Senin, 09 Mei 2011

Cardan Part 15

Sudah dua jam obiet menunggu hasil akhir dari para tabib istana. Barusan ia mendapat pesan bahwa setelah mendapat hasil akhir ia harus segera menghadap winda untuk melaporkan kasus ini. di benaknya ada dua orang tersangka, iza, sipir penjaga lantai tersebut, dan ony. Menurutnya, iza tidak mungkin melakukannya. Seorang penjaga pastinya tidak mungkin bisa membunuh seorang penjahat berat seperti eksel. Eksel dihukum karena membunuh dua ksatria besar stars. Butuh tujuh ksatria dan puluhan pasukan untuk menangkapnya dulu. Benar-benar tidak masuk akal bila iza yang membunuhnya.
          Semua pikirannya terpusat pada satu nama, ony. Sudah jelas bahwa orang tersebut mempunyai ilmu sihir yang sangat tinggi yang mampu membunuh eksel. Jika memang ia pelakunya, pertanyaan yang timbul adalah mengapa ia membunuhnya? Bagaimana ia bisa membunuhnya? Bagaimana eksel bisa keluar dari selnya?
          Tak lama seorang tabib datang menghampirinya dengan wajah gugup. “tabib tersebut mengatakan bahwa tahanan tersebut dapat dipastikan mati terbunuh.” Ia menghembuskan napas pendek. “namun ia belum bisa memberi hasil akhirnya sekarang. Ia masih membutuhkan satu hari lagi.”
          Obiet berdiri, kemudian memandang wajah anak muda tadi. “bisa aku bertemu dengan tabib kepala istana?”
“mmm....” tabib muda tadi menggaruk kepalanya. “mungkin lebih baik besok saja. Ia sedang meneliti mayat itu dan sepertinya ia tidak mau diganggu. Mmm....dan sekarang sepertinya aku harus membantunya. Permisi...,” jawabnya gugup seraya pergi meninggalkan obiet
          Ini bukan pembunuhan biasa, pikirnya. Setahunya, tabib kepala istana dapat dengan mudah menyimpulkan penyebab kematian seseorang. Kali ini, ia meminta tambahan satu hari untuk meneliti. Obiet semakin yakin bahwa eksel tidak dibunuh oleh sembarang orang. Sekarang, ia benar-benar yakin bahwa ony yang membunuh eksel. “aku harus menemuiwinda,” ujarnya dalam hati.
***
          Ketika obiet berjalan menyusuri koridor, menuju ruangan winda, tiba-tiba putri acha dan duta mencegatnya.
“aku harus bicara denganmu!” ujar acha singkat, langsung membawa obiet menuju taman koridor dan memintanya duduk dikursi taman.
“apa kau sudah tahu berita tentang eksel, putri?” tanya obiet sambil menundukkan kepalanya.
“ya, aku sudah tahu. Itulah yang ingin kubicarakan denganmu,” jawab acha. “aku rasa ony...”
“pikiranmu sama denganku,” sela obiet. “hanya dia yang mampu membunnuhnya, iza tidak mungkin mampu membunuh eksel”
          Acha memandang langit. Ia tidak menyangka mengapa ia bisa masuk dalam masalah seperti ini. ia pasti akan jadi saksi penting dalam kasus ini karena ia merupakan tamu terakhir yang diterima ony hari itu.
“aku ingin kau tidak memberi tahu winda dan raja perihal kedatanganku dan putri kesana kemarin,” ujar winda dengan suaranya yang serak. “aku akan membantumu menyelidiki kasus ini.”
          Mendengar perkataan duta, obiet kebingungan. Ia berada dalam posisi sulit. Duta memintanya untuk tidak memberi tahu kedatangan mereka kemarin. Itu artinya, ia harus mengurangi laporan dan membohongi winda.
“tidak!” teriak acha menyela. “bila menurutmu itu patut dilaporkan, laporkan saja”
“tapi, putri...,” ujar duta pendek.
“tidak, duta. Orang yang berbohong adalah orang yang tidak bertanggung jawab. Dan kita tidak layak meminta seseorang untuk menjadi seperti itu,” jawab acha tegas.
          Duta mengerti. Tapi masih sangat khawatir gabriel akan marah dan menghukum putrinya. Ayahnya pasti akan melarangnya menemui ony. Dan duta yakin benar bahwa bila hal ini terungkap dihadapan gabriel, ia akan mendapat teguran keras dari raja stars tersebut.
“obiet, aku ingin tahu alasan sebenarnya ony dipenjara,” kata acha lembut. “apa yang sebenarnya telah dilakukannya?”
“apa kau benar ingin tahu?” obiet yang masih kebingungan kebali bertanya kepada acha. Acha mengangguk.
“ia membantai seluruh pendeta di kuil dewi furita.”
          Acha dan duta terkejut, bagaimana seseorang begitu tega membunuh pendeta dikuilnya sendiri. “lalu?”
“dulu, sebenarnya ony adalah seorang ksatria besar di garinka. Banyak peperangan yang dimenangkannya, ia adalah pahlawan dan sangat dikagumi baik rakyat dari banyak kerajaan-kerajaan yang ada dipenjuru garinka sampai kedaratan besar lainnya.” Obiet menghela napas sebentar. “ia senang semua orang tersenyum dan memberi hormat padanya. Sejak saat itu sifat arogantnya mulai muncul. Suatu hari, ketika sedang berjalan-jalan dikota, ia berpapasan dengan seorang pendeta. Entah karena terburu-buru atau tidak melihat ony , sang pendeta menabraknya. Tanpa senyum dan tanpa penghormatan sedikit pun, sang pendeta kembali melanjutkan perjalanan. Keesokan harinya, ony pergi ke kuil furita dan menemui kepala pendeta. Ia menuntut permohonan maaf dari para pendeta karena insiden kemarin. Kepala pendeta menolaknya karena merasa tidak ada yang salah dengan hal itu dan tidak ada cukup alasan baginya untuk memohon maaf pada ony. Karena geram, ony membantai semua pendeta yang ada di kuil tersebut padda hari itu”
          Acha terdiam beberapa saat setelah mendengar cerita obiet. Bagaimana seseorang bisa begitu tega membunuh pendeta, pikirnya. “aku yakin sangat sulit menangkapnya saat itu.”
“tidak. Sama sekali tidak sulit,” jawab obiet pendek. “ia datang menyerahkan diri. Setidaknya itu yang diceritakan oleh para pendahuluku”
          Kemudian dia berdiri. “aku mohon diri, winda menungguku diruang singgasananya.” Lalu ia berjalan masuk istana.
“duta, apa yang harus kita lakukan?” bisik acha. “kau tahu kan apa yang diucapkan oleh ony kemarin?”
“eksel tidak akan menggangumu lagi!” kutip duta. “ehmm.... aku rasa ibumu tahu apa yang harus kita lakukan”

Sabtu, 07 Mei 2011

Cardan Part 14

Hari ini berjalan tidak seperti yang direncanakan oleh tabib kepala istana. Seharusnya ia dan istrinya mengajak kedua anaknya berlibur kerumah peristirahatan pribadinya nanti sore. Namun sekarang ia harus memeriksa mayat tahanan terberat stars terlebih dahulu. Ia pikir, hal ini hanya akan berlangsung sebentar.
          Tabib yang satu ini adalah seorang pria kurus berusia lima puluh tahun dengan wajah tirus. Mata sipitnya tersembunyi dibalik kacamata yang sangat tebal. Penciumannya sangat tajam, setajam bau cerutu dan minuman keras yang menempel ditubuhnya. Ia bisa mencium sesuatu yang tidak beresdan bisa menyimpulkan bahwa tahanan ini mati dibunuh sebelum ia menyentuh mayatnya. Seperti yang sudah disimpulkan oleh para juniornya, tahanan ini mati tercekik.
          Tapi setelah mengamati leher sang mayat, ia menggelengkan kepalanya. “dia memang mati karena kehabisan napas.”
          Ia menyentuh leher sang mayat. “tulang kerongkongannya hancur. Itu salah satu alasan
Mengapa ia tidak bisa bernapas.”
          Siapa yang dapat menghancurkan tulang pria tegap ini? tabib tersebut bertanya dalam hati. Ia tahu benar bahwa orang ini mempunyai tulang yang sangat keras dan luka ini bukanlah luka luar.
          Sekarang tabib tersebut benar-benar yakin bahwa rencana liburan keluarganya harus ditunda beberapa hari. Ini bukan kasus pembunuhan biasa, orang yang membunuhnya harus sangat kuat atau memiliki ilmu tinggi. Namun tabib tersebut tetap berprinsip, jangan terlalu cepat menyimpulkan. Itu sebabnya ia memberi tahu bawahannya untuk tidak menulis semua perkataannya sebagai laporan keistana.
“aku butuh setidaknya satu hari penuh untuk meneliti dan kemudian menyimpulkan penyebab kematiannya,” ujarnya pada kedua asisten sekaligus muridnya yang dari tadi terlebih dahulu memeriksa mayat tersebut.
“tapi, guru, pihak istana meminta hasil akhir segera,” jawab salah satu asistennya ragu.
“katakan saja pada mereka bahwa pria ini mati dibunuh. Tapi aku belum yakin benar penyebab kematiannya,” kata tabib tersebut sambil memeriksa dada mayat. Asisten tadi menganggukan kepalanya dan berjalan keluar.

Cardan Part 13

Hinkal memiliki ajang bela diri tahunan, dan hari ini pendaftarannya dibuka. Alun-alun kota sesak oleh calon peserta yang berbaris didepan pos pendaftaran. Tidak seperti biasanya, pendaftaran kali ini hanya dibuka dua hari, setelah itu calon peserta akan langsung diseleksi. Tidak seperti biasanya yang harus menunggu beberapa hari untuk seleksi.
          Diantara sekian banyak calon pendaftar, cakka berada ditengah-tengah antrean. Semalam ia memutuskan mengikuti ajang ini. selain ingin mendapat pengalaman baru, juga untuk menguki kekuatannya. Ia ingat pesan alvin. Mungkin ia yang terbaik dikamp pelatihan, tapi belum tentu terbaik ditempat lain.
          Sudah satu jam ia berdiri menunggu antrean. Sesekali ia memerhatikan calon pendaftar lain. Didepannya, seorang manusia kerdil yang mengendarai seekor beruang mulai menarik perhatiannya. Bagaimana caranya mengendalikan hewan liar sebesar itu? Pikirnya. Orang ini duduk santai siatas beruang yang tidak dikekang. Cakka menoleh kebelakang, seorang gadis berambut merah tersenyum kepadanya. Gadis yang menarik. Cakka membalas senyumannya lalu mengembalikan pandangan kedepan.
          Tak sampai lima belas menit kemudian, cakka sudah terdaftar sebagai peserta. Setelah itu ia diminta langsung menuju logica. Sebuah stadium yang luasnya sekitar seribu meter persegi, dengan kapasitas penonton kurang lebih dua puluh ribu orang. Stadium ini didirikan oleh raja bernama logica, ratusan tahun lalu.  Dibangun sebagai tempat pertarungan gladiator zaman itu.
          Cakka terpengarah oleh megahnya bangunan logica, ia membayangkan puluhan ribu penonton menyoraki dan memujanya, setelah ia memenangkan kompetisi ini.
          Cakka tak menyadari ia telah sampai dibarisan paling depan. Seseorang memintanya menghantam lingkaran hitam yang terbuat dari karet yang sudah disediakan panitia. Diameternya sekitar tiga puluh sentimeter. Didekat bantalan karet itu ada deretan angaka yang menunjukkan kuatnya pukulan. Jika dihantam, jarum penunjuk akan mendarat disalah satu angka tersebut, sehingga dapat diketahui kuatnya pukulan. Ini seleksi awal bagi peserta.
          Cakka mengumpulkan seluruh kekuatan tangan kirinya, lalu menghantam bundaran hita tersebut sekuat tenaga.
“seribu empat puluh!” seseorang berteriak mengagetkan semua yang ada disitu. Termasuk cakka.
“kenapa alat ini?” ia memeriksa alat tersebut. “kau bisa mencobanya sekali lagi.”
          Cakka menganggukan kepala. Kini seluruh peserta dan panitia mengalihkan perhatian kearahnya. Seribu empat puluh adalah rekor baru. Sejauh ini rekor terkuat masih seribu tiga, itupun dipegang oleh joe, dulu. Setelah diminta oleh panitia, cakka bersiap memukulnya lagi, kembali mengepalkan tangannya dan menghantam bundaran hitam itu.
“seribu tiga puluh tujuh!” teriak orang tadi. Penonton pun terkejut. “alat ini mungkin sudah benar-benar rusak!” serunya.
“tidak! Alat ini tidak rusak!” seorang pria menimpali. Dari pakaiannya terlihat ia salah satu panitia. Lelaki itu lalu mendekati cakka dan menjabat erat tangan cakka. “kita telah menemukan seorang pemecah rekor baru!” serunya, kepada seluruh penonton kejadian itu. “namaku arry. Ikutlah denganku,”
          Tidak menyadari apa yang sedang terjadi, cakka mengikuti arry. Cakka masih belum tahu pasti apa yang telah terjadi. Ia merasa hanya melakukan yang terbaik, namun tidak menyangka akan memecahkan rekor baru. Cakka menjadi semakin bingung ketika para panitia dan peserta menyorakinya dan bertepuk tangan.
“kau sudah terkenal sekarang!” ujar arry dekat telinga cakka. “namamu akan terpampang di lembaran pertama selembaran stars besok. Jadi, berhati-hatilah berbicara.”
          Beberapa pencari berita terus mengikuti mereka berdua. Cakka mengikuti arry ke tribun barat dan ikut duduk disebelahnya. Sepertinya, kompetisi tahun ini akan sangat seru, pikir arry. Tak lama kemudian, ia kembali berjalan ke tengah stadium untuk memantau peserta.
***
          Kini sepertinya seluruh hinkal mengenal cakka, semua orang selalu tersenyum dan menawarkan apa pun yang cakka butuhkan. Bahkan, ia mendapatkan kamar istimewa beserta pelayanan gratis disebuah penginapan ternama di kota. Ia sama sekali tidak menyangka apa yang dia alami.
          Setelah selesai merapikan dirinya, cakka turun dari kamarnya menuju bar di penginapan. Ketika ia masuk, seluruh pengunjung bar menoleh ke arahnya, beberapa menyebut namanya. “cakka!”
          Semua berebut menjabat tangan sang pemecah rekor. Cakka dipersilakan duduk di sofa yang hanya pernah diduduki oleh orang-orang penting. Tak lama kemudian, seorang pria setengah baya bertubuh sangat gemuk yang ternyata adalah pemilik penginapan datang dan menyapa ramah tamunya. cakka sedikit kikuk dengan perlakuan istimewa mereka.
"suatu kebanggaan besar bagi penginapanku ini, menerima seorang petarung besar sepertimu!” sapa pria tersebut, lalu menjabat tangan cakka. “apakah kau puas dengan pelayanan kami, tuan cakka?”
“semuanya sempurna! Aku sangat berterima kasih atas semua ini,” jawab cakka pendek, karena kini pandangannya tertuju ke panggung bar. Gadis yang tadi ditemuinya saat mendaftar sedang bernyanyi dipanggung. “apakah kau tahu siapa dia?” tanyanya kepada pemilik bar tadi.
          Pria gendut itu tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan cakka. Cakka memandangnya dengan wajah aneh. “ia penyanyi utama disini, tuan. Ia sudah bernyanyi disini sejak umur dua belas tahun.” Kemudiania tersenyum kecil. “namanya ify.”
“ify....,” gumam cakka sambil memandangi gadis tersebut turun dari panggung. “mmm....”
“belum, tuan! Ia belum mempunyai kekasih.” Pemilik bar melambaikan tangannya ke ify dan memanggilnya. Ia seakan tahu pertanyaan dibenak cakka.
          Gadis tinggi itu tersenyum dan berjalan kearah mereka berdua. Cakka menggelengkan kepalanya pada pemilik bar, namun pria gendut tersebut kembali memamerkan senyumnya yang lebar.
“aku ingin kau menemani tamu istimewa kita,” ujar pemilik bar pada gadis itu ketika ia berdiri dihadapan mereka berdua.
“halo, kita bertemu lagi,” sapa gadis itu. “namaku ify!”
“akh, rupanya kalian sudah saling bertemu!” kata pemilik bar. “baiklah, sebaiknya kutinggalkan kalian berdua disini. Aku mohon diri, tuan.”
          Pria gendut tersebut pergi meninggalkan mereka berdua, tampak ia sangat sibuk dengan penginapannya. Kabarnya, kini ia juga membuka restoran elit disebrang penginapannya.
“aku yakin, besok wajahmu akan terpampang di seluruh garinka. Pemuda yang memecahkan rekor joe, sang ksatria stars!” ujar ify.
“aku benar-benar tidak menyagka akan menjadis seperti ini,” ujar cakka. “tapi, sekarang aku mulai menikmatinya,” lanjutnya disertai tawa kecil.
          Ify tersenyum saja, ia memerhatikan wajah cakka yang tampak sedang menikmati suasana. Bagaimana pria ini mempunyai kekuatan sebesar itu? pikirnya. Apakah ia orangnya?
          Setelah beberapa menit mengamati wajah pemuda yang duduk disampingnya, kini pandangan ify terarah pada sebuah tato kecil yang ada dipundak cakka. Tato yang sempat terlihat dari balik baju tanpa lengan cakka. Tanpa sepengetahuan cakka, gadis ini mengamati tato telapak tangan yang dipaku ditengah-tengahnya. Ia merasa pernah melihat gambar itu sebelumnya.
          Beberapa saat kemudian, ia tiba-tiba ingat, gambar itu adalah lambang sebuah perkumpulan. Tapi ia lupa perkumpulan apa. Pikirannya tertuju pada pemuda yang memecahkan rekor garinka, yang kini sedang duduk disebelahnya. Bagaimana ia bisa?pikirnya. ia masih ingat bagaimana pemuda ini memukul karet pengukur. Ia  yakin, cakka memukul bantalan karet tanpa mengarahkan seluruh tenaga, berbeda dengan dirinya waktu itu, yang hasilnya tidak cukup bagus untuk lulus seleksi meski sudah sekuat tenaga memukul karet pemukul.

Cardan Part 12

Hari ini, acha bangun pukul tujuh, mandi dan mencuci rambut, lalu dengan cepat mengeringkannya. Hitam kemerah-merahan, mungkin karena sinar matahari, pikirnya ketika menatap warna rambutnya melalui cermin dan menatanya.
          Ia ingat perkataan joe kepada ibunya ketika ia bertugas menjadi seorang penari di sandiwara istana pada perayaan akhir tahun. “acha punya sifat keras kepala dan rasa ingin tahu yang sangat besar, itu merupakan kelebihannya. Setidaknya, ia tidak akan menjadi putri yang seumur hidupnya selalu duduk dibelakang meja rias.”
          Sarapan pagi sudah tersedia dimejanya. Telur angsa orak-arik dan segelas susu sepertii biasa. Ia langsung tahu bahwa telur ini bukan buatan shilla ketika mencicipinya. Tapi itu tidak menghentikannya melahap habis sarapannya. Kemudian ia membuka lemari pakaian, memilih selendang tebal dan gaun sederhana coklat tua. Selendang ini akan menghangatkanku dipenjara nanti, pikirnya. Ia sudah memutuskan untuk kembali mengunjungi ony. Tapi pagi ini ia harus segera menemui winda.
          Acha menggunakan ilmu terbangnya untuk sampai keruang kerja winda. Ia melewati banyak tangga dan koridor, membuat para pegawai istana menghentikan sebentar kegiatannya untuk melihat acha. Acha memang jauh lebih ramah dar ozy, senyum kecil tak pernah pudar dari wajahnya ketika bertemu siapa saja.
          Saat memasuki bangunan belakang istana, ia heran mengapa meja penjaga keamanan kosong. Keamanan disini tak terjamin, pikirnya, sambil berjalan menaiki tangga menuju lantai tiga. Bangunan ini baru didirikan, dan ia bertanya-tanya apakah ayahnya belum menugaskan beberapa penjaga disini. Sudah saatnya ayah menugaskan seseorang untuk mengelola tempat ini. “keterlaluan” gumamnya pelan, sampai di lantai teratas yang remang, ia mencari obor yang bisa terdapat disudut koridor. 
          Bahkan obor yang dinyalakannya pun tidak cukup menerangi koridor. Ini harus segera dibenahi, pikirnya kesal. Ia bertekad akan berbicara dengan ayahnya.
“matikan obornya!” bentak seseorang dari ruangan kerja ozy yang letaknya bersebrangan dengan ruangan winda.
          Acha langsung tahu itu suara kakaknya, kemudian ia menuruti perintah kakaknya dan kembali mematikan obor di koridor tersebut. Ia mengetuk pintu ruangan winda, tapi tidak ada jawaban. Ia mengulanginya lagi, tapi sama sekali tidak ada jawaban. Aku akan kembali lagi nanti,  pikirnya. Lalu ia berjalan menuju ruangan kakaknya, pintu ruangan itu sudah setengah terbuka. Ia mengetuk pelan dan masuk kedalam. Tampak ozy sedang sibuk membaca beberapa lembaran kertas tua, hanya diterangi lilin besar dimejanya.
          Wajahnya kusam, matanya merah, ditambah rambutnya yang acak-acakan menunjukkan bahwa ozy sudah lama memusatkan pikirannya kelembaran kertas-kertas tua tersebut. Enam buah cangkir kopi yang kosong meyakinkan acha bahwa kakaknya belum tidur, bahkad kedatangan dan sapaannya sama sekali tidak mendapat perhatian dari ozy.
          Acha berharap bisa menunggu winda disini, ia berusaha untuk tidak menganggu kakaknya. Ia bersandar dan menyilangkan kaki, lalu melirik selembar kertas disisinya dan membacanya. Ia sama sekali tidak mengerti isinya. Tapi setelah membaca ulang, ia baru menyadari tulisan tersebut ditulis tiga tahun lalu, yaitu pada tahun 498, dan bagian bawah kertas itu ditanda tangani oleh seseorang yang sedang ia selidiki, ony.
          Hal-hal mengenai garinka. Apakah orang ini adalah seorang penulis? Apa yang sedang dipelajari ozy tentang orang ini? acha bertanya-tanya.
          Pangeran ini menoleh dan tersenyum ketus. “cahaya remang-remang membuat pikiranku lebih mudah berkonsentrasi. Cahaya terang hanya membuatku mengantuk”
“mengapa kau tidak menghentikan kegiatanmu tadi malam dan tidur? Toh, kau bisa melanjutkannya pagi-pagi”
“urus saja dirimu sendiri!” jawab ozy tidak ramah.
          Acha tidak terganggu dengan sifat kakaknya, malah ia tersenyum kecil ketika mendengar jawaban tidak ramah dari kakaknya. Perhatiannya lebih tertuju pada lembaran kertas yang dipegang ozy. Acha meraba permukaan kertas, memeriksa bahwa ini benar-benar tulisan tangan. Ia berkali-kali menggerakkan jarinya sesuai alur tanda tangan ony.
“ia adalah kaum abadi,” gumamnya pelan.
“bukan, ia bukan kaum abadi. Bahkan tidak ada kaum abadi,” sela ozy yang sekarang merebahkan kepala dan menutup matanya.
“ibu mengatakan kepadaku bahwa ia abadi. Bahkan duta juga berpendapat begitu.”
“rina dan ony abadi. Romi telah mati. Dibunuh oleh kedua anaknya tersebut. Menyedihkan mengetahui seorang ilmuwan hebat dibunuh kedua anaknya yang marah karena dijadikan abadi oleh orang tuanya. Ya, ilmuwan yang ingin kedua anaknya terhindar dari kematian, malah dibunuh. Anak-anaknya menolak dan marah telah dijadikan abadi.”
          Acha mengangkat sebelah alisnya. Bagaimana anak bisa begitu tega membunuh orangtuanya sendiri? Pikirnya.
          Ozy memijjit kepalanya sendiri kemudian kembali melanjutkan. “romi adalah satu-satunya ilmuwan yang menemukan ramuan untuk hidup abadi. Selain itu, ia adalah seorang peramal hebat. Beberapa ramalannya sudah terjadi. Semalaman aku membaca semua tulisannya dan menemukan sesuatu yang mengejutkan. Ramalan yang akan terjadi dalam waktu dekat. Dituliskan bahwa saat perayaan besar yang bertepatan dengan hilangnya tiga bintang dilangit, sebuah kota suci  akan berada ditangan seekor ular berkepala tiga”
          Acha mendengarkan. Ia kagum oleh ozy yang rela tidak mengistirahatkan tubuhnya karena mempelajari semua lembaran tulisan ini. jumlahnya mungkin ratusan lembar.
“aku belum paham. Sebenarnya ia meramalkan apa? Kota apa? Ular berkepala tiga sungguh tidak mungkin ada didunia ini”
          Acha menarik napas panjang, lalu kembali membaca selembar kertas yang ditemukannya tadi. Sebenarnya, ia masih menunggu jawaban kakaknya, namun tidak sepatah kata pun terdengar. Ketika selesai membaca kertas itu, acha menoleh kearah kakaknya. Ozy sudah tertidur lelap. Acha mengelus kening kakaknya, sesuatu yang belum pernah dilakukannya. Kemudian ia mengambil selimut dari lemari dan menyelimutinya. Ia sadar bahwa selama ini ia salah menilai ozy. Selama ini ia menilai ozy hanya mementingkan dirinya sendiri dan tidak peduli pada rakyatnya. Ia sadar ternyata kakaknya  mungkin lebih menyayangi rakyat daripada acha. Ozy rela menghabiskan waktunya untuk mempelajari semua yang berhubungan dengan stars. Dan semua ilmunya  itu pasti akan menambah kemampuannya saat ia menjadi seorang raja. Kakakku akan menjadi seorang raja besar dalam buku sejarah garinka dan aku mungkin hanya disebut sedikit, pikirnya sambil duduk dan kembali membaca lembaran kertas yang berserakan dimeja kerja kakaknya.

          Cahay obor koridor menyala, pasti seseorang telah menyalakannya. Acha merapikan meja kerja ozy dan menyusun rapi lembaran-lembaran kertas tua yang tadi berserakan dimana-mana. Itu pasti tante winda, pikirnya sambil berjalan keluar. Acha menutup pintu ruangan perlahan supaya kakaknya tidak terbangun. Ia mengetuk pintu ruangan winda dan menunggu sebentar. Beberapa detik kemudian, winda membuka pintu.
“selamat pagi, manis!” sapa winda sambil melipat selembar kertas selebaran kerajaan yang sepertinya sedang dibacanya barusan. Selebaran yang bisa dipajang dipapan-papan pengumuman kota oleh para pencari berita. Anggota kerajaan seperti winda pasti diistimewakan dan mendapat selebaran itu langsung secara pribadi. Wanita itu kemudian duduk dibelakang meja kerjanya yang luas dan elegan. Tidak seperti meja kerja ozy yang kecil dan selalu berantakan.
          Ruangannya tampak sangat kuno, mungkin seleranya demikian. Di dinding-dindingnya terpajang banyak sekali penghargaan kehormatan dari stars, bahkan dari beberapa kerajaan garinka mungkin winda adalah penerima penghargaan kerajaan terbanyak dalam sejarah garinka. Acha duduk di sebuah kursi didepan meja kerja, berhadapan langsung dengan winda.
“ada apa kau datang kemari, putri?”
          Acha menggigit bibirnya, takut diomeli bibinya. “aku meminta maaf karena kemarin tidak datang dikelas pertemuan kita tanpa kabar” ia diam sejenak memerhatikan wajah bibinya. “aku merasa tidak enak badan kemarin dan tertidur dikamarku” kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutnya. Entah apa yang dipikirkannya, kali ini ia telah membohongi bibi yang sekaligus gurunya.
“aku dapat mengerti dan menerima alasanmu,” jawab winda.
          Hati acha seakan-akan meloncat girang ketika mendengar jawaban winda. Ia tidak akan kena omel karena bibinya memercayai alasannya. Kemudian dengan semangat ia bertanya. “sebenarnya apa saja ramalan yang ditulis diselebaran tentang kejadian itu, bibi?” acha mengalihkan oembicaraan.
          Winda mengerutkan alisnya dan membolak-balik beberapa lembar selebaran itu. “aku belum membacanya, aku baru akan membacanya ketika kau mengetuk pintu”
          Kalau aku disini, ia tidak akan membaca selebaran itu, pikir acha, kemudian ia berdiri. “aku pamit pergi, bibi, aku tidak ingin menggangumu. Sekarang kau bisa membaca selebaran itu sampai tuntas”
“baiklah, terima kasih atas kedatanganmu,” kata winda yang kemudian berdiri dan mengantarkan acha menuju pintu. “oh ya, karena kemarin kau tertidur selama berjam-jam dan tidak ikut makan malam bersama, kau harus memeriksakan tubuhmu. Dan kau minta maaf karena mulai hari ini aku tidak dapat mengajarimu lagi. Ayahmu memintaku untuk selalu menemaninya, kau dapat belajar ke duta.”
          Saat itu juga acha menyadarinya bibinya mengetahui kebohongannya.
          Membohonginya?  Acha berkata dalam hati, lalu berbalik menatap bibinya, “maafkan aku, bibi!”
“bila kau tidak mau mengatakan alasanmu, tidak apa, aku pasti akan mengerti. Tapi kau seharusnya tidak berbohong,” kata winda dengan intonasi rendah. “kebohongan adalah hal kecil yang tanpa disadari akan benar-benar merusakmu. Berbohong hanya dilakukan orang yang tidak bertanggung jawab. Kebohongan hanya akan berlanjut ke kebohongan berikutnya, acha”
          Acha tidak berani memandang wajah bibinya. Rasa sesalnya semakin besar. Sesekali ia ingin menyela perkataan bibinya, tapi tidak berani. Ia merasa berada dalam masalah yang serius. Apalagi ketika bibinya menutup pintu ruangan sebelum acha menjelaskan dan meminta maaf. Acha berjalan lesu dengan kepala tertunduk sepanjang koridor. Paman selalu tahu apa yang kulakukan, pikirnya.
***
          Pukul 12 siang. Acha sudah berada diteras lantai dua istana untuk makan siang. Namun tak ada satupun anggota keluarga yang duduk diruang makan. Hanya ada winda dan duta. Sebenarnya ia sudah menduga kakak dan ibunya tidak akan hadir, tapi ia tidak menyangka ayahnya juga tidak hadir.
          Selepas makan siang, acha bergegas menemui ayahnya. Mereka bercakap-cakap diruang kerja raja. Ditengah obrolan, tiba-tiba sang raja membicarakan rasa ingin tahu acha. “ozy bercerita kepadaku. Katanya kau akhir-akhir ini sangat ingin tahu tentang sejarah,” kata ayahnya. “seperti bukan anak perempuanku.”
          Acha tertawa. “anak perempuanmu ini sudah besar. Dan kini kau tahu, banyak sekali yang harus kupelajari.” Kemudian ia menatap ayahnya tajam. “seharusnya aku yang  bertanya kepada ayah. apa yang sedang ayah khawatirkan?” ia memasang muka tegas ketika gabriel mengangkat bahu dan menggelengkan kepalanya. “jangan bohong. Aku bukan anak kecil lagi. Aku tahu, pasti ada yang sedang ayah pikirkan.”
          Gabriel membuka kedua tangannya kemudian bergumam. “aku kehilangan acha kecilku.” Gabriel menatap putrinya. “mengkhawatirkan sesuatu, tidak juga. Memang ayah sedang berpikir. Hanya beberapa masalah kerajaan yang belum terselesaikan”
          Wajah acha melembut. Ia menatap ayahnya. “aku tahu beberapa berita dan ramalan yag beredar. Tentang cardan murni, tentang moon. Tapi ayah harus tetap kuat. Rakyat membutuhkan ayah.”
“ya, acha, mungkin cahaya merah itu hanya fenomena alam biasa dan mungkin moon sudah tidak lagi ingin menguasai garinka,” ujar gabriel santai. “aku harus tenang. Ozy dan kau sudah siap untuk memimpin negeri ini, acha.”
“ayah, jangan main-main! Ayah tahu, kan, aku belum siap untuk itu? Hanya ayah yang mampu menghadapi semua itu.” Acha mulai merajuk. Gabriel tertawa. Pembicaraan ayah dan anak itu terus mengalir.
          Setengah jam kemudian, winda dan duta datang menemui mereka. Mereka tampak habis berlari, duta memberi salam dan berujar, “baginda, seorang tahanan ditemukan mati tadi pagi.” Ia menghela napas pendek. “eksel, penghuni lantai terbawah,” lanjut winda.
          Setelah mendengar hal itu, raja langsung berdiri menghampiri winda. “sebaiknya kita bicarakan ni ditempat lain.” Kemudian mereka berdua pergi keluar ruangan.
          Berita tersebut mengejutkan acha. Begitupun duta, mereka baru saja bertemu dengan eksel kemarin. Mereka masih ingat betapa mengesalkannya orang itu. Pikiran mereka langsung tertuju ke tahanan yang kemarin mereka temui, ony.
“apa pikiranmu sama denganku?” tanya duta sambil duduk disebelah acha yang kebingungan mendengar berita tersebut. “ia diduga mati tercekik. Dilantai itu hanya ada tiga orang. Eksel, penjaga pos, dan ony.”
          Acha menggigit bibir bawahnya. “ia mengatakan bahwa eksel akan menggangguku lagi”
“kau boleh menemuinya acha,” ujar duta tegas.

Sabtu, 23 April 2011

Cardan Part 11

Shilla berjalan menuju pintu belakang istana yang akan membawanya menuju gerbang dan pulang. Kali ini langkahnya terasa berat, ia tahu, anak lelakinya tak akan lagi menunggu dirumah dan memijat punggungnya. Bahkan, siang tadi, ia merasakan sebuah firasat buruk tentang Ray.
***
          Pukul enam pagi keesokan harinya, Sivia, Shilla, serta beberapa pengawalnya siap berangkat dari Hinkal. Setelah mencium kening anak-anaknya dan mendapat persetujuan dari Gabriel, Sivia berangkat. Ia berbohong pada Gabreil tentang tujuannya, mereka bilang akan pergi ke sebuah ladang pertanian dekat Hinkal untuk mengamati perkembangan ladang. Sivia selalu berbohong tentang keberadaan Alvin dan kampnya, bahkan suaminya tidak mengetahui bahwa ia mempunyai indra keenam, yang membuatnya bisa mengetahui kejadian yang akan datang.
          Dengan mengendarai sebuah kereta kuda yang mewah dihiasi ukiran emas dan kursi busa berlapis kulit pilihan, mereka keluar dari Hinkal. Mereka akan menempuh kurang lebih dua jam perjalanan. Shilla yang duduk disebelah Sivia mulai resah.
          Apakah aku harus memberitahunya, ia bertanya-tanya dalam hati. Apakah ia akan marah?
          Sampai detik ini Shilla belum memberitahu permaisuri Sivia tentang Ray. Ia memandang wajah cantik Sivia yang kini disinari cahaya pagi. Namun Shilla masih belum mengatakannya. Bibirnya terasa selalu menutup dan melarangnya berkata-kata.
          Pandangannya terpaku melihat pepohonan yang dilaluinya. Pikirannya mencemaskan anak tunnggalnya. Kenangan pahit karena ditinggal ayah dan suami melekat dibenaknya. Kemudian ia tersenyum, betapa berarti keluarganya bagi Stars.
“permaisuri, ada yang ingin kusampaikan,” ujar Shilla lembut.
          Tak lama kemudian kereta kudanya berhenti.
“nanti saja Shilla, sekarang kita harus menemui Alvin terlebih dahulu!” jawab Sivia pendek, lalu turun dari kereta kudanya.
***
          Alvin dan Debo berdiri tegap memimpin barisan pasukan kereta kuda permaisuri memasuki kamp. Mereka serentak berlutut hormat ketika permaisuri Sivia membuka pintu dan turun dari kereta kudanya. Mereka baru berdiri ketika sang permaisuri meminta mereka berdiri. Alvin dan Debo mencium tangan Sivia sebagai sambutan ramah dari mereka.
          Kemudian mempersilakan permaisuri berjalan menuju tengah kamp. Mereka telah menyiapkan sebuah meja besar yang sekelilingnya dihiasi bunga-bunga.
          Sivia duduk dikursi utama. Tak lama kemudian datang beberapa orang yang membawa buah-buanhan dan sebotol anggur.
“maaf, tapi hanya ini yang bisa kami sajikan, yang mulia,” kata Alvin
“justru ini adalah sajian favoritku. Kau bisa tanya Shilla,” jawab Sivia sambil mengambil sebuah jeruk kemudian mengupasnya. “aku ingin bertemu dengan Cardan baru kita dan....mmmm....kemana jendral kesayanganku?”
          Alvin terdiam, kemudian menatap Shilla yang duduk disebelah sang permaisuri. “Deva kemarin cedera sewaktu menangkap hewan tempur kami.” Alvin kembali menghentikan penjelasannya sebentar karena sang permaisuri memandangnya serius. “dan Cardan baru kita pun ikut cedera karena membantu Deva. Sekarang mereka sedang dalam perawatan intensif ditenda medis kami.” Alvin memandang Shilla. “maafkan kamu, Shilla”
          Mendengar hal itu, Shilla terkejut lalu menoleh ke arah Debo.
“dimana tenda medis itu?” sela Shilla sedikit lantang. Debo menunjuk kesebuah tenda besar yang berada belasan meter disebelah kanannya. Shilla langsung berlari kesana.
          Sivia sedikit mengernyitkan alis ketika Shilla meninggalkannya tanpa permisi. “kenapa Shilla begitu terkejut, dan mengapa kau meminta maaf kepadanya?”
“apakah ia belum menceritakannya?” tanya Alvin kaget.
“Cardan baru itu adalah putranya Shilla.”
          Sivia menelan ludah. Ia tidak menyangka bahwa telah lahir satu calon pahlawan lagi dari keluarga Shilla. Padahal ia tahu, semenjak suaminya meninggal, Shilla menginginkan keluarganya hidup tenang tanpa mengenal perang lagi. Bahkan minggu lalu, Shilla menceritakan rencananya untuk memasukan anaknya ke sebuah universitas di Stars. Ia pasti sedih dan gundah, pikirnya.
          Kemudian Sivia mencoba mengingat rupa anak Shilla. Sivia sudah lupa, karena sudah tiga belas tahun tidak bertemu. Terakhir, Shilla membawanya ke istana ketika usianya lima tahun. Seorang anak pemalu dan pendiam, ingatnya. Dulu ia suka berada ditaman istana bersama Ozy dan Acha. Anak itu sulit membaur dan hampir tidak pernah benar-benar bermain bersama kedua anaknya. Anak itu hanya duduk dan memandang langit. Ya, itu kebiasaannya. Anak itu pasti sudah tak mengenalku, pikir Sivia. Ia lalu berdiri.        
***
          Deva, Ray, Edgar, dan Nico masih belumboleh turun dari ranjang. Tubuh mereka membutuhkan istirahat. Banyak sekali luka memar dan perban ditubuh mereka. Para ahli medis dan penyihir selalu mengawasi  perkembangan mereka setiap saat. Bahkan Gita sudah semalaman mengompres punggung tangan Deva yang bengkak. Sebenarnya, Deva, Ray, Edgar, Nico, serta Gita telah sadarkan diri, bahkan keempatnya sudah bercakap-cakap ringan walau masih terbaring diranjang.
          Tiba-tiba Shilla masuk kedalam tenda dan menoleh kanan-kiri, mencari Ray. Matanya langsung berair ketika melihat Ray sedang terbaring diranjang ketiga, dengan dada penuh perban dan mata kiri yang lebam. Ray menyambutnya dengan senyum kecil. Shilla meletakkan jemarinya dibibir Ray ketika Ray hendak menyapanya.
“sudah, nak. Simpan dulu tenagamu!” ujar shilla disertai beberapa isakan kecil. “maafkan ibu!”
          Mendengar perkataan ibunya, Ray menggelengkan kepala. Ia tahu bahwa ini adalah pilihannya. Ia senang bisa mengalami pertarungan dalam beberapa hari ini. Pertarungan yang sangat penting baginya.
          Ibunya pernah bilang, kini dunia membutuhkan seorang ilmuwan, “dan itu yang uharapkan darimu,” ujar Shilla waktu itu. Namun Ray tidak mau menghabiskan hidupnya sebagai ilmuwan. Ia sangat mengagumi sosok ayahnya dan ingin menjadi seorang jendaral perang seperti ayahnya.
          Ray tahu kejadian kemarin adalah sebuah berkah besar baginya. Kini ibunya sudah tidak dapat lagi melarangnya untuk melajar bela diri dan menjadi seorang ksatria. Sekarang banyak orang yang menaruh harapan besar kepadanya, dan ia belum tahu apa yang sebenarnya harus ia hadapi.
          Sesaat kemudian, Alvin masuk dan duduk disisi ranjang Ray.
“ia anak yang sangat kuat. Ia akan segera pulih, Shilla.”
          Shilla masih membelai rambut Ray dengan lembut. Sorot matanya menunjukkan bahwa ia belum merelakan Ray menjadi sesuatu yang sangat tidak ia inginkan. Namun, dalam benaknya ia sangat bangga kepada anaknya. Usianya baru dua puluh tahun, tapi sudah terpilih menjadi Cardan. Sebenarnya, ia sudah tahu bahwa anaknya akan menjadi seseorang yang sangat special karena saat ia lahir, cahaya bintang Sanggu sangat terang dan mengalahkan cahaya dua bintang lain. Joan dan colt hampir tidak terlihat. Tubuh ray diselimuti cahaya merah dan beberapa peramal datang untuk memberi bayi kecilnya penghormatan. Bahkan, waktu itu Gabriel dan Sivia langsung mencium Ray. “inilah anak dari pahlawan kita!” sambut mereka.
***
          Shilla berdiri disisi tebing disekitar kamp, memandang hutan Dio yang terlihat jelas dari sana. Pikirannya tertuju ke ayah dan suaminya. Apakah ini takdirku? Pikirnya sambil memandang langit. Kerudung ungunya hampir terbang tertiup angin. Sudah sekitar setengah jam ia berada disana, dan ia sempat meneteskan air mata. Matanya tertutup ketika angin dingin datang bertiup ke wajahnya. Aku bangga kepada mereka semua, pikirnya.
          Tak lama kemudian permaisuri Sivia menghampirinya, berdiri disamping kanan dan menggenggam tangannya. Rambut panjangnya terurai bergelombang tertiup angin. Wajahnya yang putih terangkat menghadap angkasa. “ia dapat mengalahkan mereka,” ujarnya pendek pada Shilla.
          Shilla menyentuh liontin pernikahannya. “Ray,” gumamnya pelan. “dua lelaki yang sangat kucintai.”
          Mendengar itu, Sivia menoleh dan menatap lembut. “ya, Ray. Dua lelaki yang pernah dan sedang sangat dibutuhkan Garinka.” Ia menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutup wajahnya karena tertiup angin. “anakmu akan baik-baik saja. Benakku mengatakan jalannya masih panjang. Jadi, kau tidak perlu khawatir kehilangannya.”
“aku sudah pernah merasakan kehilangan,” jawab Shilla pendek. “kini, ia bukan milikku seorang. Tapi milik seluruh negeri.”
          Sang permaisuri semakin erat menggenggam tangan pelayan sekaligus sahabatnya itu. Ia tidak ingin lagi mengeluarkan kata-kata. Shilla butuh ketenangan. Ia akan hanya berada disisinya, menemaninya memandang langit dan merasakan angin siang itu.

Cardan Part 10

Siang ini, Deva ditugaskan Alvin untuk menangkap seekor hewan dipedalaman hutan. Menangkap hewan yang mempunyai kekuatan tempur bukanlah tugas ringan.
          Deva menjelaskan rencananya kepada anggota tim. Terdiri dari Ray, Gita, dan dua orang pemuda pilihan Alvin: Nico dan Edgar. Ray menggantikan Cakka yang hingga kini belum kembali, sejak pertarungan malam itu. Ray dipersilakan membawa pedangnya kembali. Mereka harus pergi kedalam gua yang menurut perkiraan Deva adalah tempat tinggal hewan tersebut.
          Setelah kurang lebih setengah jam Deva mempersiapkan timnya, mereka berangkat dari kamp pelatihan. Berjalan menyusuri jalan setapak hutan, Deva berada paling depan dengan membawa barang kesayangannya, yang sudah tampak hitam dan berkarat, namun uniknya masih bisa memotong dan membabat batang-batang pohon yang menghalangi jalan mereka. Gita berjalan dibelakangnya, kemudian Ray, lalu Edgar. Nico terbang diatas mereka. Perjalanan panjang yang cukup melelahkan, karena mereka harus melewati beberapa bukit.
***
          Deva dan regunya menunggu hewan itu diluar gua, dibalik batu besar. Ketika menit-menit berlalu, hewan itu tidak juga muncul, ia menyuruh regunya beristirahat sebentar. Untunglah, ia seorang pencari jejak yang handal, ia menggengam tanah lalu mengendusnya. Insting yang sudah membantunya selama bertahun-tahun kini memberitahunya bahwa hewan ini ada di sekitar mereka dan sedang mengawasinya.
          Dengan cermat Deva mengamati semua sela yang dapat membantunya menemukan hewan tersebut. Seekor anjing hitam besar, kutipnya dalam hati sebagaimana perkataan Alvin. Ia berjalan sendiri mengitari tempat tersebut, memeriksa semua kotoran, tetesan air, bahkan setiap batang pohon yang patah.
          Beberapa bulan lalu ia berhasil menemukan dan menangkap Warcliff dan sukses melatihnya menjadi seekor hewan tempur. Kali ini ia pun berharap demikian. Namun sepertinya ia harus menunggu beberapa jam lagi untuk menemukan hewan ini. Ia melihat jejak yang tampak baru saja ditinggalkan, jejak menjauh dari gua. Mungkin ia pergi umtuk minum atau mencari makan, pikirnya sambil menuju regunya yang sedang beristirahat.
          Ray tidak keberatan memakai waktu istirahatnya untuk memijat pergelangan kaki kiri Gita yang tadi sempat terkilir ketika meniti bebatuan di pinggir sungai. Ia melepaskan sepatu kulit Gita yang tingginya selutut. Walaupun mempunyai kekuatan menyembuhkan, Gita tidak dapat menyembuhkan dirinya sendiri. Kakinya terkilir.
          Selama satu jam mereka menunggu hewan itu muncul dan kembali kesarangnya. Sekarang sudah pukul lima sore, Deva tahu bahwa akan semakin sulit menangkapnya bila matahari sudah tenggelam. Hewan ini mungkin mempunyai penglihatan lebih tajam dari mereka semua pada malam hari. Deva masih berdiri menatap matahari yang sebenatar lagi akan menghilang.
          Tiba-tiba terdengar suara dari sela-sela rerumputan. Deva mengisyaratkan regunya untuk bersiap dan berjaga. Dengan langkah kaki ringan, Deva mendekatisumber suara tadi. Ia berjalan perlahan dan nyaris tak bersuara, jarak antara dirinya dan sumber suara tadi kini tinggal selangkah lagi. Kedua matanya tetap sigap melihat setiap gerakan. Kemudian ia melompat ke atas reruputan tadi.
          Regunya yang dari tadi hanya memerhatikan, mulai gusar karena Deva tak lagi terlihat oleh mereka. Mereka berempat berjalan mendekat, hampir sama dengan cara Deva tadi, mencari tahu apa yang terjadi dengan Deva. Namun, beberapa detik kemudian, Deva berdiri dan tangannya sudah ada seekor anak tupai. Keempatnya bersamaan menghela napas lega melihatnya.
“hanya seekor anak tupai yang jatuh”
          Deva tersenyum sambil membelai-belai anak tupai tersebut.
“Nico, coba kau terbang dan cari jejak hewan itu!”
          Mendengar perintah dari gurunya, Nico bersiap terbang. Seperti biasa ia memulainya dengan menghentakan kakinya, kemudian mendorongnya ke udara. Tapi belum sampai dua meter ia terbang, seekor hewan besar berwarna hitam menerkamnya dari balik semak dibelakangnya. Deva ternganga melihat hewan besar yang tenyata seekor anjing yang sangat besar. Tingginya dua kali lipat tinggi Deva. Wajahnya bengis, matanya bulat hitam menyorot tajam. Hidungnya pesek dan berair. Pipinya jatuh karena kulitnya yang kendur, sangat menakutkan bila ia terlihat menggeram, menunjukkan gigi-giginya yang mengilat. Hewan itu menggigit tangan kanan Nico dan membanting-bantingnya ke tanah. Keempat kakinya berdiri kokoh.
          Deva langsung melentingkan badan, melompat ke punggung  anjing itu dan menggenggam erat kedua telinganya. Deva menarik-narik kedua telinganya untuk mengalihkan perhatian. Tapa komando, Ray dan Edgar memukul-mukul kedua kaki depan anjing tersebut. Ray yang kiri dan Edgar yang kanan. Gita melemparkan bola apinya pada wajah anjing tersebut.
“tembak matanya!!” seru Deva kepada Gita
          Gita berkonsentrasi untuk melepaskan bola apinya. Ia membuka tangan kanannya, seperti sedang menggengam sesuatu, beberapa saat kemudian sebuah bulatan api berwarna biru tercipta genggamannya. Ia melemparkannya, tepat mengenai mata anjing tersebut. Anjing itu melepaskan gigitannya dan melolong kesakitan. Badannya meronta. Deva melompat dari punggungnya, kemudian Ray dan Edgar berlari, lalu berdiri disebelahnya. Gita menyeret tubuh Nico menjauhi anjing itu dan mencoba memulihkan lukanya.
          Anjing itu marah. Berdiri berhadapan dengan Ray, Deva, dan Edgar. Ia menyeringai, menunjukkan giginya yang rapi dan tampak tajam untuk mengoyak daging. Mereka bertiga menggenggam erat senjata masing-masing, bersiap memulai pertarungan.
          Deva berlari, kemudian melompat dan berhasil menampar wajah anjing tersebut dengan sisi parangnya, lalu berpijak ke dahinya, kemudian kembali melompat ke tanah. Ray dan Edgar mengepung hewan ini dari dua sisi. Mereka harus menangkapnya hidup-hidup, sehingga mereka harus berhati-hati melumpuhkannya. Jangan sampai serangan mereka membunuh anjing tersebut.
          Ray bersiap menyerang bagian perut anjing, namun belum sampai memukul, anjing ini mengelak, kemudian menginjak dada Ray dengan kaki kanan depannya. Ray memukul-mukul telapak kaki yang sekarang menekan dadanya keras sekali, kuku-kukunya merobek baju Ray dan menggore kulitnya.
          Edgar mencoba mengalihkan perhatian anjing itu dengan cara melempar cakramnya, mengenai wajah anjing tersebut. Namun cakram terlempar begitu saja ketika mengenai sasaran, sama sekati tidak memberi efek apapun pada makhluk itu. Anjing itu membalas, menendang Edgar dengan kaki kiri depannya. Dan saat anjing itu akan menggigit tubuh Edgar, Deva menyelanya dengan naik kembali ke tubuh hewan itu dan menusuk-nusukkan mata tumpul parangnya ke lehernya. Anjing besar tersebut membalikkan wajahnya lalu menatap Deva. Deva berjalan mundur perlahan, anjing itu mengikutinya berjalan maju dengan tempo yang sama. Ini adalah seekor monster, pikirnya sambil merangkak menjauh.
          Tanpa sepengetahuan anjing ini, Deva menempatkan tangan kanan pada punggungnya. Jarinya memberi isyarat pada Gita yang berada dibelakangnya. Tak lama, tangan kanannya mengepal dan Deva melompat tinggi. Dalam waktu bersamaan, Gita mengarahkan kedua tangannya kearah anjing tersebut, berusaha menghentikan pergerakan hewa besar ini, sama seperti saat ia menghentikan Ray pada saat bertanding di kamp. Lalu Deva melesat dari udara dan memukulkan gagang parangnya ke ubun-ubun anjing hitam itu. Membuatnya lunglai dan badannya yang besar jatuh ketanah. Deva berhasil membuat anjing tersebut tak sadarkan diri kemudian ia menyuruh Gita membakar suar untuk memberi tanda kepada Alvin.
          Tak lama, asap biru muncul dari suar yang barusan dibakar Gita. Edgar memeriksa Ray yang belum bisa menggerakkan badannya. Luka cakaran di dadanya mengeluarkan darah yang terus mengucur. Edgar memintanya tetap tenang. Deva mendekati anjing itu. Ia tertarik dengan kalung yang melingkar dilehernya. Ia merabanya dan mengamati liontin yang tergantung. Chiby, mungkin ini namanya, pikirnya.
          Namun tiba-tiba anjing tersebut kembali membuka kedua matanya. Tatapannya tajam mengamati pria yang ada didepannya. Anjing tersebut perlahan kembali berdiri. Deva sama sekali tidak mengerti bagaimana makhluk hitam ini bisa bangkit lagi. Mata Deva melebar kaget, mulutnya menganga. Ia mencoba melangkah mundur dan anjing tersebut melangkah maju dengan hidung hitamnya yang tepat didepan muka Deva.
“oh, sialan,” gumam Deva pelan.
          Langkahnya terhenti saat kakinya terantuk sebuah batu. Gita dan Edgar yang tenaganya sudah terkuras habis tak dapat berbuat apa-apa melihat gurunya tersudut.
***
          Meditasi Cakka tak tenang, penuh pikiran yang menganggu. Ia masih tak dapat melupakan wajah Ray dari benaknya, dua kekalahannya masih berbekas. Tubuhnya tegak, kedua tangannya merentang datar, kuda-kudanya kokoh, dan ia memejamkan matanya untuk bermeditasi.
          Sudah dua jam ia mencoba tapi selalu oleh rasa kesalnya. Ia mengembuskan napas pendekdan membuka matanya. Ia melihat Alvin duduk santai dibawah pohon rindang tepat dihadapannya.
“apa yang kau lakukan disini?” tanyanya sambil menghampiri Alvin lalu duduk disebelahnya.
“aku ingin tahu keadaanmu.” Alvin tersenyum. “mengapa kau tidak melanjutkan meditasimu?”
          Cakka diam. Kemudian ia memetik sehelai rumput dan menggigitnya. “aku kesal pada diriku sendiri. Kenapa aku bisa sangat mudah dikalahkan olehnya? Padahal belum ada orang seumuranku yang mampu mengalahkanku. Aku kecewa dengan diriku. Mengapa aku bukan seorang Cardan seperti dirinya?”
          Alvin tertawa. “kau harus mendengar ceritaku”
          Lalu ia menyandarkan kepalanya pada batang pohon dibelakangnya. “dulu waktu aku seumuranmu, aku diterima di akademi militer Stars. Aku berangkat dari desaku dengan kepala tegak penuh percaya diri, karena belum pernah ada didaerahku yang menang bertarung denganku. Jumlah siswa yang diterima waktu itu lima ratus orang, dan hanya setengahnya saja yang lulus dan menjadi pasukan muda Stars. Dan kau tahu? Aku mendaftar masuk di divisi bela diri bukan sihir.”
“benarkah?” kata Cakka, suaranya bernada kaku.
“ya, karena aku pemenang didaerahku, aku sangat percaya diri dengan ukuran tubuhku. Itupula yang membuatku yakin saat bertemu siswa lainnya. Aku adalah siswa yang bertubuh paling tinggi diangkatanku, dan dulu aku sukan mengejek dan megolok-olok Debo yang tingginya kurang lebih sepinggangku. Bukan dia saja yang kurendahkan, setiap siswa yang menurutku lemah pasti pernah merasakan ejekanku. Aku menjadi orang yang dibenci teman-teman seangkatanku. Dan mereka semakin menjauhiku ketika aku kalah dalam sebuah latih tanding.”
“aku ingin tahu siapa yang mengalahkanmu?” tanya Cakka sigap.
“Debo!” lalu Alvin tersenyum kecil.
“bayangkan...aku kalah telak oleh orang yang selalu kuejek dan yang tingginya hanya sepinggangku.”
          Cakka mulai mengerti maksud cerita Alvin, alisnya mengangkat sebelah dan memandang Alvin. “aku mulai tahu maksudmu. Tapi kasusku berbeda denganmu. Aku tidak kalah oleh teman seperguruanku yang telah berlatih bela diri lama. Aku kalah oleh seorang entah kenapa tiba-tiba mendapatkan sebuah kekuatan besar. Itu tidak adil bagiku.”
“kau salah! Ray tidak andal bertarung karena menjadi seorang Cardan. Ia telah bertahun-tahun menimba latihan bela diri yang aku yakin sangat keras. Aku tahu itu karena aku kenal guru yang telah mengajarinya selama ini,” jawab Alvin dengan intonasi tinggi. “gurunya adalah Duta. Ia adalah guru Debo dan Deva, bahkan beberapa jendral perang lain pun pernah menjadi muridnya. Dan kau tahu, ia adalah seorang pahlawan besar bagiku dan bagi rakyat Stars.”
          Cakka terkejut menyadari bahwa ia salah. Alvin berganti memandang Cakka. Ia tahu bahwa anak ini mempunyai harga diri yang sangat dijunjungnya dan perasaan yang sangat sensitif. Anak ini mungkin sangat ingin menjadi Cardan, pikir Alvin
“kau tahu, baru lima tahun lalu aku terpilih menjadi seorang Cardan. Dan sebagai tambahan, Deva bukanlah seorang Cardan tapi ia bisa terpilih menjadi seorang jendral.”
          Cakka ragu-ragu, lalu bertanya dengan nada rendah. “benarkah itu?”
“kau harus meyakinkan dan menunjukkan kemampuanmu kepada mereka yang dilangit sana bila kau ingin terpilih menjadi seorang Cardan. Menjadi Cardan bukan sekedar kemampuan fisik, tapi jiwamu juga menjadi pertimbangan. Bukan tentang apa yang kau dapatkan, tapi tentang apa yang bisa kau beriakan. Bukan tentang apa yang kau inginkan, tapi tentang apa yang kau butuhkan. Lagipula kau juga harus mengemban kewajiban yang sangat besar.” Alvin sebentar menghentikan perkataannya, memerhatikan Cakka yang tampak sangat menyesal.
“aku bangga padamu kemarin malam. Kau dapat megimbangi Cardan Murni, murid pahlawan Stars. Aku rasa keputusannya seri, kau tidak kalah dan juga tidak menang.”
          Pembicaraan mereka terhenti, Alvin berdiri ketika melihat gumpalan asap biru yang mengepul ke udara. Kemudian ia memberi tahu Cakka bahwa itu adalah tanda panggilan untuknya dari Deva. Lalu ia menceritakan tugas yang diberikannya pada Deva. Tak lama kemudian Alvin menghilang dari pandangan Cakka menuju asap tersebut.     
***
          Napas Deva mulai habis, keringat dinginnya menetes, dan matanya tampak layu. Berbeda dengan anjing hitam itu, bibirnya bergetar marah dan pandangannya tajam. Dengan napas tersengal-sengal, Deva mengumpulkan semua kekuatannya yang masih tersisa dan mengumpulkannya ditangan kanannya yang mengepal. Kepalanya diselimuti jilatan api berwarna hijau. Mendadak ia memukulkannya ke rahang anjing tersebut, tepat dihadapannya. Kejadian itu bertepatan degan datangnya Alvin yang langsung berteriak untuk mencegah Deva, tapi terlambat. Anjing tersebut terjatuh lalu tak sadarkan diri, tanah disekitarnya bergetar ketika badannya membentur tanah.
          Alvin berlari menuju anjing tersebut dan langsung memeriksanya. Timbul kekhawatiran pada pukulahyang dihempaskan Deva. Ia membutuhkan hewan ini hidup-hidup. Akhirnya, ia dapat bernapas lega ketika tangannya meraba leher hewan tersebut dan merasakan denyut nadinya. Raut kekesalan tampak pada wajahnya, tapi kembali surut ketika melihat keadaan Deva dan anggota regunya yang lain. Deva tampak kelelahan dan kehabisan tenaga, Gita sibuk menghentikan pendarahan pada tubuh Nico. Lalu Ray dan Edgar terkapar ditanahpenuh luka. Deva terpaksa memukulnya, gumam Alvin dalam hati.
          Ia melihat wajah-wajah kesakitan mereka sambil memegang tangan Ray dan Edgar. Dengan ilmu menghilangnya, ia membawa keduanya menuju tenda medis di kamp. Kemudian ia kembali membawa Deva dan Nico. Terakhir ia membawa makhluk besar itu dan Gita.
          Kekhawatirannya memuncak ketika para ahli medis dan penyihir ditenda medis sibuk mengerahkan seluruh upayanya untuk memulihkan keempatnya. Ini tugas yang sangat berbahaya, salah satu dari mereka bisa kehilangan nyawa. Tak lama Gita dapat menenangkannya, kemudian Gite menjelaskan dengan gerakan tangannya tentang seluruh kejadian tadi. Alvin mengerti semua yang diceritakan muridnya. Ia seharusnya ada disana atau menugaskan lebih banyak orang. Ini bukan makhluk biasa, ini mungkin makhluk terkuat yang pernah ditangkap. Padahal, regu yang tadi ditugaskannya terdiri dari orang-orang yang dapat dikatakan terkuat dikampnya.
          Namun Alvin senang, ia dapat melatih hewan itu menjadi hewan tempur yang sangat hebat. Ia mulai membayangkan hewan itu berada di garis depan pasukannya pada sebuah peperangan. Kemudian Gita, Ray, dan Cakka akan menjadi sebuah tim yang hebat bila sudah menemukan kekompakkannya. Kita akan menang!