa mengawal permaisuri pulang,” lanjutnya pada satria.
          Satria menganggukan kepala lalu memerintahkan kusir kereta kuda kembali memacu kuda mereka, kedua temannya juga diperintahkan untuk tetap mengawal kedua kereta tersebut. Permaisuri sivia, shilla, dan deva memandang ray dan edgar yang melambaikan tangan pada mereka.
          Tak lama setelah kedua kereta itu pergi, terdengar teriakan mendekati ray, edgar, dan satria. Mereka bertiga menggenggam erat senjata masing-masing dan bersiap-siap.
“mudah-mudahan penglihatanku salah!” ujar satria sambil menunjuk langit.
“LOGITE!” tiba-tiba ia berteriak
          Seketika itu juga tampak lima ekor logite ( makhluk magis dengan tinggi lebih dari empat meter yang dilengkapi sayap kelelawar besar dan wajah yang sebesar perisai perang. Konon makhluk ini adalah para pengawal siafrik dan mereka termasuk pemakan bangkai. Makhluk itu tidak akan segan mencabik-cabik tubuh lawannya dengan cakarnya yang besar dan giginya yang tajam. ) terbang kearah mereka.
“LARIII!” teriak ray. Ia yakin mereka tidak mungkin menang melawan lima logite.
          Satria dan edgar menyusul lari dibelakangnya. Mereka bertiga berlari sekencang-kencangnya, kabur dan kelima logite yang terbang mengejar mereka. Satria dan edgar jelas tertinggal jauh dari ray. Tiba-tiba satria terjatuh, kakinya terpeleset oleh akar-akar pohon. Ia berteriak. Kakinya terkilir. Edgar yang mendengar teriakan satria langsung berlari ke arahnya dan membopong rekannya itu sambil mencoba tetap berlari.
          Namun derap kakinya terhenti ketika seekor logite menjejakkan kakinya tepat dihadapan mereka berdua. Logite tersebut berteriak nyaring setelah mengendus edgar dan satria. Edgar meletakkan satria yang tak bisa berdiri
“jangan mencoba memanggil teman-temanmu kemari,” ujarnya pada makhluk tersebut sambil mengarahkan cakramnya.
          Sang makhluk mungkin mengerti ucapan dari edgar karena beberapa saat kemudian ia berhenti berteriak. Sorot matanya sangat tajam dan giginya mulai menciutkan nyali edgar. “furita, bantu aku!” gumamnya sambil melemparkan cakramnya tepat mengenai kepala logite tersebut, lalu cakram itu berbalik, kembali ke telapak tangannya.
          Logite tadi berteriak kesakitan, memegang kepalanya dan mulai berjalan menjauhi edgar. Edgar yang merasa ini merupakan kesempatan untuk melarikan diri, langsung kembali membopong satria dan berlari. Tidak sampai beberapa meter berlari, langkahnya terhenti lagi. Kali ini tidak hanya seekor logite yang menghadangnya, melainkan empat ekor. Mereka berdiri dan berteriak-teriak didepannya. Hidupku bisa berakhir sekarang bila aku melawan mereka sendiri, pikirnya sambil melangkah mundur.
“RAY!!!!!!” teriaknya ketika keempat logitetersebut mulai mendekatinya, seekor lagite bahkan sudah menunggunya dibelakang.
          Salah satu logite mulai menyerang edgar dan disusul oleh yang lainnya. Mereka mencoba mencabik edgar dengan cakarnya yang panjang, edgar sama sekali tidak menyerang balik. Ia hanya mencoba menangkis dan menghindar dari serangan-serangan yang bertubi-tubi ke arahnya. Aku akan mati, pikirnya ketika cakram andalannya terpental jauh saat menangkis seraangan.
“ARAS! ARAS!!!” ia terus berteriak saat salah satu logite mencengkram satria dan membawanya terbang.
          Ray menghentikan larinya ketika sayup-sayup mendengar suara teriakan dari seseorang, saat itu juga ia baru menyedari bahwa satria dan edgar tidak ada dibelakangnya. Ia segera kembali ke sumber suara. “kuharap belum terlambat!” gumamnya pelan.
***
          Edgar kini benar-benar terdesak, jaraknya dengan empat logite terus mendekat. Ia tahu benar bahwa kini ia berada dalam posisi sangat sulit. Jangankan menyerang, bergerak pun sudah sangat sulit. Ia meundukkan kepala, wajahnya tertutup rambut hitamnya. Ia terdiam diri sejenak. Saat salah satu logute mendekatkan wajahnya yang sebesar perisai besi ksatria pada tubuhnya, secepat kilat edgar melompat dan menerkam kepala yang mendekatinya. Tangan kirinya mencengkram alis mata logite, dan tangan kanannya memukul wajah makhluk tersebut secara beruntun.
          Pukulan pertama sangat telak dan membuat logite tadi berteriak kesakitan serta berusaha melepaskan edgar. Tiga logite lainnya mulai mencakar punggung edgar, meskipun demikian, ia tidak melepaskan cengkramannya dan tidak berhenti melesatkan pukulannya. Kini, logite tadi mulai membanting-bantingkan tubuhnya pada tanah dan pohon agar edgar lepas dari wajahnya yang mulai mengeluarkan banyak darah. Setelah pemuda itu lepas, makhluk itu kabur karena terluka parah diwajahnya.
“tunggu aku, edgar!” ujar ray yang sudah berada diatas pohon. Ray melemparkan buah yang dipetiknya dari pohon tempatnya tadi berdiri ke arah para logite itu, ketika logite yang menyerang edgar kini mengalihkan perhatiannya pada ray. Mereka berjalan mendekat. Ray kini melompat kebawah, menggerakkan tangan dan menantang mereka. Edgar yang berada disebelahnya sudah kelelahan melepaskan cengkramannya kemudian terjatuh.
“apa kau masih bisa berjalan, edgar?” tanya ray lantang disela-sela perkelahian. Edgar mulai mencoba berdiri.
“kurasa masih bisa!” rintih edgar. “mari kita bunuh mereka semua!”
“tidak! Kau harus pergi sekarang. Serahkan mereka bertiga padaku!” jawab ray tegas sambil memerhatikan tiga makhluk raksasa yang semakin dekat.
          Apa yang dia lakukan? Pikir edgar sambil memandangi ray yang mengisyaratkan dirinya untuk pergi meninggalkannya sendiri? Pertanyaan itu terngiang ditelinganya ketika memungut cakramnya.
“PERGI!!! SEKARANG!!!!!” ray kembali berteriak lantang.
          Sorot mata ray menunjukkan keyakinan yang sangat tinggi, membuat edgar memutuskan untuk meninggalkannya.
“kuharap kau baik-baik saja!” gumamnya pelan sambil berlari meninggalkan tempat tersebut.
“baiklah, sekarang tinggal kita berempat!” kata ray pelan.
          Salah satu logite menoleh kearah edgar yang sedang berlari, namun ketika makhluk itu hendak mengejarnya, secepat kilat ray menyabet kaki makhluk tersebut dengan pedangnya. “biarkan ia pergi!!!!”
          Logite tadi mengerang kesakitan dan membuat dua logite lainnya marah. Ray mulai melangkah mundur. “tempat ini terlalu sempit untuk kita berempat. Mari kita mencari tempat yang lain,” katanya sambil berlari kearah yang berlawanan dengan edgar. Kedua logite langsung terbang mengejarnya, logite ketiga juga menyusul mereka.
          Ray berlari kencang sambil terus memikirkan cara mengalahkan makhluk-makhluk menyeramkan itu. Saat ini ia Cuma berlari karena yakin bahwa kecepatannya tidak mungkin ditandingi oleh mereka. Ray merasa beruntung karena hutan ini sangat lebat sehingga mudah baginya untuk berlari menyusup diantara pepohonan yang menyulitkan makhluk sebesar logite. Beberapa kali ketiga logite itu membentur pohon yang menghalangi mereka.
          Tiba-tiba ia berhenti dan menyadari bahwa sudah tidak ada lagi jalan dihadapannya. Ia berdiri ditepi jurang, ia mengamati jurang tersebut dan menghitung kedalamannya. Ini saatnya untuk menghadapi mereka, pikirnya sambil membalikkan badan dan menemukan dua daro mereka dihadapannya. Ray menggenggam pedang dengan dua tangan dan mengarahkannya kedepan. Namun dalam sekejap logite yang tadi dilukainya mencengkram kaki kanannya dan membawa tubuhnya keudara. Ray tidak bisa melakukan apa pun, badannya terbalik, dadanya terasa sakit saat ia mencoba mengangkat tubuhnya untuk menggenggam pedangnya.
          Selama ada pedang ditangannya, ray percaya bisa mengalahkan hewan-hewan itu. Dalam posisi terayun-ayun di udara ray mengambil ancang-ancang untuk menyerang. Setelah dirasa tepat ray melemparkan pedangnya sekuat tenaga ke tubuh makhluk tersebut. Pedang itu mendarat tepat mengenai jantungnya. Makhluk itu meronta, ray semakin terayun-ayun ke udara. Namun tak lama hewan itu terkulai, mematahkan dahan-dahan pohon disampingnya. Ray terlepas dari cengkraman. Dengan cepat ray meraih badan logite agar tidak terpental di tanah.
          Tak lama kemudian logite lainnya mendarat dihadapan ray. Keduanya memandangi temannya yang sudah mati, kemudian memandang ray dengan penuh amarah. Mendadak ray tidak mampu berdiri, tulang-tulang kakinya terasa sangat ngilu dan tidak mampu menopang tubuhnya lagi. Ia berlutut dan bertumpu pada pedang yang ditancapkannya ketanah.
          Ia mulai berpikir inilah akhir hidupnya, ketika dua makhluk tersebut mulai berjalan mendekatinya. Pada saat kedua makhluk itu telah berada sekitar tiga meter dari dirinya, ia mencoba cara terakhirnya.
“AAAAAAAAAAAAAKKKKKKKKKKKKKKKKKHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!!!!” ray berteriak
          Tiba-tiba kedua makhluk tadi menunjukkan wajah ketakutan dan terbang meninggalkan dirinya dengan terburu-buru. Ray tak percaya upayanya yang terakhir bisa membuat makhluk-makhluk itu kabur dan ketakutan. “makhluk yang aneh,” gumamnya kecil sambil mulai mencoba untuk berdiri.
          Tak berapa lama, ia terkejut ketika melihat makhluk seperti manusia seukuran telapak tangan terbang disamping wajahnya, ia lalu memandang sekeliling, ratusan makhluk yang sama jenisnya terbang mengitarinya. Ray tidak tahu bahwa dua logite tadi pergi bukan karena teriakannya tapi karena melihat ratusan makhluk itu. Ia terjatuh, lunglai dan tak sadarkan diri karena kehabisan tenaga.
***
          Ray terbangun, mengetahui bahwa ia tak sadarkan diri cukup lama. Ketika membuka matanya, ia melihat seorang wanita duduk dihadapannya, wanita yang beberapa waktu lalu ditemuinya di hinkal ketika hendak mengambil pelana kuda pesanan duta. Wanita itu tersenyum kearahnya, menuangkan sup kedalam sebuah mangkuk yang terbuat dari batok kelapa, dan memberikannya pada ray.
“minumlah ini. kau sangat kelelahan, anak muda,” ujarnya. “ini dapat mengembalikan tenagamu.”
          Ray mengambil mangkuk tersebut dan meminumnya perlahan-lahan. “siapa kau? Mengapa aku bisa sampai kesini?” tanya ray. Sebenarnya ia sedikit risih dengan wanita itu.
“namaku ira,” jawabnya. “anakku yang akan menjelaskan mengapa kau bisa berada disini. Ia sedang bersama temanmu, memeriksa daerah ini bebas dari logite.”
          Ray lega mendengar perkataan dari wanita itu. Berarti edgar atau satria selamat dari para logite yang tadi menyerangnya. Sambil menghabiskan supnya, ia mengamati ira.
          Semua itu tersirat dikepala ray, juga tentang makhluk yang baru ia lihat tadi. Pria berukuran setelapak tangan dan mempunyai sayap seperti capung. Tak lama kemudian, ia teringat pada dongeng ibunya. Cerita tentang seorang nenek sihhir dan para peri. Ira sangat cocol menjadi nenek sihir. Sedangkan makhluk yang barusan ia lihat mirip peri. Aku mungkin sudah gila, pikirnya lagi.
“halo, ray!” sapa edgar yang muncul dari jalan setapak. “bagaimana keadaanmu?”
          Bukannya merasa senang, ray sangat terkejut melihat temannya. Tubuhnya tampak sangat bugar, berbeda sekali dengan yang dilihatnya terakhir kali. Tidak ada lagi balutan perban di tubuhnya. Tak mungkin edgar dapat pulih sedemikian cepat. Ia menyuruh temannya duduk disebelahnya.
“apa yang sebenarnya terjadi?” bisiknya.
“wanita itu telah menyembuhkan semua lukaku. Kuakui, ia lebih baik dari gita.” Edgar membantu ray untuk berdiri. “ dan oik, anaknya, adalah seorang peri yang sangat hebat. Ia yang menyelamatkanmu dari para logite tadi.”
          Wajah ray terlihat bingung. Ia tak percaya makhluk yang dilihatnya benar-benar peri. Sekarang ia benar-benar tidak bisa memercayai apapun, ternyata semua cerita ibunya benar-benar nyata. Kemudian ia bertanya, “apakah kau yakin ia adalah peri? Apakah nenek itu adalah nenek sihir?”
          Edgar menggelengkan kepala dan tersenyum lucu. “tidak, ia bukan nenek sihir jahat seperti cerita dongeng, walaupun ia mempunyai sihir yang kuat. Dan oik benar-benar seorang peri.”
“bagaimana kabar satria?” tanya ray
“logite membawanya,” ujar edgar
“apa kau masih mengenalku, ray, si anak sanggu?” tiba-tiba terdengar suara dari atas.
          Ray dan edgar mendongakkan kepala, melihat peri yang terbang melingkar dikepala mereka, lalu terbang ke hadpan mereka.
“kau pasti mengenal ibuku, kita pernah bertemu dikota. Kau memberiku sepotong roti gandum,” ujar peri tersebut.
          Mata ray terbelalak melihat peri itu. Lalu ia mengingat kejadian ketika ia bertemu ira dikota. Benar, ira waktu itu bersama anaknya, tapi ia yakin anaknya adalah seorang manusia bukan seorang peri.
          Lagi-lagi peri tersebut mengejutkan ray, dalam sekejap ia berubah menjadi anak kecil yang beberapa waktu lalu dilihat ray dikota. Ray mesih mengingat benar wajah kumal dan mata bundarnya. Ya, inilah anak kecil yang ditemuinya.
“aku dapat mengubah diriku menjadi apa saja! Seperti tadi, aku memperbanyak diriku menjadi ratusan. Walaupun hanya ilusi, semua itu membuat para logite tadi ketakutan,” ujar oik, lalu ia kembali berubah menjadi peri. “ibuku juga seorang peri, tapi ia lebih suka menjadi seorang manusia.”
          Ray teringat akan misinya, ia harus cepat menuju hinkal. Deva akan membutuhkan dirinya dan edgar. “maaf, oik, aku sangat berterima kasih atas seluruh bantuanmu, tapi kami harus segera berada di hinkal.”
          Edgar beru menyadari hal tersebut. Ia kemudian mengganggukan kepalanya pada oik, menyampaikan ucapan terima kasihnya pada ira yang masih mengaduk sup di kualinya.
“anak sanggu, apa kau kira kau dapat menang melawan siafrik dan menyelamatkan stars dengan kemampuanmu yang masih belum terlatih?” tanya oik pasa ray.
          Suasana menjadi hening, ray tahu bahwa dirinya sangat jauh dari siap. Apalagi bila harus melawan siafrik. “apa maksudmu?” tanyanya.
“ibuku dapat memberimu waktu ddan tempat untuk berlatih”
          Ray menaikkan sebelah alisnya, “aku hanya punya waktu dua hari, apa maksudmu memberiku tempat dan waktu?”
          Oik menyuruhnya menghampiri ibunya. Ray menurutinya, ia berdiri didepan kuali besar berisi sup yang sedang diaduk oleh nenek tua itu.
“ibu, inilah saatnya,” ujar oik pada ibunya. “kau mempunyai waktu dua bulan didunia ibuku. Ia akan menemanimu disana, sedangkan aku dan edgar akan berjaga disini. Dan asal kau tahu, ibuku tidak suka berbicara.”
          Ray masih belum mengerti semua yang dikatakan peri ini, namun perlahan ira menyentuh tangannya, dan kemudian keduanya pingsan tak sadarkan diri.
“ia pasti sangat kesal,” kata edgar. “ia sudah sering kali dibuat pingsan. Tapi apa maksudmu, ibumu dapat memberinya waktu dan tempat?”
          Kemudian, peri tersebut menjelaskan bahwa ibunya mempunyai kemampuan untuk membawa jiwa orang lain dan dirinya kesebuah dunia lain. Mirip seperti tertidur, namun segalanya terasa nyata. Dunia tanpa seorang pun disana, dan satu hari disini sama dengan satu bulan disana.
          Dalam sekejap, ray sudah berada disebuah tempat yang tidak dikenalnya. Ia dan ira berada disebuah bukit. Ia tahu bahwa ini bukanlah dunianya, disini siang hari sedangkan dunia yang tadi ditinggalkannya malam. Kemudian ia memandang ira yang ternyata membawa kuali dan masih saja mengaduk isinya.
“disini tidak ada malam,” ujar ira parau, mengeluarkan sebuah jam pasir dari balik bajunya. “ini penunjuk  waktu. Bila tabung bawahnya penuh, itu waktunya untuk pulang. Kita berada disini selama dua bulan, dua bulan disini sama seperti dua hari diduniamu. Kupikir, itu cukup untuk melatih kemampuanmu. Dunia ini sama ukurannya dengan duniamu. Disini terdapat banyak makhluk yang dapat kau jadikan sarana latihan, disini tidak ada seorang pun manusia selain kau dan aku. Kau bebas pergi kemana pun kau mau, aku akan berada disini dan membuatkan makanan untukmu.”
          Mulut ray menganga mendengarnya, beberapa hari ini ia mengalami banyak hal yang tidak dapat diterima akalnya. Aku pasti sudah gila, pikirnya sambil memandangi tempat tinggal barunya selama dua bulan kedepan.

Sabtu, 23 April 2011

Cardan Part 11

Shilla berjalan menuju pintu belakang istana yang akan membawanya menuju gerbang dan pulang. Kali ini langkahnya terasa berat, ia tahu, anak lelakinya tak akan lagi menunggu dirumah dan memijat punggungnya. Bahkan, siang tadi, ia merasakan sebuah firasat buruk tentang Ray.
***
          Pukul enam pagi keesokan harinya, Sivia, Shilla, serta beberapa pengawalnya siap berangkat dari Hinkal. Setelah mencium kening anak-anaknya dan mendapat persetujuan dari Gabriel, Sivia berangkat. Ia berbohong pada Gabreil tentang tujuannya, mereka bilang akan pergi ke sebuah ladang pertanian dekat Hinkal untuk mengamati perkembangan ladang. Sivia selalu berbohong tentang keberadaan Alvin dan kampnya, bahkan suaminya tidak mengetahui bahwa ia mempunyai indra keenam, yang membuatnya bisa mengetahui kejadian yang akan datang.
          Dengan mengendarai sebuah kereta kuda yang mewah dihiasi ukiran emas dan kursi busa berlapis kulit pilihan, mereka keluar dari Hinkal. Mereka akan menempuh kurang lebih dua jam perjalanan. Shilla yang duduk disebelah Sivia mulai resah.
          Apakah aku harus memberitahunya, ia bertanya-tanya dalam hati. Apakah ia akan marah?
          Sampai detik ini Shilla belum memberitahu permaisuri Sivia tentang Ray. Ia memandang wajah cantik Sivia yang kini disinari cahaya pagi. Namun Shilla masih belum mengatakannya. Bibirnya terasa selalu menutup dan melarangnya berkata-kata.
          Pandangannya terpaku melihat pepohonan yang dilaluinya. Pikirannya mencemaskan anak tunnggalnya. Kenangan pahit karena ditinggal ayah dan suami melekat dibenaknya. Kemudian ia tersenyum, betapa berarti keluarganya bagi Stars.
“permaisuri, ada yang ingin kusampaikan,” ujar Shilla lembut.
          Tak lama kemudian kereta kudanya berhenti.
“nanti saja Shilla, sekarang kita harus menemui Alvin terlebih dahulu!” jawab Sivia pendek, lalu turun dari kereta kudanya.
***
          Alvin dan Debo berdiri tegap memimpin barisan pasukan kereta kuda permaisuri memasuki kamp. Mereka serentak berlutut hormat ketika permaisuri Sivia membuka pintu dan turun dari kereta kudanya. Mereka baru berdiri ketika sang permaisuri meminta mereka berdiri. Alvin dan Debo mencium tangan Sivia sebagai sambutan ramah dari mereka.
          Kemudian mempersilakan permaisuri berjalan menuju tengah kamp. Mereka telah menyiapkan sebuah meja besar yang sekelilingnya dihiasi bunga-bunga.
          Sivia duduk dikursi utama. Tak lama kemudian datang beberapa orang yang membawa buah-buanhan dan sebotol anggur.
“maaf, tapi hanya ini yang bisa kami sajikan, yang mulia,” kata Alvin
“justru ini adalah sajian favoritku. Kau bisa tanya Shilla,” jawab Sivia sambil mengambil sebuah jeruk kemudian mengupasnya. “aku ingin bertemu dengan Cardan baru kita dan....mmmm....kemana jendral kesayanganku?”
          Alvin terdiam, kemudian menatap Shilla yang duduk disebelah sang permaisuri. “Deva kemarin cedera sewaktu menangkap hewan tempur kami.” Alvin kembali menghentikan penjelasannya sebentar karena sang permaisuri memandangnya serius. “dan Cardan baru kita pun ikut cedera karena membantu Deva. Sekarang mereka sedang dalam perawatan intensif ditenda medis kami.” Alvin memandang Shilla. “maafkan kamu, Shilla”
          Mendengar hal itu, Shilla terkejut lalu menoleh ke arah Debo.
“dimana tenda medis itu?” sela Shilla sedikit lantang. Debo menunjuk kesebuah tenda besar yang berada belasan meter disebelah kanannya. Shilla langsung berlari kesana.
          Sivia sedikit mengernyitkan alis ketika Shilla meninggalkannya tanpa permisi. “kenapa Shilla begitu terkejut, dan mengapa kau meminta maaf kepadanya?”
“apakah ia belum menceritakannya?” tanya Alvin kaget.
“Cardan baru itu adalah putranya Shilla.”
          Sivia menelan ludah. Ia tidak menyangka bahwa telah lahir satu calon pahlawan lagi dari keluarga Shilla. Padahal ia tahu, semenjak suaminya meninggal, Shilla menginginkan keluarganya hidup tenang tanpa mengenal perang lagi. Bahkan minggu lalu, Shilla menceritakan rencananya untuk memasukan anaknya ke sebuah universitas di Stars. Ia pasti sedih dan gundah, pikirnya.
          Kemudian Sivia mencoba mengingat rupa anak Shilla. Sivia sudah lupa, karena sudah tiga belas tahun tidak bertemu. Terakhir, Shilla membawanya ke istana ketika usianya lima tahun. Seorang anak pemalu dan pendiam, ingatnya. Dulu ia suka berada ditaman istana bersama Ozy dan Acha. Anak itu sulit membaur dan hampir tidak pernah benar-benar bermain bersama kedua anaknya. Anak itu hanya duduk dan memandang langit. Ya, itu kebiasaannya. Anak itu pasti sudah tak mengenalku, pikir Sivia. Ia lalu berdiri.        
***
          Deva, Ray, Edgar, dan Nico masih belumboleh turun dari ranjang. Tubuh mereka membutuhkan istirahat. Banyak sekali luka memar dan perban ditubuh mereka. Para ahli medis dan penyihir selalu mengawasi  perkembangan mereka setiap saat. Bahkan Gita sudah semalaman mengompres punggung tangan Deva yang bengkak. Sebenarnya, Deva, Ray, Edgar, Nico, serta Gita telah sadarkan diri, bahkan keempatnya sudah bercakap-cakap ringan walau masih terbaring diranjang.
          Tiba-tiba Shilla masuk kedalam tenda dan menoleh kanan-kiri, mencari Ray. Matanya langsung berair ketika melihat Ray sedang terbaring diranjang ketiga, dengan dada penuh perban dan mata kiri yang lebam. Ray menyambutnya dengan senyum kecil. Shilla meletakkan jemarinya dibibir Ray ketika Ray hendak menyapanya.
“sudah, nak. Simpan dulu tenagamu!” ujar shilla disertai beberapa isakan kecil. “maafkan ibu!”
          Mendengar perkataan ibunya, Ray menggelengkan kepala. Ia tahu bahwa ini adalah pilihannya. Ia senang bisa mengalami pertarungan dalam beberapa hari ini. Pertarungan yang sangat penting baginya.
          Ibunya pernah bilang, kini dunia membutuhkan seorang ilmuwan, “dan itu yang uharapkan darimu,” ujar Shilla waktu itu. Namun Ray tidak mau menghabiskan hidupnya sebagai ilmuwan. Ia sangat mengagumi sosok ayahnya dan ingin menjadi seorang jendaral perang seperti ayahnya.
          Ray tahu kejadian kemarin adalah sebuah berkah besar baginya. Kini ibunya sudah tidak dapat lagi melarangnya untuk melajar bela diri dan menjadi seorang ksatria. Sekarang banyak orang yang menaruh harapan besar kepadanya, dan ia belum tahu apa yang sebenarnya harus ia hadapi.
          Sesaat kemudian, Alvin masuk dan duduk disisi ranjang Ray.
“ia anak yang sangat kuat. Ia akan segera pulih, Shilla.”
          Shilla masih membelai rambut Ray dengan lembut. Sorot matanya menunjukkan bahwa ia belum merelakan Ray menjadi sesuatu yang sangat tidak ia inginkan. Namun, dalam benaknya ia sangat bangga kepada anaknya. Usianya baru dua puluh tahun, tapi sudah terpilih menjadi Cardan. Sebenarnya, ia sudah tahu bahwa anaknya akan menjadi seseorang yang sangat special karena saat ia lahir, cahaya bintang Sanggu sangat terang dan mengalahkan cahaya dua bintang lain. Joan dan colt hampir tidak terlihat. Tubuh ray diselimuti cahaya merah dan beberapa peramal datang untuk memberi bayi kecilnya penghormatan. Bahkan, waktu itu Gabriel dan Sivia langsung mencium Ray. “inilah anak dari pahlawan kita!” sambut mereka.
***
          Shilla berdiri disisi tebing disekitar kamp, memandang hutan Dio yang terlihat jelas dari sana. Pikirannya tertuju ke ayah dan suaminya. Apakah ini takdirku? Pikirnya sambil memandang langit. Kerudung ungunya hampir terbang tertiup angin. Sudah sekitar setengah jam ia berada disana, dan ia sempat meneteskan air mata. Matanya tertutup ketika angin dingin datang bertiup ke wajahnya. Aku bangga kepada mereka semua, pikirnya.
          Tak lama kemudian permaisuri Sivia menghampirinya, berdiri disamping kanan dan menggenggam tangannya. Rambut panjangnya terurai bergelombang tertiup angin. Wajahnya yang putih terangkat menghadap angkasa. “ia dapat mengalahkan mereka,” ujarnya pendek pada Shilla.
          Shilla menyentuh liontin pernikahannya. “Ray,” gumamnya pelan. “dua lelaki yang sangat kucintai.”
          Mendengar itu, Sivia menoleh dan menatap lembut. “ya, Ray. Dua lelaki yang pernah dan sedang sangat dibutuhkan Garinka.” Ia menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutup wajahnya karena tertiup angin. “anakmu akan baik-baik saja. Benakku mengatakan jalannya masih panjang. Jadi, kau tidak perlu khawatir kehilangannya.”
“aku sudah pernah merasakan kehilangan,” jawab Shilla pendek. “kini, ia bukan milikku seorang. Tapi milik seluruh negeri.”
          Sang permaisuri semakin erat menggenggam tangan pelayan sekaligus sahabatnya itu. Ia tidak ingin lagi mengeluarkan kata-kata. Shilla butuh ketenangan. Ia akan hanya berada disisinya, menemaninya memandang langit dan merasakan angin siang itu.

Cardan Part 10

Siang ini, Deva ditugaskan Alvin untuk menangkap seekor hewan dipedalaman hutan. Menangkap hewan yang mempunyai kekuatan tempur bukanlah tugas ringan.
          Deva menjelaskan rencananya kepada anggota tim. Terdiri dari Ray, Gita, dan dua orang pemuda pilihan Alvin: Nico dan Edgar. Ray menggantikan Cakka yang hingga kini belum kembali, sejak pertarungan malam itu. Ray dipersilakan membawa pedangnya kembali. Mereka harus pergi kedalam gua yang menurut perkiraan Deva adalah tempat tinggal hewan tersebut.
          Setelah kurang lebih setengah jam Deva mempersiapkan timnya, mereka berangkat dari kamp pelatihan. Berjalan menyusuri jalan setapak hutan, Deva berada paling depan dengan membawa barang kesayangannya, yang sudah tampak hitam dan berkarat, namun uniknya masih bisa memotong dan membabat batang-batang pohon yang menghalangi jalan mereka. Gita berjalan dibelakangnya, kemudian Ray, lalu Edgar. Nico terbang diatas mereka. Perjalanan panjang yang cukup melelahkan, karena mereka harus melewati beberapa bukit.
***
          Deva dan regunya menunggu hewan itu diluar gua, dibalik batu besar. Ketika menit-menit berlalu, hewan itu tidak juga muncul, ia menyuruh regunya beristirahat sebentar. Untunglah, ia seorang pencari jejak yang handal, ia menggengam tanah lalu mengendusnya. Insting yang sudah membantunya selama bertahun-tahun kini memberitahunya bahwa hewan ini ada di sekitar mereka dan sedang mengawasinya.
          Dengan cermat Deva mengamati semua sela yang dapat membantunya menemukan hewan tersebut. Seekor anjing hitam besar, kutipnya dalam hati sebagaimana perkataan Alvin. Ia berjalan sendiri mengitari tempat tersebut, memeriksa semua kotoran, tetesan air, bahkan setiap batang pohon yang patah.
          Beberapa bulan lalu ia berhasil menemukan dan menangkap Warcliff dan sukses melatihnya menjadi seekor hewan tempur. Kali ini ia pun berharap demikian. Namun sepertinya ia harus menunggu beberapa jam lagi untuk menemukan hewan ini. Ia melihat jejak yang tampak baru saja ditinggalkan, jejak menjauh dari gua. Mungkin ia pergi umtuk minum atau mencari makan, pikirnya sambil menuju regunya yang sedang beristirahat.
          Ray tidak keberatan memakai waktu istirahatnya untuk memijat pergelangan kaki kiri Gita yang tadi sempat terkilir ketika meniti bebatuan di pinggir sungai. Ia melepaskan sepatu kulit Gita yang tingginya selutut. Walaupun mempunyai kekuatan menyembuhkan, Gita tidak dapat menyembuhkan dirinya sendiri. Kakinya terkilir.
          Selama satu jam mereka menunggu hewan itu muncul dan kembali kesarangnya. Sekarang sudah pukul lima sore, Deva tahu bahwa akan semakin sulit menangkapnya bila matahari sudah tenggelam. Hewan ini mungkin mempunyai penglihatan lebih tajam dari mereka semua pada malam hari. Deva masih berdiri menatap matahari yang sebenatar lagi akan menghilang.
          Tiba-tiba terdengar suara dari sela-sela rerumputan. Deva mengisyaratkan regunya untuk bersiap dan berjaga. Dengan langkah kaki ringan, Deva mendekatisumber suara tadi. Ia berjalan perlahan dan nyaris tak bersuara, jarak antara dirinya dan sumber suara tadi kini tinggal selangkah lagi. Kedua matanya tetap sigap melihat setiap gerakan. Kemudian ia melompat ke atas reruputan tadi.
          Regunya yang dari tadi hanya memerhatikan, mulai gusar karena Deva tak lagi terlihat oleh mereka. Mereka berempat berjalan mendekat, hampir sama dengan cara Deva tadi, mencari tahu apa yang terjadi dengan Deva. Namun, beberapa detik kemudian, Deva berdiri dan tangannya sudah ada seekor anak tupai. Keempatnya bersamaan menghela napas lega melihatnya.
“hanya seekor anak tupai yang jatuh”
          Deva tersenyum sambil membelai-belai anak tupai tersebut.
“Nico, coba kau terbang dan cari jejak hewan itu!”
          Mendengar perintah dari gurunya, Nico bersiap terbang. Seperti biasa ia memulainya dengan menghentakan kakinya, kemudian mendorongnya ke udara. Tapi belum sampai dua meter ia terbang, seekor hewan besar berwarna hitam menerkamnya dari balik semak dibelakangnya. Deva ternganga melihat hewan besar yang tenyata seekor anjing yang sangat besar. Tingginya dua kali lipat tinggi Deva. Wajahnya bengis, matanya bulat hitam menyorot tajam. Hidungnya pesek dan berair. Pipinya jatuh karena kulitnya yang kendur, sangat menakutkan bila ia terlihat menggeram, menunjukkan gigi-giginya yang mengilat. Hewan itu menggigit tangan kanan Nico dan membanting-bantingnya ke tanah. Keempat kakinya berdiri kokoh.
          Deva langsung melentingkan badan, melompat ke punggung  anjing itu dan menggenggam erat kedua telinganya. Deva menarik-narik kedua telinganya untuk mengalihkan perhatian. Tapa komando, Ray dan Edgar memukul-mukul kedua kaki depan anjing tersebut. Ray yang kiri dan Edgar yang kanan. Gita melemparkan bola apinya pada wajah anjing tersebut.
“tembak matanya!!” seru Deva kepada Gita
          Gita berkonsentrasi untuk melepaskan bola apinya. Ia membuka tangan kanannya, seperti sedang menggengam sesuatu, beberapa saat kemudian sebuah bulatan api berwarna biru tercipta genggamannya. Ia melemparkannya, tepat mengenai mata anjing tersebut. Anjing itu melepaskan gigitannya dan melolong kesakitan. Badannya meronta. Deva melompat dari punggungnya, kemudian Ray dan Edgar berlari, lalu berdiri disebelahnya. Gita menyeret tubuh Nico menjauhi anjing itu dan mencoba memulihkan lukanya.
          Anjing itu marah. Berdiri berhadapan dengan Ray, Deva, dan Edgar. Ia menyeringai, menunjukkan giginya yang rapi dan tampak tajam untuk mengoyak daging. Mereka bertiga menggenggam erat senjata masing-masing, bersiap memulai pertarungan.
          Deva berlari, kemudian melompat dan berhasil menampar wajah anjing tersebut dengan sisi parangnya, lalu berpijak ke dahinya, kemudian kembali melompat ke tanah. Ray dan Edgar mengepung hewan ini dari dua sisi. Mereka harus menangkapnya hidup-hidup, sehingga mereka harus berhati-hati melumpuhkannya. Jangan sampai serangan mereka membunuh anjing tersebut.
          Ray bersiap menyerang bagian perut anjing, namun belum sampai memukul, anjing ini mengelak, kemudian menginjak dada Ray dengan kaki kanan depannya. Ray memukul-mukul telapak kaki yang sekarang menekan dadanya keras sekali, kuku-kukunya merobek baju Ray dan menggore kulitnya.
          Edgar mencoba mengalihkan perhatian anjing itu dengan cara melempar cakramnya, mengenai wajah anjing tersebut. Namun cakram terlempar begitu saja ketika mengenai sasaran, sama sekati tidak memberi efek apapun pada makhluk itu. Anjing itu membalas, menendang Edgar dengan kaki kiri depannya. Dan saat anjing itu akan menggigit tubuh Edgar, Deva menyelanya dengan naik kembali ke tubuh hewan itu dan menusuk-nusukkan mata tumpul parangnya ke lehernya. Anjing besar tersebut membalikkan wajahnya lalu menatap Deva. Deva berjalan mundur perlahan, anjing itu mengikutinya berjalan maju dengan tempo yang sama. Ini adalah seekor monster, pikirnya sambil merangkak menjauh.
          Tanpa sepengetahuan anjing ini, Deva menempatkan tangan kanan pada punggungnya. Jarinya memberi isyarat pada Gita yang berada dibelakangnya. Tak lama, tangan kanannya mengepal dan Deva melompat tinggi. Dalam waktu bersamaan, Gita mengarahkan kedua tangannya kearah anjing tersebut, berusaha menghentikan pergerakan hewa besar ini, sama seperti saat ia menghentikan Ray pada saat bertanding di kamp. Lalu Deva melesat dari udara dan memukulkan gagang parangnya ke ubun-ubun anjing hitam itu. Membuatnya lunglai dan badannya yang besar jatuh ketanah. Deva berhasil membuat anjing tersebut tak sadarkan diri kemudian ia menyuruh Gita membakar suar untuk memberi tanda kepada Alvin.
          Tak lama, asap biru muncul dari suar yang barusan dibakar Gita. Edgar memeriksa Ray yang belum bisa menggerakkan badannya. Luka cakaran di dadanya mengeluarkan darah yang terus mengucur. Edgar memintanya tetap tenang. Deva mendekati anjing itu. Ia tertarik dengan kalung yang melingkar dilehernya. Ia merabanya dan mengamati liontin yang tergantung. Chiby, mungkin ini namanya, pikirnya.
          Namun tiba-tiba anjing tersebut kembali membuka kedua matanya. Tatapannya tajam mengamati pria yang ada didepannya. Anjing tersebut perlahan kembali berdiri. Deva sama sekali tidak mengerti bagaimana makhluk hitam ini bisa bangkit lagi. Mata Deva melebar kaget, mulutnya menganga. Ia mencoba melangkah mundur dan anjing tersebut melangkah maju dengan hidung hitamnya yang tepat didepan muka Deva.
“oh, sialan,” gumam Deva pelan.
          Langkahnya terhenti saat kakinya terantuk sebuah batu. Gita dan Edgar yang tenaganya sudah terkuras habis tak dapat berbuat apa-apa melihat gurunya tersudut.
***
          Meditasi Cakka tak tenang, penuh pikiran yang menganggu. Ia masih tak dapat melupakan wajah Ray dari benaknya, dua kekalahannya masih berbekas. Tubuhnya tegak, kedua tangannya merentang datar, kuda-kudanya kokoh, dan ia memejamkan matanya untuk bermeditasi.
          Sudah dua jam ia mencoba tapi selalu oleh rasa kesalnya. Ia mengembuskan napas pendekdan membuka matanya. Ia melihat Alvin duduk santai dibawah pohon rindang tepat dihadapannya.
“apa yang kau lakukan disini?” tanyanya sambil menghampiri Alvin lalu duduk disebelahnya.
“aku ingin tahu keadaanmu.” Alvin tersenyum. “mengapa kau tidak melanjutkan meditasimu?”
          Cakka diam. Kemudian ia memetik sehelai rumput dan menggigitnya. “aku kesal pada diriku sendiri. Kenapa aku bisa sangat mudah dikalahkan olehnya? Padahal belum ada orang seumuranku yang mampu mengalahkanku. Aku kecewa dengan diriku. Mengapa aku bukan seorang Cardan seperti dirinya?”
          Alvin tertawa. “kau harus mendengar ceritaku”
          Lalu ia menyandarkan kepalanya pada batang pohon dibelakangnya. “dulu waktu aku seumuranmu, aku diterima di akademi militer Stars. Aku berangkat dari desaku dengan kepala tegak penuh percaya diri, karena belum pernah ada didaerahku yang menang bertarung denganku. Jumlah siswa yang diterima waktu itu lima ratus orang, dan hanya setengahnya saja yang lulus dan menjadi pasukan muda Stars. Dan kau tahu? Aku mendaftar masuk di divisi bela diri bukan sihir.”
“benarkah?” kata Cakka, suaranya bernada kaku.
“ya, karena aku pemenang didaerahku, aku sangat percaya diri dengan ukuran tubuhku. Itupula yang membuatku yakin saat bertemu siswa lainnya. Aku adalah siswa yang bertubuh paling tinggi diangkatanku, dan dulu aku sukan mengejek dan megolok-olok Debo yang tingginya kurang lebih sepinggangku. Bukan dia saja yang kurendahkan, setiap siswa yang menurutku lemah pasti pernah merasakan ejekanku. Aku menjadi orang yang dibenci teman-teman seangkatanku. Dan mereka semakin menjauhiku ketika aku kalah dalam sebuah latih tanding.”
“aku ingin tahu siapa yang mengalahkanmu?” tanya Cakka sigap.
“Debo!” lalu Alvin tersenyum kecil.
“bayangkan...aku kalah telak oleh orang yang selalu kuejek dan yang tingginya hanya sepinggangku.”
          Cakka mulai mengerti maksud cerita Alvin, alisnya mengangkat sebelah dan memandang Alvin. “aku mulai tahu maksudmu. Tapi kasusku berbeda denganmu. Aku tidak kalah oleh teman seperguruanku yang telah berlatih bela diri lama. Aku kalah oleh seorang entah kenapa tiba-tiba mendapatkan sebuah kekuatan besar. Itu tidak adil bagiku.”
“kau salah! Ray tidak andal bertarung karena menjadi seorang Cardan. Ia telah bertahun-tahun menimba latihan bela diri yang aku yakin sangat keras. Aku tahu itu karena aku kenal guru yang telah mengajarinya selama ini,” jawab Alvin dengan intonasi tinggi. “gurunya adalah Duta. Ia adalah guru Debo dan Deva, bahkan beberapa jendral perang lain pun pernah menjadi muridnya. Dan kau tahu, ia adalah seorang pahlawan besar bagiku dan bagi rakyat Stars.”
          Cakka terkejut menyadari bahwa ia salah. Alvin berganti memandang Cakka. Ia tahu bahwa anak ini mempunyai harga diri yang sangat dijunjungnya dan perasaan yang sangat sensitif. Anak ini mungkin sangat ingin menjadi Cardan, pikir Alvin
“kau tahu, baru lima tahun lalu aku terpilih menjadi seorang Cardan. Dan sebagai tambahan, Deva bukanlah seorang Cardan tapi ia bisa terpilih menjadi seorang jendral.”
          Cakka ragu-ragu, lalu bertanya dengan nada rendah. “benarkah itu?”
“kau harus meyakinkan dan menunjukkan kemampuanmu kepada mereka yang dilangit sana bila kau ingin terpilih menjadi seorang Cardan. Menjadi Cardan bukan sekedar kemampuan fisik, tapi jiwamu juga menjadi pertimbangan. Bukan tentang apa yang kau dapatkan, tapi tentang apa yang bisa kau beriakan. Bukan tentang apa yang kau inginkan, tapi tentang apa yang kau butuhkan. Lagipula kau juga harus mengemban kewajiban yang sangat besar.” Alvin sebentar menghentikan perkataannya, memerhatikan Cakka yang tampak sangat menyesal.
“aku bangga padamu kemarin malam. Kau dapat megimbangi Cardan Murni, murid pahlawan Stars. Aku rasa keputusannya seri, kau tidak kalah dan juga tidak menang.”
          Pembicaraan mereka terhenti, Alvin berdiri ketika melihat gumpalan asap biru yang mengepul ke udara. Kemudian ia memberi tahu Cakka bahwa itu adalah tanda panggilan untuknya dari Deva. Lalu ia menceritakan tugas yang diberikannya pada Deva. Tak lama kemudian Alvin menghilang dari pandangan Cakka menuju asap tersebut.     
***
          Napas Deva mulai habis, keringat dinginnya menetes, dan matanya tampak layu. Berbeda dengan anjing hitam itu, bibirnya bergetar marah dan pandangannya tajam. Dengan napas tersengal-sengal, Deva mengumpulkan semua kekuatannya yang masih tersisa dan mengumpulkannya ditangan kanannya yang mengepal. Kepalanya diselimuti jilatan api berwarna hijau. Mendadak ia memukulkannya ke rahang anjing tersebut, tepat dihadapannya. Kejadian itu bertepatan degan datangnya Alvin yang langsung berteriak untuk mencegah Deva, tapi terlambat. Anjing tersebut terjatuh lalu tak sadarkan diri, tanah disekitarnya bergetar ketika badannya membentur tanah.
          Alvin berlari menuju anjing tersebut dan langsung memeriksanya. Timbul kekhawatiran pada pukulahyang dihempaskan Deva. Ia membutuhkan hewan ini hidup-hidup. Akhirnya, ia dapat bernapas lega ketika tangannya meraba leher hewan tersebut dan merasakan denyut nadinya. Raut kekesalan tampak pada wajahnya, tapi kembali surut ketika melihat keadaan Deva dan anggota regunya yang lain. Deva tampak kelelahan dan kehabisan tenaga, Gita sibuk menghentikan pendarahan pada tubuh Nico. Lalu Ray dan Edgar terkapar ditanahpenuh luka. Deva terpaksa memukulnya, gumam Alvin dalam hati.
          Ia melihat wajah-wajah kesakitan mereka sambil memegang tangan Ray dan Edgar. Dengan ilmu menghilangnya, ia membawa keduanya menuju tenda medis di kamp. Kemudian ia kembali membawa Deva dan Nico. Terakhir ia membawa makhluk besar itu dan Gita.
          Kekhawatirannya memuncak ketika para ahli medis dan penyihir ditenda medis sibuk mengerahkan seluruh upayanya untuk memulihkan keempatnya. Ini tugas yang sangat berbahaya, salah satu dari mereka bisa kehilangan nyawa. Tak lama Gita dapat menenangkannya, kemudian Gite menjelaskan dengan gerakan tangannya tentang seluruh kejadian tadi. Alvin mengerti semua yang diceritakan muridnya. Ia seharusnya ada disana atau menugaskan lebih banyak orang. Ini bukan makhluk biasa, ini mungkin makhluk terkuat yang pernah ditangkap. Padahal, regu yang tadi ditugaskannya terdiri dari orang-orang yang dapat dikatakan terkuat dikampnya.
          Namun Alvin senang, ia dapat melatih hewan itu menjadi hewan tempur yang sangat hebat. Ia mulai membayangkan hewan itu berada di garis depan pasukannya pada sebuah peperangan. Kemudian Gita, Ray, dan Cakka akan menjadi sebuah tim yang hebat bila sudah menemukan kekompakkannya. Kita akan menang!